Happy Birthdate to Me

 
Tanggal cantik di permulaan bulan Februari. Aku berulang tahun. Berharap tidak kembali ke masa lalu yang silam dan melupakan hal paling penting dalam hidup. SIM atau surat izin mengemudi. Justru tanpa sadar kulupakan pada tahun lalu. Sedangkan kini, aku sudah mempersiapkannya lebih awal. Tidak harus terikat dengan tanggal satu.
“Henny, peserta kita cuma satu orang saja. Enggak apa-apa itu?” Dalmi memberitahu. Kedua bola matanya masih memindai sosial media penaku dengan laptop yang ia miliki.
“Syukurlah walau hanya satu orang. Berarti hanya dia seorang pemenangnya. Walaupun sebenarnya tidaklah asyik.” Hanya saja, entah kenapa pemikiranku begitu primitif pada waktu itu. Apakah ini gagal? Tidak-tidak, tidak ada kegagalan yang sesuai dengan pekara ini.
Dalmi, salah satu sahabat penaku. Ia lebih banyak kesibukan sebenarnya. Kalau menyangkut prioritas, ia akan berusaha menyempatkan waktu untukku. Bahkan, ketika sudah memiliki calon suami yang sedang mengajak ta’aruf pun ia juga mengabari lebih dulu. “Pengumumannya besok ya? Eh, itu hari ulang tahunmu.”
“Hehe, iya nih Mi. Mau bagaimana lagi. Ah, entah kenapa aku memilih tanggal itu dalam mengadakan acara. Benar-benar menganggu hari spesialku saja,” protesku bermaksud pada diri. Rasanya sungguh tidak enak menimang tanggung jawab dan beban.
“Seenggaknya bisa dijadikan referensi untuk tahun depan. Bulan Februari ini asyik sebenarnya nih. Tanggal yang paling sedikit di antara bulan yang lainnya. Emang mau ngapain kalau enggak ada acara?”
“Yah, seenggaknya aku bisa tidur sepuasnya Mi. Paling tidak menonton drama kesukaanku. Pokoknya dibuat santailah.” Santai, itu pemikiranku yang paling relevan. Sedangkan pemikiran alam bawah sadar membujuk rayu mengadakan syukuran. Sedekah misalnya.
 Ia menutup laptop yang menyala. Tugasnya telah selesai dan jari jemari sigap menata barang di depan meja. “Oh, begitu ya. Aku enggak bisa kemari nih besok. Kalau ada waktu, ke tempatku ya Henny.”
“Ngapain?” tanyaku pura-pura tidak tahu. Aku tidak ingin merepotkan orang lain saja perihal hari spesialku. Misalnya mempersiapkan kado untukku. Alih-alih mereka yang berusaha untuk membahagiakanku, aku lebih bahagia lagi kalau membuat orang lain bahagia.
“Yah, main-main saja Henny.”
Aku yakin sekali. Dalmi hanya berusaha memanipulasi keadaan esok hari. Tetap saja, jiwa kepekaanku meronta. “Enggak bisa janji ya Mi.”
“Iya, aku paham,” jawabnya pasrah dan meletakkan laptop ke dalam tas. “Kalau begitu, aku pulang dulu ya.”
“Iya. Hati-hati ya Mi,” ucapku turut bangkit dan mengantarnya sampai di depan rumah. Gadis itu terlihat sangat sibuk hari ini. Pertemuan daringnya sudah terjadwal untuk akhir bulan ini. Belum lagi banyak deadline yang harus ia penuhi. Alasannya sungguh tidak relevan sekali jika aku harus main-main di rumahnya besok.
Sayang banget ya, besok itu hari senin. Cocoknya orang pada bekerja dengan semangat juang yang sudah terkumpul. Eh, aku malah ulang tahun. Ah, enggak apa-apalah. Setidaknya aku bisa puasa senin besok. Semoga saja bisa terpenuhi.
“Ngapain?” tanya Mama mengintimidasi sore ini.
Aku sedang menimbang bahan donat dengan sepenuh hati. Barangkali bisa kuberi pada Dalmi besok. Lumayan kan. Setidaknya ia bisa memakan kue buatanku. “Biasa Ma, buat donat.”
“Eh, ciye. Besok ulang tahun ya. Kubuatin bolu ya nanti malam,” tawar Fadila.
“Kalau mau buat, sekarang aja Dil. Biar nanti malam tinggal langsung makan.” Aku mencoba bernegosiasi. Membuat kue seperti ini bukannya sekali, dua kali. Kelamaan di proses lebih tepatnya.
“Nanti malam ajalah Kak.” Fadila masih tetap pada pendiriannya.
Baiklah, baik. Ini juga ulang tahunku. Bukan ulang tahunnya. Sudah sepantasnya aku mempersiapkan ini semua. Termasuk pengolahan yang penuh cinta.
Jam sudah menunjukkan hampir sepuluh malam. Donat yang kugoreng telah selesai. Ah, tubuhku sudah merasa kelelahan. Akhirnya aku baru menyadari bahwa keputusanku sungguh cetek. Tugas mengunjungi blog teman belum selesai.
Aku melihat komentar blogku yang sudah masuk ketika waktu hampir tengah malam.
            Wuah, selamat ya. Saya curi start dulu nih. Selamat ulang tahun ya Henny.
            Tersenyum, tentu saja. Ada sedikit kebahagiaan yang tersisip beriringan rasa takut. Takut mengenggam tanggung jawab di umur yang tidak lagi muda. Dua puluh tiga tahun. Kalau disuruh kerja, haruslah sudah siap. Apalagi menikah, eh. Umur saja yang tua, tetapi kesiapan dan kelayakan masih belum lagi. Bahkan hingga kini aku juga belum kunjung tamat kuliah.
            Pas bangetlah nih. Saya pun bacanya pas di jam 00.00 WIB
“Ho, ngantuk juga nih. Waktunya tidur. Lagian besok masih ada hal lain yang harus dikerjakan.” Laptop sudah ditutup sebagaimana mestinya, donat juga sudah di masukkan ke dalam kotak penyimpanan.
Bangun pagi dan jangan lupa mandi pagi. Aku ke dapur setelah itu dan berniat untuk memakan donat yang telah dibuat tadi malam. Lapar juga nih.
“Donatnya lembut nih, Ni.” Mamaku mengunyah donat pagi-pagi.
Tentu saja masih lembut, namanya juga baru dibuat sehari. Tiga hari kemudian baru keras. “Lah, mana semua nih donatnya?” Tersisa tinggal empat buat dari total dua puluh lima donat. Ngeri juga yang makan. Emang sih, di rumah ini ada lima orang. Itu sudah terhitung diriku.
“Eh, enggak jadi kubuat kuenya Kak. Ketiduran,” keluh Fadila.
Aku sudah memahami sejak awal, tidak mengapa. “Yaudah, sebagai gantinya hiasin donatnya ya.” Ingin gantian juga belajar daring pagi-pagi begini. Langkahku segera ke kamar dan membuka laptop.
Jempol kananku usil menekan aplikasi pesan berwarna hijau. Dalmi mengirimi sebuah video.
Jadi, gimana? Siapa yang lebih dulu mengucapkan selamat ultah.
Dia mengirimkannya sekitar aku bangun tidur tadi. Kira-kira jam lima pagi.  
Yang kedua sih. Hehe ,,,
“Maaf ya Dalmi. Aku enggak bisa berbohong nih,” ucapku seketika pada gawai. Jelas, tidak ada jawaban setelahnya.
“Nah Kak. Ini donat yang terakhir.” Fadila menyodorkan sebuah donat yang dihiasi namaku. Sungguh cantik.

“Lah, mana lagi yang lain?” Seingatku masih ada beberapa.
“Habis.”
Yah, bagaimana bisa kuberikan kepada Dalmi kali ini? Gagal deh kalau begitu. Benaran, aku enggak jadi ke rumahnya hari ini. Hari ini kutepati pula keputusan yang telah lampau. Mengirimkan hadiah bagi peserta yang memenangkan sebagai pengulas terbaik. Oh, donatku. Oh, kantongku kering kerontang. Oh, aku lupa puasa senin.
Selesai
Cerita ini adalah fiksi yang diikutsertakan dalam lomba Blog Menulis Fiksi "Ulang Tahun" yang diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Semarang Gandjel Rel 



Menggapai Tujuan dalam Perbedaan

 Mengingat sebuah perbedaan di antara manusia. Barangkali berupa ras, suku, dan agama. Namun jika menyelisik dari satu tujuan. Perbedaan tidaklah menjadi penghalang. 

Ah, ingatan itu terlintas pada kenangan bersama dengan mereka. Ya, pertemanan saya di perkuliahan dan berujung pada sebuah kerja sama yang berujung pada kedekatan dan mengharumkan nama kampus. 

Ini kisah akhir tahun 2018 yang silam. Sudah lama ya? Namun ingatan itu seolah masih dekat. Kebetulan saya yang merupakan seorang muslim menjadi satu kelompok dengan non muslim. Kalau tentang suku, jelas juga berbeda. Bahasa Indonesia yang mempersatukan dan mudah dimengerti. 

Hal yang paling menarik dalam sebuah perbedaan adalah perbedaan pengalaman. Beda tempat, beda pula logat. Selagi itu masih baik, hidup akan tetap aman-aman saja. Saya punya sahabat, ia bermarga Purba. Kebetulan menjadi orang paling berpengaruh dalam kelompok saya.  Ialah yang mengajak saya menyelusuri perjalanan hidup di luar zona rebahan. 

Tentu saja, namanya juga perjuangan. Jelas tidak digapai dengan tenang-tenang saja. Menarik sekali, rasanya seperti melihat petualangan yang seru. 

Ide ini sebenarnya berasal dari teman saya yang muslim. Kemudian ia mendiskusikannya dengan Purba dan akhirnya merekrut anggota. Termasuk saya. Ya, saya berada dalam lingkaran mereka dan melakukan banyak hal dalam waktu yang singkat. 

"Eh, kita ada inovasi baru nih. Biasalah, menggunakan sesuatu yang terbuang dan menghasilkan sesuatu bermanfaat." Kira-kira begitulah topik yang sedang kami kerjakan. Kami menyebutnya dengan MAKUGA. Ya, kalau diperpanjang dalam bahasa Inggris lumayan bisa membuat lupa. Namun arti dari inovasi itu adalah membuat masker gel dari kulit buah naga yang terbuang. 

"Oh, no! Oh, no!" Mungkin itu soundtrack yang sesuai untuk generasi milenial sekarang jika menyaksikan prosesnya. Mulai dari pengumpulan bahan hingga proses pembuatannya. Ya, saya harus melewati rasa malu ketika meminta kulit buah naga kepada penjual buah berkeliling sekitaran rumah. Kemudian membuat maskernya juga di kampus yang berbeda. Kebetulan di kampus saya sendiri tidak memiliki fasilitas yang memadai. Maka kami pun ke kampus lain. 

Setelah selesai membuat produk tersebut. Kami pun segera meluncur ke kota Bali. Wuah, sungguh tidak disangka-sangka pada waktu itu. Mulai saja dulu dan kami pun bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Bahkan dari negara yang berbeda. Kalau yang sejauh ini saya rasakan keseruannya adalah selama berada di sana. Saya lebih mengenal mereka dan saling menghargai. 

"Baiklah, sebelum memulai. Marilah kita berdoa sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing." Begitulah yang selalu diucapkan ketika kami hendak memulai langkah maupun hendak makan. Mereka pun juga pengertian dan kami saling menghargai satu sama lain. 

Nah, ada lagi yang paling menarik dari tempat yang kami datangi. Logat bahasa Bali, rasanya adem dan santun. Sedangkan orang Medan sendiri pada tahulah gimana logatnya juga berbeda. Hal yang saya pelajari adalah makna dari itu semua. Tetap sama kok. Sama-sama memiliki maksud yang baik. Hanya penyampaiannya berbeda. 

Ada beberapa hal yang bisa pelajari dari merawat kebersamaan, toleransi, dan keberagaman melalui pengalaman berharga itu. 

1. Tidak memandang mereka berbeda

Ya, sama saja. Mereka juga sama-sama manusia seperti saya dan memiliki tujuan positif yang sama pula perihal pemikiran. Ini lebih menarik. Sebab konteksnya berdasarkan hati dan ketulusan dalam berteman. 

2. Saling menghargai keyakinan masing-masing

Saling pengertian dan memberikan waktu salat kepada saya yang kebetulan saya merupakan seorang muslim. Begitu juga dengan mereka yang kadang juga mengingatkan. 

3. Saling mendukung perihal tujuan 

Asyiknya ketika memiliki tim adalah dukungan kuat. Saling menyemangati satu sama lain. Tujuan kami sama. Sama-sama ingin mempresentasikan yang terbaik di hadapan para juri. 

sebelum presentasi, cekrek dulu. 

Tak disangka, kami pun meraih mendali emas pada waktu itu. Saya sungguh tidak percaya, tetapi benar-benar nyata. Rasanya terharu dan tidak bisa mengatakan apa-apa. 

Inilah cara saya untuk merawat kebersamaan, toleransi, dan keberagaman. Bagaimana cara kamu? Kabarkan/sebarkan pesan baik untuk MERAWAT kebersamaan, toleransi, dan keberagaman kamu dengan mengikuti lomba "Indonesia Baik" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini

Kaleidoskop Diary Harumpuspita 2020

Memulai suatu perkara, tampaknya yang paling sulit adalah mengumpulkan niat kemudian menjadikannya sebuah aksi.

Siapa sih yang tidak asing lagi dengan istilah kaleidoskop? Biasanya sih sering diperbincangkan di awal dan di akhir tahun. 

Saya pun dulu juga bertanya-tanya perihal ini dulunya. Apa sih? Kok sepertinya enggak asing. Eh, ternyata kaleidoskop ini memiliki dua pengertian. 

Menurut konsep fisikanya, kaleidoskop merupakan alat optik yang terbuat dari beberapa cermin yang dibentuk dengan sudut kemiringan tertentu sehingga menghasilkan pantulan sinar yang indah. Sedangkan menurut KBBI sendiri, kaleidoskop merupakan aneka peristiwa yang terjadi pada tahun lalu kemudian disajikan secara singkat. 

Ah, menarik sekali bukan? Sama-sama menyampaikan sebuah pesan tentang apa yang terjadi di waktu dan tempat sebelumnya. 

Nah, pada kesempatan kali ini saya ingin berbincang sedikit pasal kaleidoskop Diary Harumpuspita sendiri. Wow, lebih spesifik dan terarah. Semoga saja enggak kebablasan menuliskan kaleidoskop sendiri. Kebanyakan soalnya, satu novel yang setebal 200 halaman pun enggak cukup ditulis. 

Mari kita lanjut. 

1 Februari 2020

Hari bersejarah saya cuy. Pemilihan hari ulang tahun sendiri supaya enggak lupa. Itu sih kata teman saya yang juga merupakan selaku blogger juga. Nyatanya, pada hari itu saya harus mengorbankan sesuatu yang paling terpenting dalam keberlangsungan perjalanan. Lupa perpanjang SIM karena asyik menguruskan mengganti domain yang sebelumnya diaryharumpuspita.blogspot.com menjadi diaryharumpuspita.com. "Keren nih," pujuk hati ini berulang kali pada waktu itu seraya memantapkan diri. 

Suatu putusan yang saya kira akan menjadi sebuah amunisi dalam berkarya dan terus menggali kreativitas maupun pengetahuan. Nyatanya, saya juga kehilangan kesempatan untuk mendapatkan monestisasi dari Adsense. Dah, auto galau juga deh. Kebahagian yang dibayar dengan mengorbankan kebahagiaan yang lain. 

Hm, ya sudahlah. Apa lagi yang hendak dikata. Mana mungkin meraung di tengah jalan karena ini semua. Padahal ini semua berasal dari ketidakmawasan diri saya sendiri dalam memperhitungkan jangka panjang dan mengingat hal terpenting. 

Pemilihan domain baru pun juga bukanlah asal-asalan. Ya, walaupun pada waktu itu saya belum tahu arah dan tujuannya ke mana. Setidaknya alamat blog ngetop yang sekarang ini bagi saya merupakan suatu hal gambaran keluarga. Hal ini pun tertuang dalam Harapan di Hari Blogger Nasional 2020.

Kalau sekarang ini, tentunya sudah belajar dong. Belajar dari kegagalan dan saya usahakan untuk tidak berada lagi di lingkaran yang sama. Weseh, mode auto sok bijak nih. 

1 September 2020

Ini sungguh tidak terduga. Akhirnya keterbatasan saya selama ini yang selalu bertemankan laptop lemotnya minta ampun segera mereda. Alhamdulillah, Ayah saya memberikan saya sebuah ponsel Galaxy A11. Saya pun auto enggak perlu lagi menangis dan merengek meminjam smarthphone kepada adik saya. Syukur tak terkira dan rasanya sungguh terharu. 

the name of my smarthphone is 'My Baby'

Ponsel inilah yang saat ini pun menemani saya mengerjakan skripsi dan mengerjakan apa saja deh. Fasilitas ini sungguh sangat membantu. Meskipun awalnya saya sungguh kebingungan mengalokasikannya untuk apa saja dan beradaptasi. Akhirnya bisa juga membuat batasan mana saja yang harus ditelusuri dan tidak. 

"Kalau begini, kesempatan berkarir menjadi konten kreator berpeluang pesat dong," pikir saya pada waktu itu sebelum menjalaninya. Setelah dilalui ternyata perjalanannya sungguh panjang. 

Oktober 2020

Sebuah keputusan bulat pun telah saya tetapkan mau dibawa ke mana arah tujuan blog ini. Ya, begitulah, dulunya saya bingung mau ngapain aja. Bahkan rencananya sih gado-gado malah. Hmm, ya acak adul dong. Tidak tahu mau ke mana arah dan tujuannya. Ujung-ujungnya konten curhat mulu. Yah, mana berfaedah dong. Pembaca kan ingin datang untuk mencari informasi, bukan untuk mendengarkan keluh kesah saya. #plak. 

Mulai deh saya merancang untuk menuliskan artikel minimal tujuh ratus kata sekali update. Awalnya tuh sungguh bingung. Setelah dijalani malah sungguh asyik dan bahkan menuliskannya lebih dari 700 kata. Ide itu sering terlintas ketika dipertengahan jalan. 

Oh, iya. Kembali ke tujuan blog ini. Sudah saya cantumkan kok di bio atas. Jadi pembaca enggak bingung tuh, blog ini akan membahas apa saja. Eh, saya kok malah pengen ikutan ingin travelling nih di kemudian hari. Cuma belum ketemu aja gitu partner yang cocok buat travelling dan ngonten bareng. Hm ...

Okey, skip. Lanjut ke pembahasan selanjutnya. 

Desember 2020

Nah di bulan ini saya mulai mengevaluasi blog. Ternyata memiliki tiga peningkatan artikel doang dari tahun sebelumnya. Wew, padahal lebih banyak di rumah loh. Seharusnya lebih banyak waktu luang di rumah buat nulis. Malah enggak ada efeknya sama sekali. Secara gitu, kita kan pada diterpa pandemi Covid. "Pasti ada yang salah nih," logika saya berusaha menimbang. 

Ya, jiwa saya pun turun bertumbang pada waktu itu. Seolah terperangkap dalam belenggu dan tidak bisa melakukan apa-apa. Ini sungguh miris sekali. Bahkan saya pun sempat berniat untuk mengakhiri hidup pada waktu itu. Astaghfirullah ...  Tenang, enggak begitu ekstrim kok. Saya cuma kepikiran untuk tidur terus dan berharap enggak akan bangun lagi. Eh, ternyata bangun lagi. 

Ada kalanya malam akan berganti siang. Sedangkan kepayahan dan kesusahan itu akan berganti dengan kebahagiaan dan ketenangan suatu hari nanti. 

Kilas balik perjalanan Diary Harumpuspita mungkin hanya itu saja yang bisa saya rangkum. Tidak terasa ya umurnya sudah mulai satu tahun saja. Rencananya sih ingin diperpanjang pas di tanggal 1 bulan depan. Namun setelah dipikir-pikir lagi enggak jadi deh. 

Hari ulang tahun tuh lebih serunya untuk santai-santai tanpa ada gangguan bagi saya. Bukan sibuk sana-sini yang membuat hati runyam tidak karuan sampai melupakan hal terpenting.

Oh. iya. Kalau tentang perkembangan artikelnya sendiri sih hanya meningkat 3 artikel saja dari tahun sebelumnya. Harapannya sih ke depannya bisa jauh lebih baik lagi. 

Oke, itu sajalah. Kira-kira artikel ini kurang panjang enggak ya? 

Mana tahu kan ada yang kangen dengan tulisan saya. #plak. 


Laptop Impian ASUS VivoBook 14 (A416)

Sekali nyebur tenggelamlah. Kemudian berenang dan kembali dalam keadaan sehat dan bergembira.

Mimpi? Aku pun pernah bermimpi memiliki laptop canggih merek ASUS yang akan melancarkan kegiatanku selama pembelajaran di kampus, skripsian, dan prosesku menjadi seorang blogger yang professional.

Pasalnya, laptop ASUS ini pernah kupinjam dari temanku selama dua hari saat laptop kecilku bermasalah dan mau tidak mau masuk rumah sakit (tempat service laptop). Sejak saat itu, aku membuat daftar keinginan suatu hari nanti jika mengganti laptop yang baru harus ASUS. Ah, inilah yang kunamakan jatuh cinta setelah bersama.

Keinginan bisa saja melambung tinggi. Namun kemampuan finansial dan mempertimbangkan berbagai aspek yang menjadi penentu. Aku pernah menangis dan merengek hanya meminta izin untuk membeli laptop ASUS secara mencicil kepada Mamaku. Sayangnya, itu tidak membuahkan hasil sama sekali selain membuatku menjadi orang yang menyedihkan dan dilihati para tetangga sangking murkanya Mama.

Tak berapa lama setelah kejadian itu. Beberapa minggu ke depannya. Aku mendapatkan uang dari beasiswa pertamaku selama kuliah di semester 7. Kuputuskan untuk membeli laptop. Namun tidak cukup untuk membeli laptop yang kuimpikan. Setelah menimbang lebih lanjut. Aku pun membeli laptop dengan keadaan setengah pakai dengan harga 2,3 juta sembari berharap laptop itu akan membantu melancarkan skripsiku.

Awal mulanya aku merasakan laptop yang baru kubeli itu berjalan dengan baik. Setelah bersama beberapa bulan ke depannya baru kusadari kondisinya tidak begitu baik sesuai dengan perkiraanku. Kutemukan lagi banyak masalah dan harus kubawakan lagi ke rumah sakit khusus laptop untuk diinstal ulang. Eh, begitu terus hingga aku bosan dan terhambat lagi mengerjakan skripsi.

Keterbatasan? Itulah yang membuatku terperangkap dan masih berputar di lingkaran itu saat ini. Berharap suatu hari nanti akan terlewati dan kutemukan jalan untuk bebas.

Pada kesempatan kali ini. Aku ingin bercerita tentang laptop ASUS impianku dan menelusurinya secara terperinci. Halu be real, boleh kan?

ASUS VivoBook 14 (A416)

Pada tanggal 18 Desember 2020, ASUS memperkenalkan VivoBook14 (A416) yang merupakan sebuah laptop yang bisa digunakan oleh semua kalangan. Laptop ini juga merupakan salah satu all-round  paling ringkas di dunia dengan ditenagai oleh prosesor hingga 10th Gen Intel Core. GPU NVIDIA GeForce, serta hadir dengan Office Pre-Installed.

Jimmy Lin yang merupakan ASUS Regional Director Southeast Asia mengatakan bahwa Asus selalu berkomitmen untuk menghadirkan perangkat dengan kualitas tinggi sehingga penggunanya dapat mendapatkan pengalaman pengunaan terbaik.

Nah, pada penasaran kan dengan ASUS VivoBook 14 (A416) ini. Langsung saja yuk kita telusuri secara langsung.

Auto Ringan dan Mudah dibawa ke Mana-Mana

Hal yang pertama sekali terlintas dalam pemikiranku ketika mendengar kata 'VivoBook' adalah 'ringan'. Pasalnya ASUS VivoBook 14 (A416) ini memiliki berat hanya 1,6 kilogram dan ketebalannya 19.9 mm. Wow, ringan dan tipis. Tidak perlu ragu untuk membawanya ke mana-mana. 19.9 mm yang apabila dikonversikan ke dalam cm hanya berkisar 1.99 cm saja. Sedikit lagi mendekati 2 cm. Selain itu, chargernya juga simpel dan ringan. Jadi mudah dimasukkan ke dalam tas tanpa khawatir kabelnya melilit. Enggak berat cuy. Seperti beban hidup selama ini.

Apa sih yang membuat ASUS VivoBook 14 (A416) ini memiliki body  yang ringa dibandingkan dengan loptop 14 inchi pada umumnya?

Rahasianya adalah berkat teknologi NanoEdge Display yang memungkinkan bezel layar pada VivoBook 14 (A416) bisa tampil sangat tipis, sehingga laptop ini bisa memiliki screen-to-body ratio hingga 82%. Gimana, keren kan?

Tak hanya itu saja loh. VivoBook 14 (A416) telah dibekali dengan layar yang beresolusi hingga Full HD. Sehingga layar tersebut sangat cocok digunakan untuk bekerja maupun menikmati konten multimedia yang sudah  dilapisi anti-silau (anti-glare) dengan sudut pandang hingga 178 derajat.

Penggunaan Praktis

ASUS VivoBook 14 (A416) juga dibekali keyboard full-size  yang telah dilengkapi backlit, sehingga membuat laptop ini bisa digunakan dalam kondisi gelap. So, enggak perlu repot lagi untuk mencari penerangan di kala sedang gelap. Apalagi mencari huruf yang ingin diketik. Fitur ini sangat membantu deh. Keyboard VivoBook 14 (A416) ini juga didesain secara ergonomis yang berarti mampu memberikan kenyamanan sepanjang perjalanan dan lebih kokoh. Setiap tombol keyboard-nya memiliki key travel  sejauh 1,4 mm yang sangat ideal untuk mengetik.

Beberapa varian VivoBook 14 (A416) juga telah dilengkapi dengan keamanan biometrik melalui fingerprint sensor. Fitur yang biasanya terdapat di laptop kelas premium ini. Sehingga memungkinkan para pengguna bisa masuk ke dalam sistem Windowa 10 Home melalui Windows Hello tanpa perlu lagi mengetikkan password.

Bisa Tetap Eksis dengan Kamera

VivoBook 14 (A416) ini dibekali dengan satu kamera, sehingga laptop ini bisa diandalkan sebagai perangkat untuk bekerja atau belajar dari rumah. Penggunanya tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli software office karena sudah dilengkapi dengan Microsoft Office Pre-Installed. Tuh, enggak tanggung-tanggung kan bonusnya. Microsoft Office Home & Student 2019 juga dapat terus di-update sehingga penggunannya dapat terbebas dari ancaman celah keamanan dan malware. Fitur ini tersedia secara cuma-cuma atau tanpa biaya tambahan.

Fitur Pendukung yang Oke Banget

ASUS VivoBook 14 (A416) juga dibekali dengan serangkaian fitur konektivitas yang canggih. Mulai dari port USB Type-C, HDMI, serta combo audio jack untuk memenuhi kebutuhan konektivitas sehari-hari. Sementara untuk sisi konektivitas nirkabelnya dibekali dengan WiFi 5 (802. 11 ac) untuk terhubung dengan internet serta Bluetooth 4.1. Benar-benar mantap banget deh. Kecepatannya juga lumayan, dijamin kegiatan pembelajaran dan pekerjaan auto lancar.

Namun tidak hanya itu saja ternyata. ASUS VivoBook 14 (A416) juga memiliki konstruksi yang tangguh. Berbagai bagian pada laptop ini, seperti pada chasis utama dan rangka layar terbuat dari logam. Sehingga memperkuat keseluruhan konstruksi bodinya. Laptop ini juga diberikan perlindungan yang ekstra untuk HDD bernama E-A-R HDD Protection. Perlindungan tersebut dapat menyerap getaran yang dihasilkan saat perangkat terguncang dan pastinya bisa menyelamatkan HDD yang ada di dalamnya. Jadi, enggak perlu khawatir kalau HDDnya bakalan rusak.

Bisa diajak Multitasking dengan Performa Lebih Kencang dan Gesit

Ini nih yang selalu ditunggu-tunggu ketika punya laptop dengan kondisi lancar banget. ASUS VivoBook 14 (A416) ini ditenagai oleh procesor hinggga 10th Gen Intel Core. Varian tertingginya hadir dengan prosesor intel Core i5-1035G1 yang memiliki konfigurasi 4 core dan 8 thread, serta boost clock hingga 3,6GHz. Sehingga membuat laptop ini bisa diajak untuk bekerja, berselancar di internet, dan menikmati multimedia tanpa perlu takut terganggu.

Beberapa varian VivoBook 14 (A416) ditenagai oleh chip gafis NVIDIA GeForce MX330 untuk pengguna yang membutuhkan performa gafis ektra. Sehingga laptop ini memungkinkan untuk menjalankan aplikasi bagi yang suka dengan kegiatan aplikasi photo editing, video editing, hingga game kasual.

Penyimpanan Data Sesuai Standar Modern

VivoBook 14 (A416) memang dibuat untuk memenuhi kebutuhan semua kalangan. Laptop ini telah menggunakan memori DDR4 yang merupakan standar laptop modern dengan kapasitas yang dapat di-upgate hingga 12 GB. Wow, kentang banget deh rasanya. Sementara untuk penyimpanannya, ASUS VivoBook 14 (A416) mengandalkan dua jenis penyimpanan yaitu 2.5" SATA dan M.2 PCIe. Tergantung konfigurasinya, kita bisa menyematkan SSD dam HDD ke dalam laptop ini.

MyASUS Memudahkan Para Penggunanya

Kelebihan lain dari ASUS 14 (A416) adalah adanya sebuah aplikasi bawaan yang merupakan pusat kontrol untuk laptop. Melalui MyASUS, para penggunanya bisa memantau status laptopnya sekaligus melakukan troubleshooting. Itu berarti penggunanya dapat memindai sistem laptop, menemukan masalah, dan memperbaikinya secara otomatis. Selain itu MyASUS juga memperlihatkan status garansi perangkat serta fasilitias untuk menghubungi layanan konsumen ASUS.

Nah, yang lebih menarik lagi adalah fitur bernama Link to MyASUS sehingga penggunanya bisa menghubungkan smarthphone-nya dengan laptop supaya dapat beraktivitas secara lebih produktif. Fungsi dari Link to MyASUS adalah menampilkan pesan dan notifikasi dari smarthphone  ke layar laptop, bisa melakukan panggilan telepon langsung dari laptop, hingga membuat smarthphone menjadi layar kedua untuk laptop. Selain itu juga menyediakan fasilitas  untuk berbagi file secara instan antara laptop denga smarthphone.

Gimana, benar-benar idaman banget kan?

Apa sih yang bakalan aku lakukan kalau punya laptop ini?

1. Mengadakan kegiatan lewat zoom

Aplikasi ini merupakan aplikasi yang paling wajib dimiliki oleh mahasiswa sepertiku. Sayang banget, laptopku yang sekarang ini enggak bisa digunakan untuk nge-zoom walaupun sudah diusahakan berulang kali. Makanya, motivasi punya ASUS VivoBook 14 (A146) adalah bisa mengadakan kegiatan seminar atau diskusi daring di kemudian hari.

2. Bakalan selalu dibawa ke mana-mana

Suka nulis dan berkreativitas dengan laptop itu aku banget. Enggak perlu khawatir lagi kalau punggung bakalan pegal linu jika dibawa ke mana-mana. Percaya diri pun semakin meningkat euy. Teman-teman pun pasti enggak bakalan risih ngelihat diriku yang kalau bawa barang seperti pulang kampung. Maklumlah, laptop yang sekarang ini rasanya seperti bawa komputer ke mana-mana. Sudahlah bawa laptop dengan bobot 3 kg, bawa printilannnya berupa keyboard  yang besar pula. 

3. Ngonten setiap hari

Gambaran menjadi seorang guru yang selalu aktif ngeblogging itu terngiang-ngiang dalam benakku. Ya, walaupun saat ini masih skripsian yang entah kapan kelarnya. Setidaknya aku punya tujuan hidup dan mau dibawa ke mana kegiatan menulis asyik ini. Jadi, kalau sudah punya laptop yang lebih lancar itu enggak ada alasan lagi buat galau mikirin laptop bakalan ngulah. Sudah pasti diajak kerja sama dong. 

Kedok Penipuan Subsidi Gratis Kuota Internet dari Portal Bergengsi

Tidak ada alasan untuk tidak menulis, bagi orang yang berniat menjadi penulis.

Jika hari ini masih dirudung dengan rasa kesal. Mari tarik napas perlahan, buang, tarik napas perlahan lagi, dan buang. Sampai rongga dada yang terasa sesak tadi mulai lapang dengan sendirinya, Jika masih belum berhasil. Lanjutkan dengan mengucap istighfar atau mengingat Tuhan.

Alhamdulillah, akhirnya pemikiran dan hati sudah mulai tenang ke seperti semula.

Pertama-tama, thanks to Allah swt yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menuliskan kisah ini. Kisah nyata dan ini sangat berarti bagi teman-teman sekalia . Semoga ini tidak terjadi kepada teman-teman sekalian.

Pandemi yang masih belum juga berakhir hingga kini, membuat banyak orang mengalami penurunan finansial dan angka kemiskinan semakin bertambah. Namun di balik itu semua, ada pihak-pihak yang melambung tinggi, terutama digitalisasi. Pertemuan tatap muka pun menjadi secara daring. Kuota menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi pihak akademisi.

Maka ketika ada bantuan kuota dari pihak tertentu yang datang, pastilah tergiur dan enggak perlu memusingkan lagi masalah biaya untuk membeli kuota. Oh, kuota menjadi kebutuhan primer bagi para akademisi ini.

Saya masih berstatus mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Ketika melihat kuota sekarat saja rasanya gelisah. Apalagi belajar bukan hanya dari aplikasi belaka. Namun dari sosial media dan juga media hiburan lainnya. Seperti Youtube, tik tok, WhatsApp, dan paling sering juga di Instagram. Masih banyak lagi. Kalau itu semua di turuti, ya cepat habis. Ya, pengetahuan memang tidak hanya sebatas satu aplikasi saja. Melainkan di banyak aplikasi. Tinggal orang itu sendirilah yang mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Kuota sekarat itu benar-benar memang membuat saya galau tidak karuan. Bingung menentukan pembatasan aplikasi mana yang kuantitas kunjungannya dikurangi dan mana pula yang harus dipertahankan supaya tidak boros kuota. Tibalah masuk pesan kiriman dari seorang teman yang mungkin memang untuk dibagikan ke semua orang. Isinya sebuah link yang ditawarkan dengan iming-iming akan mendapatkan subsidi kuota.

Wuah, saya pun juga mau jika diberikan secara gratis. Namun jangan dulu diklik. Lihat dulu nama linknya. Kalau domainnya enggak jelas. Itu sudah termasuk hoaks, alias penipuan dan mungkin saja merugikan. Ya, walaupun alamat linknya tertulis atas nama pemerintah atau perusahaan ternama. Duh, miris banget ya. Mereka jadi dikambing hitamkan. Padahal bukan berasal dari mereka, tetapi pekerjaan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan usil.

Tibalah saya mendapatkan sebuah pesan yang serupa. Namun dari seseorang yang bisa dipercaya, teman saya sendiri. Link yang dibagikan pun berasal dari domain bergengsi yaitu .com. “Wuah, bisa dipercaya nih. Sepertinya emang beneran,” pikir saya pun begitu dan langsung ikut-ikutan mengkliknya kemudian membagikannya ke beberapa kontak saya.

Selamat, saya berhasil ditipu secara halus.

Tim kiri : Hahah, kasian deh kena jebak. Sudah hidup sulit, eh malah semakin sulit.

Tim kanan : Hush, jangan gitu deh. Hal yang penting bisa dijadikan pelajaran dan semoga tidak terjadi lagi pada dirimu sendiri dan juga orang lain.

Tim kiri : Halah, sok bisa. Palingan juga dipendam sendiri atau malah buat status merana di media sosial.

Saya : Ssst, jangan pada berisik. Saya punya solusinya. (melirik papan ketik)

Keyboard : Ready Sist.

Kebetulan saya juga membagikannya ke teman yang mungkin pernah juga dan akhirnya saya tanya kembali ke sang pengirim.

Awal mula

Hm, saya pun memutuskan untuk menarik pesan yang pernah saya kirim. Takutnya mereka malah melakukan hal yang sama pula bersebab ketidaktahuan dan ketidakberpikiran panjang. Yah, begitulah. Seringnya orang-orang yang tidak tahu apa-apa menjadi target orang tidak bertanggung jawab.

Berujung ke sms nomor unik

Masih dalam kondisi ketidaktahuan saya. Ini sudah lama ya, sejak kejadian itu. Masuklah sebuah pesan promosi dari layanan XL juga nih yang saya yakini memang dari Xlnya secara langsung. Diskon 50% itu membuat saya tertarik dan kebetulan juga memiliki uang yang cukup. Biasanya saya tidak pernah mengisi pulsa. Hanya beli paketnya saja. Namun karena kondisi keuangan tidak memungkinkan. Akhirnya saya mencobanya.

Saya beli pulsa dulu Rp50.000 kemudian membeli paket internet seharga Rp35.000. Eh, masih ada sisanya nih Rp15.000. Saya khawatir pulsa itu akan lenyap tidak berbekas. Saya sempat tanya nih ke keluarga saya. Ada yang mau pulsa XL nggak? Mereka pun menggeleng dan mengatakan bisa ditransfer ke Telkomsel kok.

Sudah saya coba, ternyata enggak berhasil juga. “Gimana sih, masa enggak diizini,” kesal saya merasa gondok. Ya sudah deh mau bagaimana lagi. Saya mau lihat dulu gimana perkembangang pulsa yang saya miliki.

Setelah saya cek sore harinya melalui aplikasi my Xl. Pulsa saya berkurang menjadi sepertiganya, yaitu sekitar dua belas ribuan. Malamnya saya cek lagi, malah berkurang lagi menjadi tujuh ribuan. Tengah malam saya bangun dan mengeceknya lagi. Ah, sudah enggak iya nih. Masa tinggal goceng. Saya kotak-katiklah fitur aplikasinya dan tanpa sengaja menekan fitur Riwayat Transaksi. Nah, di situlah baru ketahuan di mana letak pengurasnya, yaitu berasal dari sms.

“Hah, orang ngirim sms bisa tersedot pulsa?”

Saya cek lagi nih. Angka yang tertera di sana dan langsung mencari tahunya di internet. Walaupun saya kesal dengan pasal internet dan nyaris berburuk sangka. Berdamai dengan diri itu lebih baik.

Akhirnya saya menemukannya. Ternyata sms yang masuk berasal dari sms premium. Beginilah kira-kira cara mengatasinya dan kalian juga bisa mengeceknya ya bagi pengguna XL. Kalau pengguna lainnya mungkin bisa mencarinya di blog lainnya.

1.     Tekan *123*66# pada dial telepon, lalu tekan “OK”/”Call”. Ini pada tahulah ya, macam ngecek pulsa gitu. 

2.     Pilih angka 1 yang bertuliskan Stop Layanan Lain.

3.     Selanjutnya akan diarahkan pada layanan apa saja yang ingin dihentikan. Saya cek, eh lupa di screenshot  sih ada banyak ternyata layanan smsnya. Pilih aja dari yang atas. Kemudian pilih alasan kenapa menghentikan layanan. Saya pilih saja tuh ‘tidak merasa berlangganan.’ Satu per satu dulu di stop kan. Cek lagi dengan mengulangi lagi langkah yang pertama sampai ke langkah ini. Nanti diarahkan itu ‘apakah ingin menghentikan semua layanan’. Pilih iya dong, enggak usah tanggung-tanggung. Basmikan semua layanan yang merugikan.

4.     Pastikan nomor anda sudah tidak berlangganan layanan lainnya.

Unreg semua layanan lainnya yang menyedot pulsa

Saya menggunakan cara ini karena terkesan mudah menurut saya. Meskipun sebenarnya ada via sms maupun aplikasi. Ini nih kemudahan adanya akses aplikasi internet kuota yang kita miliki. Jadinya bisa dikendalikan dan menemukan datanya berasal dari mana saja. Maka benarlah bahwa kita memang harus bijak berinternet.

Saya tahu, ini adalah kesalahan dari saya sendiri yang tidak saya ketahui selama ini.

Kesimpulan : Jangan mudah percaya pada layanan yang memberikan sesuatu gratisan secara cuma-cuma meskipun berasal dari portal yang bergengsi. Tanyakan dulu pada sumbernya dan telusuri kebenaran.

Seratus Target di Tahun 2021

 Ide itu seringan daun yang diterpa angin. Ia akan terbang begitu mudahnya bila tidak segera disimpan dengan segera

Berbicara mengenai sebuah target dalam hidup. Siapa pun pasti memilikinya dan menginginkan target akan tercapai sesuai dengan harapan. Hanya saja, tidak semua orang mampu menggapainya dan semua orang juga memungkinkan untuk mewujudkannya.

Berada pada fase kegagalan berulang. Barangkali yang kita rancang adalah sebuah kegagalan.

Siapa yang tidak pernah gagal?

Ah, iya. Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan. Ada yang sekali gagal tidak ingin mengulang kedua kalinya dan mencari yang lain. Ada pula yang ketika gagal akan mencoba kembali hingga menemukan sebuah titik yang menentukan harus berhenti atau berjalan kembali.

Menariknya adalah ukuran keberanian yang bermain peran di dalamnya. Seberapa kuat dan seberapa hebat orang tersebut itu mampu melewatinya. Sedangkan orang yang bermental ciut auto kesingkir dengan sendirinya. Eh, termasuk juga saya. Subhanallah …

Semakin dipikirkan sekali lagi dan menimbang dengan benar. Keputusan berupa untuk terus bergerak tanpa perlu membandingkan dengan orang lain menjadi pilihan. Hanya itu yang bisa saya lakukan. Mungkin bisa sekelas Thomas Alva Edison barangkali dalam mencapai sesuatu jika ingin berhasil. Seseorang yang tak pernah mengenal kata menyerah dalam menggapai tujuan. Rasanya memang sungguh sulit sekali.

Hal yang paling sulit dilalui adalah melawan diri sendiri. Kadang-kadang memang harus berperang dengan diri sendiri. Ketika melawan rasa malas, takut, dan pemikiran negatif tentang suatu hal. Bahkan menghadapi sebuah situasi ketika semesta tidak mendukung dalam memulai suatu hal.

Tidak hanya sampai situ saja. Tantangan yang lebih berat lagi adalah mempertahankannya secara konsisten. Seberapa kuat seseorang itu dapat bertahan dan terus berjuang mempertahankan apa yang ia lakukan. Mungkin contohnya tidak usah jauh-jauh. Misalnya mengerjakan tugas setiap hari dengan pencapaian yang konsisten. Awalnya tidak terbiasa tuh. Lalu membuat target seperti itu dan memulainya dengan semangat di awal. Ketika berjalan tiga atau empat hari masih okelah. Eh, kita menuju hari yang keempat dan seterusnya malah tidak dilakukan lagi. Semangat pun langsung ciut dan mengecil.

Memang benar, suasana hati manusia itu tidaklah sama di setiap keadaan. Bahkan semangat yang membara pun bisa saja langsung ciut seketika di pertengahan jalan. Maka sudah menjadi sebuah keharusan untuk selalu menjaga semangat juang itu tetap menyala.

Saya sendiri pun sering kesal pada diri sendiri. Ketika menemukan sebuah kondisi yang selalu berulang seperti rasa malas, rebahan, dan tidak berani melangkah. Hal yang paling sulit dilalui itu adalah rasa kantuk dan bawaannya selalu ingin tidur. Hm, sedangkan memaksakan diri dengan kafein terus-terusan pun rasanya hanya menyiksa diri.

Ada yang tidak beres nih. Setidaknya harus tegas pada diri sendiri untuk tidak selalu terjebak dengan zona rebahan. Ya, tidak ada yang bisa mengalahkan suatu kondisi semangat juang berasal dari diri sendiri. Mungkin, pada sistem seperti itulah yang bisa diolah dan diperbaiki.

Saya memutuskan untuk membuat seratus target di tahun 2021 ini. Sebuah target yang dituliskan secara terperinci. Mulai dari hal-hal kecil hingga kompleks. Tentunya berusaha menuliskannya serealistis mungkin supaya benar-benar terwujud. Paling tidak, angka pencapainnya bisa mencapai 50%.

Teman saya pun memberikan sebuah pernyataan bahwa apa yang saya lakukan terlalu ekstrim dan itu sungguh melelahkan.

Setidaknya, ada yang perlu dicoba dalam diri saya sendiri. Supaya lebih semangat dan tidak terus-terusan rebahan santuy lagi. Rebahan itu memang sungguh menyenangkan. Setelah melewatinya baru tersadar bahwa ada banyak hal yang telah dilewatkan begitu saja. Kemudian ujung-ujungnya menyesal juga bersebab tidak menggunakan waktu sebaik mungkin. 

Berikut ini merupakan target yang ingin dicapai pada tahun 2021.

   

Rute memutuskan target yang hendak dicapai

1.     Membaginya ke dalam beberapa Hal

Menentukan target tujuan

Sebelum membuatnya. Ada banyak sekali yang ingin saya tuliskan sebenarnya. Ketika dituliskan dalam bentuk bab per bab membuat ide bermunculan dan lebih terarah. Jadi bisa sekalian langsung jalan tuh apa saja keinginan kita.

2.     Realistis berdasarkan pengalaman

Pengalaman yang tertulis dalam buku catatan

Realistis adalah sesuatu yang bisa diterima secara akal dan sesuai dengan kenyataan. Jika dulunya saya membuat rencana secara asal berani saja. Kini saya membuatnya berdasarkan pengalaman yang pernah dilalui. Heseh, pengalaman juga yang bisa diandalkan dalam menentukan pilihan. Walaupun begitu, bukan berarti saya tidak membuat suatu target berdasarkan pengalaman saja. Ya, kalau belum ada pengalaman bisa juga dicoba untuk membentuk sebuah pengalaman.

3.     Jangka panjang dan pendek


Perencanaan yang akan menentukan passion

Perencanaan yang paling mudah digapai adalah perencanaan jangka pendek. Namun jangan lupa bahwa perencanaan itu pastilah memiliki dampak di kemudian hari. Maka dampaknya memang harus dipikirkan juga. Misalnya target membaca. Jenis bacaan apakah yang selalu dibaca saat ini dan pengetahuan apa yang terbentuk di masa depan nanti. Alangkah baiknya jika singkron dengan passion di masa depan nanti.

Nah, ini sajalah yang bisa saya sampaikan. Semoga target apa saja, termasuk impian yang tertunda akan segera terwujud di tahun 2021 ini. Aamiin ya rabbal alamiin. 

 


Pesan Cinta dari Google Analytics

Berdebu, banyak sarangnya, jamuran, dan lain-lain merupakan istilah yang cocok dengan blog saya kali ini. Hmm, bahkan aktivitas yang kelihatan hanya sekali-kali dalam sebulan. Ck, ck, ck. Sungguh memprihatikan sekali. 

Serangan kegabutan drama mengerjakan lanjutan bagian skripsi pun dimulai. Suntuk dan tidak bisa berpikir menjadi pemaksa peleraiannya. Kalau postingan ini topiknya nyasar entah ke mana-mana mohon dimakluminlah ya. 

Jadi ceritanya saya mencoba rajin membuka pesan e-mail. Iseng-iseng malah menemukan pesan cinta dari google analytics. Ini kali kedua saya mendapatkan pesan tersebut dan bisa mengetahui perkembangan blog ini dengan pesan yang dijapriin. Heseh. 

Sebenarnya saya bawakan topik ini bukan bermaksud untuk riya. Hiks. Hanya saja, ingin mencoba belajar dari apa yang saya lihat dan mengolahnya menjadi pembelajaran. Asyik kan. Pengalaman orang lain bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan. 

Kalau begitu langsung saja cuz saya tampilkan pesan yang penuh makna itu. 


Yah, walauapun enggak banyak pengunjung yang datang. Setidaknya jumlah pengunjung semakin meningkat setiap bulannya. Yeay, padahal saya jarang posting malah. Terima kasih kepada pembaca setia yang bersedia melipir ke blog ini. Walaupun saya tidak tahu siapa-siapa saja. Setidaknya saya tahu ada yang datang. Eh, apaan sih
    Hanya itulah yang bisa ditampilkan oleh sih Mbak google Analytics-nya. Meskipun berupa angka, tetapi memiliki makna yang berharga. Kabar baiknya adalah menambah semangat saya untuk memposting tulisan yang bermanfaat nih. 
    Nah, saya akan mencoba menganalisa nih dari gambar grafik yang sebelah kanan ya. Jumlah pengunjung yang masuk melalui sosial media ada 43.0%. Kalau dibilang lumayan banyaklah. Bisa dari Instagram, WhatsApp, Facebook, dan Twitter. Pokoknya yang saya rasa pernah membagikannya di media sosial. Pengunjung yang paling sering saya dapatkan biasanya dari WhatsApp. 
    Organic Search atau pengunjung organik merupakan orang-orang yang datang sendiri ke blog saya. Yah, seperti orang pada biasanya mencari informasi di pencarian google. Pas pula ketemu topik yang pas. Maka mereka berkunjunglah. Kalau saya bilang lumayanlah yang datang. Walaupun enggak banyak. Sekitar 34.0 % merupakan sebuah pencapain yang meningkat dari bulan sebelumnya. 
    Sedangkan Other Sesion  itu bisa dari mesin pencarian yang lainnya. Misalnya dari Bing, Yahoo, Uc Browser, dan lain-lain. Kalau saya perhatikan lebih lanjut, pengunjung dari luar negeri pun juga sering mampir. Alhamdulillahnya, pengunjung dari Indonesia lebih banyak. 
    Nah, sekarang kita beralih ke gambar yang ada di sebelah kiri ya. Pada nominal 87 merupakan jumlah orang yang datang. Sedangkan jika dipersentasikan bernilai 5.4%. 
    Sedangkan Sesi di situ berjumlah 144, jika dipersentasikan bernilai 7,6 %. Maksud dari 144 itu adalah berapa kali mereka berkunjung ke blog saya. Bisa saja kan satu pengguna beberapa kali ngelihat blog saya. 
    Ada lagi nih yang unik. Bounce rate yang berarti orang-orang yang kepoin blog saya. Jadi, dia enggak hanya mengunjungi satu artikel saja. Namun juga artikel lainnya yang ada di sana. Lumayanlah ya kalau dilihat dari nilai yang biru itu sekitar 77.0%
    Pada durasi rata-rata per sesi lumayanlah kalau dibilang, sekitar satu menit lima detik. Yeay, berarti ada yang baca nih. Hmm, kepedean.

    Nah, berhubung kali ini memang topiknya adalah pesan cinta saja dari Mbak Google Analytics. Maka saya akhirilah cuap-cuap kali ini. Sebenarnya banyak banget nih kegunaan dari google analytics. Nah, untuk mendapatkannya pun dengan daftar dulu di sana. Baru deh, kita bakalan diberikan data-data yang bisa dijadikan sebagai tolak ukur meningkatkan blog. Wuah, asyik banget nih jika dijadikan penelitian.  

Sampai jumpa di pesan cinta berikutnya ya. Hehe, siapa tahu pesan itu bisa juga dari kamu. 
Salam rindu
Harumpuspita.