Air Mata Penulis oleh Harumpuspita

Air Mata Penulis By Harumpuspita

Ada yang lebih gemilang dari sekadar kata-kata membangun. Ialah perkara perjuangannya menghadapi kehidupan atau mencapai cita-citanya. Jika kebanyakan orang melihat puncak yang tinggi untuk mengukur kesuksesan seseorang. Maka izinkanlah seseorang itu menyaksikan perjuangan yang berbeda dari teman-teman yang lain.

“Bu, saya izin pakai tempatnya dulu ya,” ucapku pada ibu penjaga sekolah. Kucolokkan kabel penghubung listrik ke stop kontak. Kuatur sedemikian rupa meja guru supaya nyaman digunakan dan kubuka  aplikasi berselancar internet setelah memastikan terhubung dengan wifi. Begitu yang kulakukan setiap kali pulang sekolah atau di saat libur telah tiba. Aku memutuskan untuk mencari penghasilan tambahan sebagai blogger dibandingkan hanya mengandalkan gaji honorer. Lagi pula, pekerjaan yang tidak membutuhkan banyak waktu itu bisa menyediakan waktu menulis untuk orang lain.

Bila orang lain mencari pemasukan dengan bisnis dan urusan lainnya. Aku menggunakan proses berpikir kreatif yang kupikir lebih minim pengeluaran. Tak peduli bagaimana mereka melarangku melakukan hal ini. Aku hanya menyukainya dan berani memperjuangkannya walau hingga kini hasilnya belum kelihatan di mata mereka.

“Iya Ni, pakai saja. Nanti kalau sudah selesai dikunci lagi yang pintunya. Sama ibu aman. Santai,” ucap Ibu Ita menenangkan. Meski kami baru mengenal setahun, tapi begitu dekat. Apalagi dengan temanku Dwi juga sesama honorer. Sikap saling melindungi membuat kami bertahan walaupun gaji terkadang belum bisa dianggap aman untuk kehidupan sendirian.

*

“Apa yang kau cari Ni? Ngajar di situ hanya buat kau terpuruk. Mending pindah tempat lain sajalah. Orang lain saja hijrah kalau enggak ada penghasilan. Lah, kau tetap bertahan di situ aja. Cemanalah hidupmu kalau enggak ada peningkatan,” ucap abangku saat aku baru saja pulang.

Aku meletakkan sepatu ke rak dan memasukkan kunci ke dalam tas goni. Sejujurnya aku menyukai hal ini. Alasanku dulu menerima menjadi guru honorer sekolah dasar adalah supaya tidak disangka pengangguran saja. Padahal setiap harinya, aku mencari rezeki dengan cara menulis, membaca, dan mengkreasikan sesuatu yang kubisa. Proses supaya bisa masuk ke sana hanya modal datang saja dan menyerahkan lamaran. Rupanya aku diterima walaupun posisinya belum memiliki ijazah sarjana.

Tak ingin aku mendebat apa yang diucapkan abangku bahkan keluargaku. Diam adalah solusi supaya tidak terjadi perang dunia.

Aku tahu, punya perjalanan hidup bukan keinginan orang tua adalah hal tersulit dalam kehidupan. Bahkan dalam hal rezeki pun banyak yang mempraktikkan radar sulit. Aku dulu juga begitu, pernah menangis di saat orang mencapai impiannya. Sedangkan aku tidak. Boro-boro menghasilkan uang. Punya pembaca saja sudah sangat bersyukur. Kini perjuangan menulis lebih berat lagi. Dilarang dan dikucilkan sudah menjadi makanan sehari-hari.

“Ah, ntah apa yang kau kerjakan Ni. Jangan kau menghayal saja. Enggak ada gunanya itu. Kalau terpuruk terus hidupmu, terserah kau ajalah.”

Ia menyerah dan aku akhirnya ada perasaan lega yang menyelinap. Lalu pada bulan kemudian ayahku bertanya padaku setelah aku diam tanpa suara selama dua minggu lamanya. Kasusnya serupa, masih kudengar kata paling pahit dalam hidupku saat kuberikan panggilan telepon kepada Mama.

“Hallo Di. Ah, iya nih. Adikmu sudah kami cegah. Kami kasih obat sebelum malam. Jam enam sore kami kasih dia obat supaya tidak bisa menulis lagi.”

Lututku begitu lemas, menyadari kenyataan yang terjadi. Walaupun memang sebelumnya aku menyadari hal seperti itu. Hanya saja selama ini prasangkaku berusaha positif. Mungkin bukan itu maksud mereka. Aku semakin diam, menangis dalam kebisuan dan tak berani melawan. Sebab melawan hanya disangkanya aku sebagai orang gila. Bagiku, orang gila sesungguhnya adalah orang yang mengatakan orang waras sebagai orang gila.

Inilah rahasiaku, tetap patuh. Meski larangan itu terus menghampiri. Berusaha tuli dengan semua omongan yang menjatuhkan. Lagi pula, apa salahnya menulis? Aku tak menghina siapa pun bahkan tak menggunjing siapapun. Sesuatu yang kutulis adalah peleraian kata, mencari solusi, dan beragam hal lainnya. Kalau aku mau, aku ingin keluar dari rumah ini dan dinikahi oleh lelaki baik yang mendukung impianku. Namu aku menyadari, jangankan menginginkan hal seperti itu, didekati oleh lelaki yang seperti itu pun belum ada. Maka, bersabar dan tahan. Barangkali ada sesuatu lain yang bisa kulakukan untuk membuat hati tenang dan ikhlas atas segalanya.

“Jadi, kamu mau apa sekarang?” tanya Ayah menatapku di waktu duha dan menyadari aku telah mendiami seluruh keluarga seminggu lebih.

“Ni mau jadi penulis seperti Buya Hamka, Ayah … Ni, mau jadi penulis aja, enggak mau yang lain,” ucapku di pangkuannya seraya mengalirkan air mata yang sudah menggenang. Padahal di sebalik keinginanku menjadi penulis, juga menjadi dosen suatu hari nanti. Aku tahu mereka pun juga akan melarang dengan alasan tidak ada biaya. Sulit, inilah cinta yang kuperjuangkan. Bagiku indah, meski entah berapa kali air mata yang keluar. Kadang duka, kadang haru. Aku tak mau mengulangi kesalahan seperti dulu, mengikuti keinginan orang tua yang tidak kusuka. Pada akhirnya sakit-sakitan hampir tujuh tahun dan hati meringis. Gelap, itulah duniaku kala itu. Mengikuti perintah untuk tidak bermimpi tinggi-tinggi.

Ketidakinginan memiliki mimpi hanya membuatku buta tentang arah yang dituju. Namun semenjak aku bertemu dengan lelaki fajar tahun 2019, sejak saat itu aku punya mimpi kembali. Tak peduli kata mereka, selagi itu baik akan terus kuperjuangkan. Kini lelaki fajar itu memang tak tampak lagi. Namun kalimat perjuangan yang kudengar selalu menjadi amunisi untuk tetap tegar. “Ni, kita harus punya impian yang tinggi. Tidak ada siapa pun yang boleh mencegah impian kita.” Begitulah katanya, merespon pertanyaanku tentang impianku yang tak didukung.

*

“Ni, makasih ya sudah menggantikan Ibu selama dua hari. Nanti kalau ibu minta tolong lagi, bantuin ya.” Ibu Nia menyalamiku selembar kertas berwarna biru. Sebagai tanda usai kalau aku sudah menggantikan kelasnya. Tak banyak bicara, aku segera menghampiri Dwi di kelas sebelah.

Aku melakukannya dan kebanyakan kuterima mengingat mencari uang seribu rupiah dengan cara halal itu susah. Namun karena memang tidak digaji sampai tiga bulan. Hal yang paling rendah sekalipun aku bersedia. Hatiku tak cukup kuat untuk menyesuaikan keadaan dengan apa yang kuazamkan waktu dulu.

 Menulis? Hampir setengah tahun aku tidak bisa melakukan rutinitas itu lagi. Sejujurnya aku rindu. Berusaha memaksa di sekolah membawa laptop pun percuma. Siswaku tidak bisa diam, disuruh jangan menyentuh barangku. Malah semakin didekati dan entah apa-apa yang dipegang. Alhasil, salah satu tombol keyboard nyaris tak bisa digunakan.

Ibu Arini ternyata sedang bersama Dwi. Ia menyuruhku untuk menandatangani nominal uang yang akan diterima. Setelah diterima ternyata hasilnya berkurang dari apa yang tertulis. Sejujurnya aku bingung saja, Ibu tak menjelaskan sama sekali. Ah, barangkali nominal yang tertulis itu hasil dari talangan dari bulan lalu. “Jadi Ni, selama ini penghasilanmu dari mana aja?”

“Enggak ada Bu. Semenjak saya enggak menulis lagi. Saya enggak punya pemasukan apa-apa. Padahal dulu duduk-duduk lumayan bisa dapat dua ratus ribu sekali nulis.” Aku tersenyum sekali lagi. Tak lupa mengucapkan rasa terima kasih. Perencanaanku adalah mengambil jadwal ngajar di tempat lain. Supaya enggak disuruh gantiin lagi. Sayang waktunya kalau hanya digaji seikhlas hati oleh mereka. Sementara menulis di sekolah lagi pun tidak bisa karena sudah ada siswa sekolah. Aku juga ingin bisa makan enak. Kalau enggak pun, apa aku harus kabur saja dari rumah? Aku lelah dilarang mulu. Rumah bukanlah tempat ternyaman untuk bertumbuh. “Kak Dwi, kalau Ni keluar dari sekolah enggak apa kan? Kayaknya aku mau kaburlah dari tempat ini?”

“Loh, kok gitu Kak? Kau jangan dulu keluar. Pastikan dulu kalau kau itu sudah diterima di sekolah lain. Baru keluar dari sekolah. Kalau ada masalah bilang Kak.”

Aku tak bisa cerita, tak ingin kulibatkan lagi orang dalam masalahku ini. Takut akan terjadi yang tidak-tidak dan Dwi yang akan disalahkan oleh keluargaku. Aku enggak mau terjadi, biarlah rasa sakitnya kupendam sendiri.

Kulihat lowongan pekerjaan guru yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah di media sosial. Dua tempat yang kukirim, tapi tak kunjung juga dipanggil setelah informasi penerimaan guru Fisika. Aku tahu, pengalamanku menjadi guru sekolah dasar berat menjadi bahan pertimbangan mereka ditambah lagi sudah lama aku tidak belajar ilmu tentang Fisika. Hingga suatu hari sebuah informasi dari sahabatku datang.

Ni, ada temanmu yang baru lulus. Sekolah kami lagi membutuhkan posisi sebagai guru MM, sains, dan wirausaha di SMA?

Kalau ada tolong nanti kirimkan lamarannya ke aku via WA-Ricky

Kepalaku mendadak pusing membaca pesan dari Ricky. Si ketua yang sangat optimis. Dia temanku semasa kuliah dulu. Kebanyakan aku tidak berkomunikasi lagi dengan teman satu almameter. Tapi Ricky berbeda, entah kenapa ia masih bersedia menghubungiku. Kuingat-ingat, temanku kebanyakan sudah bekerja, menikah, dan bahkan ada yang lanjut S2. Rasanya tipis kemungkinan kalau mereka membutuhkan informasi ini. Untungnya aku rajin berselancar di media sosial. Salah satu temanku yang dari jurusan Matematika alhamdulillah akhirnya lulus juga. Paling tidak dia memiliki kawan saat wisuda atau adik binaannya dulu.

Assalamualaikum Sudaryani … mau tanya nih. Ada nggak yang mau ngelamar sebagai guru MM, sains, dan wirausaha di SMA. Kalau ada yang mau kabarin ya. Kriterianya seperti kita gini, orang-orang yang berusaha takwa. ~Nini

Sebentar ya kutanyakan dulu sama yang lainnya. Memang model seperti kita nih dicari banyak orang Ni. Sudar setelah wisuda aja langsung ditarik di sekolah tempat Sudar lakukan penelitian.  

Aku menunggu jawaban, sembari menghubungkan gawaiku ke wifi dan mencoba mengunduh rekaman belajar menulis dari komunitas. Ya, aku ingin menulis lagi. Ini waktunya sudah tepat. Hatiku mantap untuk berselancar dalam dunia tulis menulis. Paket data terbatas dan wifi sekolah yang menyelamatkan hingga bisa menghemat di akhir bulan. Rasanya ingin sekali punya wifi di rumah, tapi kata Mamaku masuknya mahal. Belum lagi biaya bulanannya juga.

Tak butuh waktu lama. Sudar memberikan nama-nama orang yang berminat dan akhirnya ada juga yang menghubungi. Tersisa satu orang bertahan dan langsung kuberikan dokumennya kepada Ricky secara daring.

Ini yang MM ya? Sains ada nggak? Kalau ada segera kirim ya.~Ricky

Eh, tunggu. Kenapa enggak aku saja yang melamar di tempat dia? Walaupun jauh, tapi kan dia yang memang menginginkanku sejak dulu sebelum tamat kuliah. Sejujurnya hatiku berat. Namun di sisi lain aku begitu yakin untuk keluar dari lingkaran. Kalau di SMA kan pengetahuannya lebih luas dan enggak ada tuh istilah digantiin sama guru lain seenaknya karena beda mata pelajaran. Ah, kucoba dulu buat lamarannya dan kukirim jawaban disertai emotikon.

Ricky menyadari ada yang berbeda dari pesanku. Kupikir saat ini ia sudah memahami pembicaraan melalui kata yang terkirim. Ia sudah banyak berubah setelah menjadi Kepala Sekolah di SMA. Tidak lagi asal-asalan dalam menyampaikan pesan tertulis.

Setelah hari Sabtu kukirim lamarannya. Seninnya aku dipanggil ke sekolah Ricky. Ia mengatakan bahwa perkenalan sebagai teman dan lamaran pekerjaan itu berbeda. Alhasil aku menerima kuliah panjang hingga tengah hari. Aku bersyukur ia langsung menerimaku di sekolahnya dan segera kukabari pada Dwi.

Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Meski bukanlah ilmu pengetahuan yang berkembang. Namun cara mengolah kelas yang bertambah. Ibu Kepala Sekolah tempatku mengajar pun mengizinkanku mengundurkan diri setelah menimbang alasanku keluar begitu kuat. Selain jurusanku yang tak selinear dan status sebagai guru honorer yang tidak punya NUPTK. Ia mengatakan bahwa aku memilih keputusan yang baik dengan naik tingkat ke jenjang yang lebih tinggi. Hatiku girang, walau rasa berat. Ada sebuah bisikan bahwa ini menjadi batu loncatan supaya bisa menjadi dosen sekaligus suatu hari nanti.

Aku tak tahu berapa gaji yang akan kudapat nantinya. Setidaknya, kehidupan SMA sudah lebih fleksibel dibandingkan sekolah dasar yang harus ekstra pengawasan. Mana tahu, di sana aku bisa bertemu jodoh kan siapa tahu. Setidaknya, aku bisa menulis lagi yang sesuai dengan jurusanku.

“Loh, Kakak kok datang?” tanya Mira sang operator sekolah dan langsung kuserahkan surat pengunduran diri. “Oh, iya surat ini. Semoga Kakak sukses di sana ya dan jangan lupakan kami.” Matanya berkaca-kaca.

“Iya, nanti kalau sabtu libur Kakak mainlah ke mari. Oh, iya mau tanyalah. Ini wifi kita pakai wifi apa ya?” Kuperhatikan lagi benda bersegi putih berantena berkedip-kedip hijau yang nempel di dinding dekat pintu masuk kantor. “IndiHome bukan?” Kudengar dulunya sih begitu.

“Iya Kak.”

“Itu cara masuknya bayar berapa?”

“Kalau pakai IndiHome nggak bayar kak masuknya. Langsung bayar bulanannya aja.”

Aku mengangguk paham jadi semakin yakin kalau suatu hari nanti setelah finansial ada pakai wifi. “Bulananya berapa tuh?”

“Sekitar dua ratusan lebih Kak. Bentar ya kutunjukkan dulu ya pembayaran bulan lalu,” ucapnya sembari menunjukkan nota pembayaran. “Ngapain Kakak pasang wifi kan sayang kalau di rumah.”

“Kami di rumah banyak orang. Kalau sampai empat orang per bulanannya seratus ribu. Apa enggak mahal juga kalau ditotalin.” Kalau pakai wifi rasanya IndiHome, aktivitas tanpa batas saja tanpa harus memikirkan tinggal berapa Gigabyte lagi ya di akhir bulan.

Aku memang tak tahu nasibku di kemudian hari, tapi satu hal yang dapat kusyukuri dalam hidup. Ranah penulisan mampu kuperjuangkan lagi seiring berjalan meningkatkanya keberanianku. Apalagi semakin banyaknya event menulis, termasuk #IndiHomenulis.

Belajar Banyak Hal dari Buya Hamka Ulama Umat Teladan Rakyat

Belajar Banyak Hal dari Buya Hamka Ulama Umat Teladan Rakyat

 Ada seorang penulis dan juga seorang ulama Indonesia.

Namanya semakin terkenal semenjak kemunculan film di bioskop ketika lebaran tahun 2023 atau bertepatan 1444 H. Banyak orang berduyun-duyun bahkan rela para santri untuk menonton film Buya Hamka beramai-ramai. Tak terkecuali saya, nekat mengambil jam malam walaupun tubuh lelah. Apakah saya menikmati menonton filmnya?

Ya, saya sangat menikmatinya. Namun di awal saja, ditambah lagi bahasa yang digunakan adalah bahasa daerah. Pertengahan hingga akhir, saya pun tertidur pulas. Hingga tersadar bahwa film telah berakhir.

“Berarti ini adalah kode supaya bisa membeli bukunya,” ucap saya kepada teman adik saya. Tak lama setelah ucapan itu, selang seminggu kemudian. Bang Roby yang merupakan salah satu anggota FLP Medan membagikan postikan status WA.

Alhamdulillah, ketika lebaran ini. Walaupun saya sudah bekerja, ada orang baik yang memberikan THR dan uang itu pun saya gunakan kali pertama di tahun ini untuk membeli buku tentang Buya Hamka.

Cover Buya Hamka Ulama UmatTeladan Rakyat

Identitas Buku

Judul  Buku : Buya Hamka Ulama Umat Teladan Rakyat

Penulis : Yusuf Maulana

Jumlah Halaman : 352

Penerbit : Pro-U Media

ISBN : 978-602-782-94-4

“Apa sebabnja maka djadi begini? Mengapa telah tuan pilih djalan jang sepatutnja tidak tuan tempuh, djika dibandingkan dengan riwajat tuan selama ini? Mengapa tuan tiada tahan menderita?”

~Menunggu Beduk Berbunji (1949)~

Masa Kecil Seperti Anak-Anak  Pada Umumnya

Berbeda dari prasangka banyak orang. Orang baik, pasti kecilnya juga baik-baik. Ternyata Hamka adalah orang biasa. Masa kecil pada umumnya yang dekat dengan kata kenakalan. Salah satu kesalahan terbesar hingga ayahnya, Haji Rasul marah besar dan kali pertama sebuah tongkat akan mendarat di kakinya. Hamka berteriak memohon ampun dan orang terdekat melerainya. Kesalahannya adalah berpura-pura menjadi mantri cacar dan mencacar teman-temannya kemarin. Ia menggunakan duri limau sebagai alat cacar. Sehingga teman-temannya meringis kesakitan dan ada pula yang berdarah.

Namun yang namanya kesalahan, tak mungkin pula patut ditiru dan cukuplah menjadi sebuah pelajaran. Ada pula yang menarik hati. Ketika masa anak-anak, Hamka juga kesulitan membaca Al-Quran, terlebih lagi kakaknya, Fathimah yang mengajari. Jika Haji Rusli memberikan hadiah Hamka akan diarak naik kuda. Maka kakaknya akan menghadiahi cubitan jika tidak bisa. Rupanya bukan hadiah yang Hamka tuju. Melainkan karena cubitan dan gigitan yang tak terhitung membuat Hamka lebih takuti.

Hingga suatu hari murid perempuan kakaknya turut mengaji. Tidak diberikan ancaman berupa cubitan dan gigitan, walaupun datangnya dua bulan lebih lambat dari Malik. Alhasil mengaji lebih lebih cepat dan perkembangannya menyamai Malik. Malik yang tadinya hanya mengulang-ulang, menjadi lebih semangat dan berteman baik dengan temannya. Kawannya gembira dengan jawaban Malik yang ingin terus sama-sama dan tamatnya pun sama-sama. Hari-hari berikutnya kedua bocah itu saling tolong menolong saat belajar mengaji hingga akhirnya mereka bisa menuntaskan lembaran Al-Quran bersama.

Isi Buya Hamka Ulama UmatTeladan Rakyat
Cerita Buya Hamka yang belajar ngaji dengan Kakaknya, Fathimah

Kehidupan di usia Dewasa

Tulisan dalam buku ini tidaklah runut dipaparkan saat usia dewasa. Sepintasnya akan saya berikan contoh kehidupan setelahnya. Hamka yang kita tahu ia hanya memiliki satu istri saja di masa muda setelah pulang dari Makkah, yaitu Siti Raham. Rupanya ia karena kehidupannya  di masa kecil. Ibunya diceraikan oleh ayahnya. Sehingga ia tahu bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan yang ditinggalkan. Meskipun pernah disuruh ayahnya untuk menikah lagi. Hamka tetap pendirian hanya beristrikan Siti Raham saja. Sampai  istrinya meninggal. Barulah ia menikah lagi.

Hamka memiliki kepribadian yang cerdas dan tenang. Itulah mengapa banyak orang yang menyukainya. Meskipun berbeda agama sekalipun. Ia tetap berperilaku baik kepada mereka seperti saudara sendiri. Bahkan dalam cerita ada yang meninggal  pun mereka datang.

Pikatan Kata di Mimbar

Pada usia 17 tahun, Hamka menambah terus jam terbangnya sebagai juru siar Islam dan anti-komunis. Ia menjadi pengawal ayahnya berkeliling kampung. Ia pula yang membukukan pidato teman-temannya di surau Padang Panjang dan dicetak kemudian dinamai dengan Khathib Ul-Ummah. Inilah karya pertamanya dalam tulis menulis mengingat pula pidato teman-temannya itu sebenarnya dialah yang membuatkannya.

Hamka memang pandai berkata-kata. Menyadari kemampuan Hamka. Haji Rasul tidak  ingin anaknya besar kepala, berpuas diri. “Pidato-pidato, lezing-lezing saja percuma. Isi dada dahulu dengan pengetahuan, baru ada artinya pidato itu.” Dengan kata lain, Haji Rasul ingin anaknya belajar dan mengingatkan untuk tidak tergelincir dengan filsafat. Setelah berumur 26 tahunlah, saat ia sudah menikah. Ia mau belajar langsung pada ayahanda tercinta tanpa paksaan sebagaimana masa kecilnya.

“Bijak berkata-kata berarti tiga perkara; perasaan yang halus, kefasihan berkata, dan kekayaan bahasa. Lidah yang gagap dan gugup, tidak akan dapat menghasilkan apa-apa.”

Buya Hamka yang Tak Mendendam

Senin, bertepatan 27 Januari 1964, Hamka dibawa polisi yang kemudian diintrogasi dan dituduh masuk dalam gerakan makar pada pemerintah dan rencana pembunuhan Presiden dan Menteri Agama. Sejak saat itu ia mendekam dibuih selama 2 tahun 2 bulan. Sedih nian memang, Buya Hamka difitnah. Padahal Soekarno sendiri adalah sahabatnya. Hingga pada wasiat Soekarno pun, Buya Hamka menjalankannya yaitu menjadi imam dalam solat jenazah.

Walau dengan rasa sepi selama di penjara. Buya Hamka menghabiskan waktunya dengan buku setelah ia usai dari sakit disentri yang menyerang. Kemudian menyelesaikan tulisan yang paling fenomenal, yaitu Tafsir Al-Azhar.

Selama di penjara pun. Biasanya penjagaan ketat, tapi di bulan Ramadan penjagaan tidak begitu ketat lagi. Ternyata, setelah ia bertanya kepada para penjaga. Rupanya mereka pada ketakutan melihat sosok berjubah putih berada di depan penjara. Pengalamannya dituangkan dalam Tafsir Al-Azhar yang ia tulis bahwa setiap orang memiliki peneman.

Kesan Membaca Buku Buya Hamka Teladan Umat

Banyak hal yang belum tersampaikan. Setidaknya mewakili isi buku. Tentang kalimat indah yang tertuang dan kejadian yang menarik untuk diceritakan. Rasanya tak mungkin kalau menceritakannya secara tuntas di sesi Resensi kali ini. Penikmat sejarah akan mudah memahami isi buku. Namun bagi saya yang dulunya paling malas kalau dengan sejarah walaupun bolak-balik dihapal tetap saja tidak memahami. Pada bagian keislamanlah saya bisa menyambungkan pemahaman dari tulisan sebelumnya. Itu pun pada waktu itu sempat terucap ingin belajar sejarah islam.

Begitulah ilmu akan sampai ketika Allah swt mengizinkani. Kita sebagai mana manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Walaupun buku ini termasuk buku yang saya sukai, tapi buku ini juga termasuk buku yang paling lama dibaca. Hampir sebulan juga saya baru selesai membacanya.

Rating personal🌟 : 4,5/5

Tantangan Guru Muslim Abad 21

 

Tantangan Guru Muslim Abad 21

Judul Buku : Guru Muslim Abad 21

Penulis : Intan Irawati

Jumlah Halaman : 234

Penerbit : Elex Media Komputindo

ISBN : 978-602-04-4752-0

Seringkali kita mendengar bahwa jadilah pembelajar sepanjang hayat dan menuntut ilmu bagi seorang muslim hukumnya wajib. Lalu bagaimana dengan menjadi seorang pengajar khususnya di era abad 21?

Untuk mencapai fase tersebut tentu tidak dilakukan secara instan. Selain memliki kualifikasi sebagai guru, guru juga harus memiliki beragam kemampuan, yaitu kemampuan sosial, pedagogi, kepribadian, dan profesional. Maka tidak ada alasan sebagai guru tidak berkembang.

Permasalahan akhlak siswa sering menjadi buah bibir di kalangan para guru. Bagaimana cara mengatasinya dan hal-hal apa yang mendorong siswa untuk berbuat baik. Guru menjadi role model yang bisa ditiru oleh siswanya. Sehingga bukan hanya ilmu pengetahuan saja yang diberikan, tapi bagaima pendidik bisa membentuk karakter siswanya menjadi  lebih baik lagi dari masa ke masa. Sebelum menjadi pendidik untuk generasi berikutnya. Hal yang perlu dididik adalah diri sendiri supaya bisa selalu berperilaku akhlakkul karimah dan juga cerdas.

1.       Tingkatkan Kualitas Hidup dengan Membaca

Kegiatan membaca harusnya menjadi kebutuhan bagi seorang guru. Terlebih lagi ayat pertama Al-quran yang diturunkan tentang Iqra’ yang artinya membaca. Sehingga membaca buku bukanlah sekedar hobi, tetapi kebutuhan bisa ditularkan ke sesama guru juga siswa. Pilihan bacaan bukan hanya sekadar membaca, tetapi bagaimana bacaan itu bisa bermanfaat, bersifat membangun, dan membawa perubahan.

“Perumpamaan orang mukmin yang suka membaca Al-quran seperti buah utrujjah. Baunya harum dan rasanya lezat. Dan orang mukmin yang tidak suka membaca Alquran seperti buah kurma, baunya tidak ada dan rasanya manis. Dan perumpamaan orang munafik yang suka membaca Alquran seperti buah raihanah, baunya lumayan dan rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca Alquran seperti buah hanzholah, tidak memiliki bau dan rasanya pahit.” (HR Muttafaq alahi)

2.       Jadilah Idola Bagi Mereka

Sebelum menjadi guru, semua orang pasti pernah menjadi murid dan biasanya kehadirannya selalu menjadi dua kemungkinan. Kehadiran yang ditunggu dan tak ingin ditunggu. Kalau kehadirannya ditunggu oleh siswa, bisa jadi karena mengajarkan keren, asyik, tidak membosankan. Sedangkan alasan untuk kehadiran guru yang tidak ditunggu adalah bosan atau bahkan melihat wajahnya saja sudah membuat malas.

Menjadi idola juga bukan sembarang idola modal terkenal. Namun memang memberikan teladan yang baik. Seperti datang lebih awal, sudah melakukan ibadah harian, dan bertutur kata yang baik. Guru yang ramah, murah senyum selalu menjadi pusat perhatian banyak orang. Tidak hanya di kalangan para siswa, tapi juga di kalangan para guru. Sekilas, setelah melihat kompetensi guru begitu banyak. Ada kecemburuan yang menghampiri. Mampukan menjadi guru yang terbaik sesuai dengan versi terbaiknya diri atau bertahan dengan karakter yang seperti sekarang?

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang berutung.” (QS. Ali Imran : 104)

3.       Menyajikan Pembelajaran Bermutu

Bercerita tidak hanya disenangi oleh anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Pada sela-sela pelajaran, guru bisa menceritakan kisah perjalanan Rasul atau tentang sejarah islam. Sehingga kisah yang diingat anak-anak tidak hanya tentang dongeng dan cerita rakyat saja. Biasanya kisah selalu memiliki hikmah yang bisa dipetik dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ice Breaking di saat pembelajaran mulai bosan. Pada halaman 135 disebutkan bahwa ada banyak ice breaking yang bisa diterapkan di dalam kelas, seperti games, menyanyi, senam, kalimat pembangkit semangat, story telling, tepuk tangan, senam otak, humor, dan tebak-tebakan.

Praktik, belajar, dan bermain selalu memberikan kenangan lama yang membekas dibandingkan hanya sekedar membaca, menulis, dan mengerjakan soal di kelas. Bahkan dalam pemahaman, praktik selalu menjadi metode yang efektif. Hanya saja kelemahannya adalah membutuhkan waktu yang lebih lama.

Analogi dan perumpamaan. Bagi guru, kemampuan membuat analogi dan perumpamaan sangat diperlukan untuk mengukur pemahaman konsep dengan cara membentuk persamaan. Analogi mengakibatkan adanya hubugan kesamaan antara konsep sehingga menurut Chotib, 2011 bisa memecahkan masalah yang dihadapi berikutnya.

Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab. Penggunakan tiga bahasa tentulah akan menjadi bermanfaat untuk peserta didik. Mereka disiapkan untuk menghadapi tantangan di era abad ke 21. Penggunaan Bahasa Inggris karena Bahasa tersebut merupakan bahasa Internasional. Sementara bahasa Arab karena Al-quran sendiri merupakan bahasa Arab.

Internet, pisau bermata dua. Berpegang kepada Alquran sebagai pedoman hidup bagi setiap muslim maka aplikasi ICT (TIK) dalam dunia pendidikan ditujukan untuk meningkatkan kualitas pribadi muslim dan hasil pendidikan islam itu sendiri. Guru seyogyanya memberikan arahan bagaiaman memanfaatkannya dengan baik. 

Tantangan Guru Muslim Abad 21 Sesungguhnya

Penutup

Pada bagian ini, yang menjadi insight tersendiri adalah bagaimana Intan Irawati memberikan sebuah penekanan bahwa anak tidak boleh dilabelin. Misalnya mengucapkan bahwa anak tidak pintar atau tidak akan sukses di kemudian hari. Adanya ketidakbolehan melabeli siswa membuat guru memperlakukan siswa sama dengan siswa yang lainnya.

Pemaparan yang disajikan buku Guru Muslim Abad 21 menggunakan bahasa ringan sehingga lebih mudah menelusurinya hingga akhir. Walaupun tidak disajikan penulisan Bahasa Arab sebagaimana buku-buku yang lain. Makna dan kandungannya menjadi pokok utama dalam pembasan. Ada kisah dan motivasi untuk terus berkembang.

Selain itu, yang menjadi ketertarikannya adalah cover buku yang menarik serta jumlah halaman yang tidak terlalu banyak membuat buku ini ringan dibawa ke mana-mana. Liburan sembari membaca buku menikmati pemandangan teduh sangat menyenangkan.

Jasa Artikel Berkualitas di Mediakonten

Jasa Artikel berkualitas di Mediakonten

Blog adalah sejenis platform untuk menguraikan segala jenis yang berkaitan dengan tulisan. Perkembangan blog semakin lama disesuaikan dengan perkembangan zaman dan dari penulisan di blog mampu menghasilkan pundi-pundi uang.

Banyak para pembisnis memanfaatkan blog sebagai investasi di masa depan. Mulai dari blog yag memang diperuntukkan untuk mendatangkan pemasukkan jual beli hingga para penulis artikel. Tidak ada batasan dalam kadaluarsa tulisan di blog. Tergantung kebermanfaatan dan bahkan bertahun-tahun pun tulisan di blog masih tetap eksis dan dibutuhkan banyak orang dalam mencari informasi.

Perkembangan Blog dari Masa ke Masa

Pada awal mula tahun 2000-an. Para penulis blog masih sedikit. Urusan artikel pun mudah ditemukan meskipun penulis baru. Belum ada sistem yang menyeleksi tulisan mana untuk dijadikan peringkat utama dalam mesin pencarian Google. Sehingga persaingan tidak begitu ketat.

Google adalah mesin pencarian yang paling banyak digunakan di seluruh Dunia dibandingkan mesin pencarian yang lain. Bukan hanya eksis sembarang, tetapi memberikan pengalaman yang terbaik ketika berselancar di dalamnya.

Menjelang tahun 2010-an ke atas. Algoritma Google diperbaruhi besar-besaran. Tadinya artikel seseorang bisa didapatkan dengan mudah. Kini malah terdampar entah di lautan antah berantah yang mana. Jika diurutkan, barangkali urutannya bisa saja paling terakhir.

Artikel di Mediakonten

Mediakonten Sebagai Jasa Artikel Berkualitas

Hingga kini SEO (Search Engine Optimation) selalu diyakini menjadi tempat terpercaya untuk menjadikan website bisa berada di mesin pencarian teratas hanya dengan memasukkan kata kunci. Contohnya saja ketika mengklik artikel di pencarian teratas. Biasanya informasi yang didapatkan lebih membuat pengunjung jauh lebih puas dibandingkan mencari sampai ke urutan paling terakhir. Selain membuang-buang waktu, kuota juga terkuras.

Apa yang diperlukan dalam sebuah konten yang sesuai dengan SEO?

Konten yang berkualitas adalah kriteria utama untuk ditempatkan di bagian pertama. Ada dua yang perlu diperhatikan, yaitu ramah untuk mesin pencarian dan pembacanya manusia. Bukan hanya sebuah tulisan belaka, tapi juga menghadirkan gambar supaya dapat memberikan visualisasi topik yang dibahas itu berkaitan tentang apa.

Perkembangan membuat artikel tentu bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi bagi penulis pemula. Bukan hanya memiliki ide belaka, tetapi juga diimbangi dengan proses banyak mencari informasi dan juga kemampuan meramu kata. Sebab, banyak juga yang membaca sebuah karya, tapi tak mampu untuk merealisasikan kata-kata di dalam benak.

Kelebihan artikel di Mediakonten

Mediakonten Hadir Sebagai Solusi Memberikan Artikel Berkualitas

Mediakonten adalah sebuah website yang menyediakan  jasa artikel berkualitas yang siap pakai. Kehadirannya menjadi solusi dari masalah yang menerpa para pemilik website/blog yang sering sibuk tak punya waktu menulis, hingga penulis pemula yang sulit mencari ide dalam penulisannya. Artikel yang dijual pun bukan artikel abal-abal-abal. Melainkan sudah menyesuaikan kriteria yang dibutuhkan oleh SEO.

Para pembeli tidak perlu khawatir akan tulisannya tidak sesuai dengan keinginan atau tidak. Sebab di Mediakonten sendiri sudah menyediakan contoh konten yang bisa dilihat dari drive mereka. 

Contoh Artikel dari Mediakonten

Contoh artikel di Mediakonten

1.       Judul artikel sesuai dengan teknik SEO

      Judul artikel sesuai dengan teknik SEO di mana ada tulisan sebuah angka, kata kunci yang membuat orang berharap lebih akan apa informasi yang didapatkan. Terus jumlah katanya juga tidak terlalu banyak, di mana jumlah kata tidak lebih dari 20 kata. Trik tersebut, selalu menjadi cara ampuh untuk mengundang para pembaca. Kalau dibandingkan dengan pemilihan, saya pasti memilih yang sudah tertera ada angkanya. Misalnya Lima Langkah dalam … dibandingkan Langkah dalam …

2.       Sudah ada Ilustrasi

Adanya ilustrasiyang disediakan Mediakonten menjadi sebuah ketertarikan sendiri. Tulisan menjadi lebih menarik, sehingga para pembaca bisa dengan mudah memvisualisasikan artikel apa yang sedang ia baca.

3.       Kata kunci yang diberi warna berbeda

Warna yang berbeda dari tulisan yang lain. Seringkali ampuh membuat pembacanya kebih mudah menemukan hal penting yang sedang dibahas. Adanya warna tulisan pada kata kunci membuat pembaca mudah menemukan konteks pembahasan berupa poin penting.

4.       Harga Terjangkau

Harga artikel yang disesuaikan beragam. Mulai dari Rp20.000 kita sudah dapat memesan artikel yang berjumlah 500 kata. Harga yang tertera tentunya disesuaikan dari jumlah kata yan tersedia. Semakin banyak yan diinginkan maka harga juga lebih tinggi.

Hal yang Berkaitan dengan Pemesanan

1.       Pastikan kita sudah terdaftar sebagai member area sebelum memesan artikel.

2.       Artikel yang disediakan merupakan artikel yang sudah langsung jadi, jadi customer hanya bisa memilih tulisan yang tersedia.

3.       Cara memesan dengan menggunakan deposit. Deposit minimal Rp50.000.

Tidak punya waktu dan tidak punya inspirasi di zaman yang serba cepat tidak dijadikan alasan untuk bertumbuh. Kelebihan lain dari artikel yang disediakan oleh Mediakonten adalah ditulis oleh orang yang berpengalaman, sehingga aspek seperti plagiat juga sudah diperhitungkan. Artikel yang tersedia kualitasnya terjamin original dan unik.