Showing posts with label resensi. Show all posts
Showing posts with label resensi. Show all posts

Review Majalah Bobo Edisi 50 Tahun Terbatas

Review Majalah Bobo edisi 50 Tahun Terbatas

Siapa yang tak kenal dengan Bobo? Sejak kecil saya juga suka Bobo melalui tontonan masa kecil Nirmala di hari libur. Masih ingat sekali bahwa yang saya sukai adalah visualisasinya, meski tidak mengerti apa yang sedang dibahas.

Walaupun begitu, ini kali pertama saya bisa menikmati majalah anak. Meski saya bukan lagi anak-anak. Seperti layaknya orang dewasa yang ingin menikmati masa kanak-kanak. Ya, pada waktu itu saya juga bukan orang berpunya pada umumnya. Bisa bersekolah saja rasanya sudah sangat bersyukur sekali.


Judul                     : Bobo Teman Belajar dan Bermain 50 Tahun

Penulis                  : Tim Redaksi

Penerbit                :  Kompas Gramedia

Jumlah Halaman : 100

Pengalaman membaca majalah Bobo ini sangat menyenangkan. Pasalnya kita disuguhi dengan visualisasi yang menakjubkan. Bahkan bukan hanya tentang cerita Bobo saja yang diceritakan, tapi juga cerita lainnya loh seperti Cerita dari Negeri Dongeng yang dikenal dengan Nirmala, Paman Kikuk yang tingkahnya ada-ada aja, Bona si Gajah yang berlalai panjang, Deni Manusia Ikan yang mencari kedua orang tuanya, Pak Janggut, Juwita dan Si Sirik.

Cerita Deni si Manusia Ikan ditampilkan secara keseluruhan. Itu artinya dari mula sampai akhirnya ia bertemu dengan kedua orang tuanya. Walaupun secara logika tak masuk akal, tapi yang namanya dongeng tak apalah. Tak ada juga batasan dalam berekspresi.

Jika ada yang mengatakan dongeng sebelum tidur itu mengasyikkan. Maka cerita Bobo ini sangat direkomendasikan sekali. Acap kali ketika saya sulit tidur, majalah Bobo berhasil mengantar saya bermimpi indah ketika tidur.

Pada majalah Bobo yang ke-50 tahun ini kita akan diajak bernostalgia dengan cerita bergambar dari masa ke masa yang ditandai setiap ceritanya tertulis tahun di sudut kiri. Sehingga kita bisa mengetahui perubahan yang signifikan dengan visualisasi gambar. Seperti dugaan, semakin tinggi tahunnya kualitas warna dan gambarnya sangat menarik. Baik itu cerita keluarga Bobo maupun cerita dari Negeri Dongeng.

Majalah Bobo pada Umumnya

Sebuah komentar dari postingan mikroblog Instagram masuk. “Katanya ini hanya cergam aja ya kak?”

Iya, benar sekali. Edisi spesial kali ini isinya adalah nostalgia cergam pilihan dari masa ke masa. Sehingga kita akan melihat perbedaan signifikan kualitas gambar semakin bertambahnya usia kualitasnya semakin baik. Saya pun penasaran dengan terbitan majalah Bobo biasanya. Setelah mengulik isi dalamnya dengan bantuan e-perpus kemenkeu. Ternyata Bobo memang bukan hanya sekedar cergam belaka, tapi ada materi pelajaran di sana dengan pembahasan yang menarik.

Terlintaslah di pikiran saya, “Apakah saya review majalah Bobo saja ya di konten selanjutnya?” Majalah kan juga termasuk kategori buku yang ringan dibaca.

Review Lembaga Budi Karya Prof. Dr. Hamka


Review Lembaga Budi Karya Prof. Dr. Hamka

“Liburan ke toko Buku.” Sebuah jargon yang sempat menjadi kebahagiaan tersendiri hingga ada orang baik yang ingin menawarkan buat beliin buku kalau ke toko buku. Tinggal sebutkan berapa nominal bukunya. Hehe … waktu itu situasinya saya memang kehabisan bahan bacaan. Namun setelah berada di bulan September ini, saya tengah berpikir buat menjeda keinginan itu dan mau nggak mau harus  bertanggung jawab menghabiskan buku yang telah ada.

“Please deh Henny jangan rakus jadi orang, sikap tamak itu tidak baik.


Judul                    : Lembaga Budi

Penulis                 : Prof. Dr. Hamka

Penerbit               : Republika

Jumlah Halaman : 206

Tahun Terbit        : Desember 2021

ISBN                   : 978-602-0822-16-7

Diribut runduklah padi

Dicupak Datuk Termenggung

Hidup kalau tidak berbudi

Duduk Tegak ke mari canggung

 

Tegak rumah karena sandi

Runtuh budi rumah binasa

Sendi bangsa ialah budi

Runtuh budi runtuhlah bangsa

Begitulah yang disampaikan buya Hamka pada permulaan buku. Bukan mukaddimah, tapi kalimat penuh dengan makna yang mengajarkan arti bahwa budi sepenting itu ternyata. Siapa tak kenal Budi Bahasa? Berbudi bukan hanya pekara bahasa yang santun, tapi seyogyanya juga perilaku.

Setelah itu barulah Mukaddimah. Padahal baru permulaan, sudah menambah wawasan saja bahwa Rasulullah saw adalah sebaik-baiknya teladan karena beliau diutus tidak lain dan tidaklah bukan hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Kata Mutiara Lembaga Budi
Gambar 1. Cuplikan kata mutiara Lembaga Budi

Ada sembilan bab yang bisa kita renungkan dalam hidup bagian demi bagiannya. Selebihnya merupakan kalimat bijak kehidupan.

1.       Budi yang Mulia

2.       Sebab Budi Menjadi Rusak

3.       Penyakit Budi

4.       Budi Orang yang memegang Pemerintahan

5.       Budi yang Mulia pada Raja (Iman yang Adil)

6.       Budi Orang yang Membuka Perusahaan

7.       Budi yang Mulia pada Pedagang

8.       Sifat dalam Bekerja

9.       Budi yang Mulia pada Pengarang

10.   Tinjauan Budi

11.   99 Renungan Budi

Cara Penyampain yang Santun

Seperti yang terkenal sebagai jati diri Hamka merupakan seorang ulama. Cara penyampaiannya jelas memilih kosa kata yang satun. Setelah membaca buku ini membuat hati akan selalu berada di lingkaran kebaikan. Kalimat hikmah dalam lembarannya sangat berarti.

Budi yang Mulia pada Pengarang

Pada Budi yang Mulia pada pengarang berisikan tentang Nasihat Abdul Hamid al-Khatib untuk pengarang. Zaman dulu, pengarang memiliki kedudukan yang istimewah di dalam sistem kerajaan dan menjadi tangan kanan kerajaan atau orang kepercayaan. Meskipun surat itu telah berusia seribu tahun sampai sekarang. Namun isinya masih tetap bernilai dan menjadi salah satu pegangan bagi pengarang di zaman modern ini, khususnya pengarang Islam.

“Seorang pengarang mengetahui tata bahasa, rasanya, rahasianya, halusnya, dan kasarnya.” (Halaman 124)

Itulah mengapa para pengarang itu mampu menyajikan hal yang berbeda dalam memberikan sebuah petuah. Mungkin yang tadinya terasa sakit untuk disampaikan, bisa menjadi lebih lembut dan mudah diterima dalam hati. Seperti halnya dokter yang mengobati penyakit, pengarang pengobat penyakit jiwa.

“Memang berat beban tanggung jawab pengarang. Sebab pena yang tidak disertai ‘budi’ selalu menyesatkan rakyat.” (Halaman 127)

Gambar 2. Cover Belakang Lembaga Budi karya Prof. Dr. Hamka

Mood Baca

Buku ini termasuk kategori berat menurut saya karena rentang waktu menyelesaikannya selama delapan hari, jumlah halaman sedikit, dan itu memang benar-benar fokus. Setiap kalimat kadangkala harus berpikir ulang makna apa yang sebenarnya disampaikan oleh penulis saking menyajikannya pilihan kata santun. Walaupun begitu, tidak pula mengurangi seberharganya buku ini untuk dimiliki. Sesulit kata yang dipahami, setelah membacanya walau hanya beberapa lembar memberikan dampak pada diri untuk tidak sombong tentang apapun dan memberikan sebuah pemahaman bahwa diri ini memang tiada apa-apanya karena semuanya adalah pemberian dari Allah swt.

Review Novel Perempuan Kedua Karya Ollyjayzee

Review Novel Perempuan Kedua Karya Ollyjaezee

Siapa yang mau menjadi perempuan kedua? Tentulah banyak wanita yang tidak menginginkannya. Sebelum membaca kisah, kita tidak akan tahu apa yang terjadi di dalamnya dan tak mungkin pula menghakimi sesuatu tanpa melihat keseluruhannya.

Begitulah yang saya yang saya temukan dari cerita Perempuan Kedua karya Ollyjayzee

Judul              : Perempuan Kedua

Penulis          : Ollyjayzee

Penerbit        : T2B

Tahun Terbit : Oktober 2021

ISBN             : 978-623-5592-28-2

Cover depan novel Perempuan Kedua
Gambar 1. Cover depan Novel Perempuan Kedua karya Ollyjayzee

Kehidupan sempurna adalah kehidupan yang diimpikan semua orang. Namun selagi masih hidup, kita takkan luput yang namanya permasalahan. Begitulah yang dialami oleh Arman dan Mutia. Mereka dikenal sebagai pasangan yang sempurna di mata orang-orang terdekatnya. Arman berwajah tampan dan memiliki karier yang mapan. Mutia menarik dengan karier yang tak kalah cemerlang. Keluarga mereka semakin sempurna dengan kehadiran dua putri yang cantik.

Tidak ada yang tahu sedalam apa luka hati Mutia karena sang suami masih dekat dan bekerja bersama mantan pacar semasa kuliah yang bernama Arini. Tidak ada yang tahu, bagaimana Arman harus jatuh bangun demi tampil sempurna di hadapan keluarganya.

Terlalu sibuk menyelamatkan ego sehingga tanpa mereka sadari pernikahan itu telah menjadi muara kosong tanpa makna. Lalu peringatan itu datang dalam bentuk foto Arman bersama Arini. Hal inilah yang membuat Mutia mengalami perubahan emosi. Sehingga harus mengobrak-abrik zona nyaman yang selama ini dia pertahankan demi keluarga. Sementara Arman harus dihadapan pada dua pilihan yang sulit antara karier dan keluarganya.

Adanya permasalahan tersebut tentu menjadi sebuah hal yang ingin dipertanyakan kelanjutan ceritanya. Serta bagaimana para tokoh menyelesaikan urusan keduanya. ‘Pisah’ adalah kata keramat dalam hubungan pernikahan. Seumpama berada di ambang kebahagiaan. Siapa pun tidak ada yang ingin dalam mempertahankan hubungan.

Keduanya memiliki karakter yang kuat. Mutia yang  mode berusaha baik-baik saja, meski nuansa hatinya tengah hancur. Sementara Arman tetap setia tanpa peduli Arini tengah merusak hubungan keluarganya. Perempuan kedua menggabar posisi Mutia selaku isteri keduanya Arman.  

Jalinan komunikasi kerapkali menjadi sebuah permasalahan pada umumnya. Belum lagi berbalut ego yang membuat kita merasa sepertinya kita sudah benar nih. Tidak tahunya apa yang terpikirkan juga belum terjadi.

Mutia bekerja di perusahaan Pak Pandu sebagai asistennya. Seorang lelaki yang tingkat kegantengannya mirip Hanry Cavill. Mutia sengaja dipilihkan sebagai sekretaris eksekutif karena ia telah berkeluarga dan memiliki anak. Sehingga pacarnya Pak Pandu tidak perlu cemburu dengan kehadiran Mutia sebagai asisten.

Karakter yang Kuat

Dua karakter utama baik Mutia dan Arman. Keduanya memiliki karakter yang kuat. Sehingga menjadikan rumah tangga mereka selama sepuluh tahun ini tampaknya baik-baik saja. Apalagi sikapnya Mutia selama ini yang cenderung tidak mempermasalahkan masa lalunya Arman.

Sekarang ketika hubungannya dengan Mutia kacau balau begini, membuat Arman berpikir kembali bahwa semua kegagalan ini bukanlah sebuah kesalahan-kesalahan perempuan tersebut. Tetapi karena dia yang belum sanggup mengatasi rasa kecewa kepada Arini dan Asri, akhirnya tidak bisa melihat Mutia sebagai pribadi yang berbeda. Dan akhirnya dia gagal karena tidak bisa memperlakukan sang istri dengan selayaknya. (Halaman 248)

Kedua sosok pemeran utama ini memiliki kelebihan masing-masing, sementara takaran sabarnya juga di posisi masing-masing. Namun sekali lagi cerita ini justru membuat saya malah sangat menyukai sosok Arman tidak terkecoh untuk mengakhiri hubungan rumah tangga mereka. Betapa mengajarkan saya bahwa ada loh tipe lelaki setia. Walaupun sebenarnya teramat nyebelin. Ia masih menjalin kerjasama dengan Arini, padahal Arini jelas memiliki perasaan padanya.

Yah, namanya juga pekerjaan. Kadang juga enggak bisa milih kalau inginnya di posisi aman. Namun berpulang pada diri masing-masing bagaimana menyikapinya. Arman memilih tetap bekerjasama dengan Arini karena keluarga Arini punya channel khusus untuk perkembangan karir. Mereka berdua bekerja dalam bidang hukum. Sementara pekerjaan Mutia terkait dengan relasi publik yang tak jauh dari periklanan dan pemasaran.

Karakter Pendamping yang menyedihkan

Kasus jatuh cinta dengan sosok pendamping terjadi sesekali. Sosoknya Pandu juga nggak tak kalah keren. Sudah beken. Eh, malah menjadi orang yang merasa baik-baik saja di saat sudah mengerahkan perhatian untuk Mutia. Terlebih lagi ketika kasus anaknya Mutia kecelakaan. Pandulah yang membantu Mutia. Sementara ketidakhadiran Arman jelas membuat banyak pertanyaan.

Anak-Anak yang Pengertian

Meskipun Mutia bukanlah ibu kandung dari Renza dan Rezi, seorang anak yang tengah pubertas dari Arman. Keduanya sangat pengertian untuk memberikan ruang privasi untuk Arman maupun Mutia. Selalu paham dengan mencari berbagai alasan supaya membiarkan Arman dan Mutia hanya berdua di dalam ruangan dan terjadilah percakapan. Sikap mereka juga selalu baik dengan Mutia. Walaupun ibu tiri, tapi berasa ibu sendiri.

Sosok Antagonis yang Konsisten

Arini digambarkan sebagai sosok antagonis dalam cerita perempuan kedua. Walaupun awalnya saya ngerasa kasihan dengan kondisinya Arini yang juga belum menikah di usia tak lagi muda. Namun sikapnya secara tak kasat mata menjadi biang keretakan dalam hubungan Arman dan Mutia.

Penyampaian yang membuat kesan

Tebal belum tentu sulit dipahami, tipis belum tentu mudah dipahami.

Meskipun jumlah halamannya membuat diri mengajak tidur. Karya Ollyjayzee ini justru memberikan pengalaman cerita yang berbeda. Ada dua tahap penyampaian. Tahap pertama dari sudut pandanganya Mutia berupa apa yang selama ini ia rasakan sehingga membuat kita akan bertanya-tanya sesi seru. Konsep yang menegangkan. Jadi, masih ingin tidur? Tentu tidak. Saya bahkan betah membacanya hingga ingin ketemu dengan akar pemasalahannya.

Tahap kedua adalah sudut pandang penulis sebagai orang ketiga yang akan menjawab rasa penasaran sebelumnya. Seperti masa lalunya dan alasan yang kuat kenapa mereka bisa sampai menikah. Hingga kejadiaan yang sesungguhnya dari sudut Arman. Sehingga cerita ini benar-benar dibuat untuk memuaskan pembaca.

Cover belakang Novel Perempuan Kedua karya Ollyjayzee
Gambar 2. Cover belakang novel Perempuan Kedua karya Ollyjayzee

Ending yang Manis

Cerita ini menyajikan konsep sweet ending, tetapi target pembacanya adalah dewasa alias 18+. Pembaca seakan diajak untuk berpikiran dewasa dalam menyikapi permasalahan terkait hubungan keluarga.

Novel  Perempuan Kedua karya Ollyjayzee ini tersedia secara fisik dan bisa dibeli di marketplace dan versi digitalnya tersedia di KaryaKarsa dan GooglePlayBook.

 

Review How to Master Your Habits by Felix Y. Siauw

Review How to Master Your Habits By Felix Siaw

Mengubah sebuah kebiasaan emang enggak mudah. Selain dibutuhkan keinginan kuat, juga dibutuhkan kekonsistenan. Lalu bagaimana bila ustadz Felix Siaw membahasnya dalam sebuah buku. Beliau adalah salah seorang ustadz ternama juga mualaf. Padahal seseorang yang baru mengenal islam, justru lebih mendalami pula tentang islam. Simak pembahasannya ya atau kalau mau lihat buku fisik yang sudah sedikit diulas bisa mengunjungi Instagram tentang Review Master Your Habits.

Indentitas Buku

Judul Buku        : How to Master your Habits

Penulis               : Felix Y. Siaw

Penerbit              : Alfatih Press

Jumlah halaman : 170

Tahun terbit        : 2015

ISBN                   : 978-602-17997-2-7

Bermula ketika judul awal Greet Them! The Inspirator yang berarti kehebatan para inspirasional membuat kita bertanya, tentang apa yang mereka lakukan selama di dalam hidup. Contohnya saja seperti Imam Asy-Syafi’I yang mampu menghapalkan Al-Quran meskipun saat itu umurnya belum genap 7 tahun. Hingga kisah kehebatan Al-Fatih yang mampu menaklukkan konstatinopel. Apakah mereka semua dibentuk dalam satu malam? Jawabannya adalah tidak. Semua itu butuh proses yang baik dan sesuai dengan mata panahnya. Seperti Al-Fatih yang tidak pernah absen melaksanakan salat Tahajud dan Duha.

Keahlian adalah hasil pilihan, latihan dan pengulangan pilihan-pilihan yang telah dibuat. (Halaman 5)

Kebiasaan adalah suatu aktivitas yang biasa dilakukan secara terus menerus. Contohnya saja kebiasaan bangun pagi, membaca, dan melakukan hal baik yang akan mendukung produktivitas sehari-hari. Hal yang ditekankan oleh Felix Siauw di halaman 21 adalah tidak perlu memikirkan kita berada di posisi awal yang mana karena itu tidak penting. Kita bisa menjadi apapun atau menguasai keahlian apapun yang kita inginkan dengan cara membentuk kebiasaan pada diri kita. Menjadikan yang luar biasa menjadi kebiasaan. Ingatlah bahwa ibu dari semua latihan adalah repetisi (pengulangan) dan ayahnya adalah practice (latihan). Sehingga kita tidak perlu malu atau enggan untuk mengulangi suatu pelajaran.

Cinta itu karena terbiasa

Witing tresno jalaran soko kulino, berarti adanya cinta adalah karena terbiasa. Begitulah pepatah Jawa melukiskan pentingnya pengulangan. Bahkan cinta pun adalah hasil dari pengulangan. Cinta dan benci adalah persamasalahan habits/kebiasaan.

Kenapa?

Ibnu Syihab pernah berkata, “Ilmu adalah gudang penyimpanan dan pertanyaan adalah kuncinya.” Adanya pertanyaan akan mengatarkan pada apa sebenarnya tujuan yang hendak dicapai? Tujuan merupakan daya tarik yang sangat kuat sehingga mendorong seseorang untuk melakukan pergerakan dalam hidup. Analogi ketidakmemiliki tujuan dalam kehidupan, sama seperti berlari dalam lingkaran yang tak habis. Alhasil lelah dan bertemu dengan hal yang serupa. Berbeda dengan seseorang yang memiliki tujuan contohnya Muhammad Al-Fatih. Ia memang dididik dengan satu tujuan semasa kecil untuk menaklukkan Konstatinopel.

Berapa lama?

Seorang ilmuwan dan peneliti berpendapat bahwa manusia membutuhkan 21 hari untuk melatih satu kebiasaan yang baru, sebagian lagi 28-30 hari, bahkan ada pula yang berpendapat hingga 40 hari. Kabar baiknya adalah bulan Ramadan bisa dijadikan sebagai ajang pembentuk kebiasaan ibadah yang baik.

Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah, yaitu yang dikerjakan terus-menerus. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagian Pertama Itu Sulit

Felix Siaw membahasnya dengan mengaitkan hukum fisika berupa kelembaman, di mana butuh energi yang besar untuk melakukan suatu kebiasaan baru. Sebab manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan keadaan semula. Contohnya saja ada orang yang terbiasa merokok dan mencoba untuk menghentikan. Awalnya memang terasa sulit, merasa tidak enak dan bahkan kehilangan, tapi lama kelamaan terbiasa. Sebab habits adalah candu. Bayangkan saja jika kita membiasakan solat tepat waktu. Insyaa Allah akan ada alarm otomatis yang mengingatkan.

Awalnya habits dilakukan secara sadar, lama kelamaan menjadi tidak sadar otomatisasi keahlian kita. Contohnya saja Imam Syafi’i. Ia bisa menghapalkan Al-Qur’an di umur 7 tahun karena ibunya adalah seolah hafidzah yang mengkhatamkan Al-Qur’an minimal 2x seminggu. Ia pun juga sering mendengarkan kawan-kawannya menghapal Al-Quran

Peraturan 10.000 jam untuk mencapai seorang ahli

Sebuah penelitian menyampaikan bahwa seseorang akan menjadi ahli dalam bidang yang ia pilih jika telah berlatih selama 10.000 jam di bidang tersebut.

Jika kita berlatih selama 3 jam/hari maka perlu 10 tahun untuk mencapai 10.000 jam itu. Bila kita menginginkan 5 tahun untuk menjadi seorang ahli, maka latihan itu harus ditingkatkan 6 jam sehari. Maka mulailah berlatih dan mengulang-ulang latihan.

Penutup

Buku ini sangat asyik untuk ditelaah setiap bagian-bagiannya. Selain mengandung motivasi untuk segera memperbaiki tatanan hidup. Juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca visual. Walaupun hanya hitam putih, terlihat jelas bagian-bagiannya. Mungkin inilah alasan pertama kali teman saya membeli buku ini.

Jenis pembaca pun untuk kalangan semua orang. Tak terpenting berada di posisi yang mana, buku ini sangat direkomendasikan dan kalau bisa pun suatu hari nanti saya ingin menghadiahi buku ini kepada orang lain.

Kekurangan dari buku ini adalah belum ada daftar isi. Untungnya, saya ada penanda buku berwarna, jadi lebih mudah mengambil bagian yang ingin dibaca ulang atau ditekankan dalam hidup. Kabarnya, buku ini dicetak ulang dengan cover yang lebih baru lagi. 

Thanks Nurainina Farassari for change reading this book.

Rating personal­čîč : 5/5

Belajar Banyak Hal dari Buya Hamka Ulama Umat Teladan Rakyat

Belajar Banyak Hal dari Buya Hamka Ulama Umat Teladan Rakyat

 Ada seorang penulis dan juga seorang ulama Indonesia.

Namanya semakin terkenal semenjak kemunculan film di bioskop ketika lebaran tahun 2023 atau bertepatan 1444 H. Banyak orang berduyun-duyun bahkan rela para santri untuk menonton film Buya Hamka beramai-ramai. Tak terkecuali saya, nekat mengambil jam malam walaupun tubuh lelah. Apakah saya menikmati menonton filmnya?

Ya, saya sangat menikmatinya. Namun di awal saja, ditambah lagi bahasa yang digunakan adalah bahasa daerah. Pertengahan hingga akhir, saya pun tertidur pulas. Hingga tersadar bahwa film telah berakhir.

“Berarti ini adalah kode supaya bisa membeli bukunya,” ucap saya kepada teman adik saya. Tak lama setelah ucapan itu, selang seminggu kemudian. Bang Roby yang merupakan salah satu anggota FLP Medan membagikan postikan status WA.

Alhamdulillah, ketika lebaran ini. Walaupun saya sudah bekerja, ada orang baik yang memberikan THR dan uang itu pun saya gunakan kali pertama di tahun ini untuk membeli buku tentang Buya Hamka.

Cover Buya Hamka Ulama UmatTeladan Rakyat

Identitas Buku

Judul  Buku : Buya Hamka Ulama Umat Teladan Rakyat

Penulis : Yusuf Maulana

Jumlah Halaman : 352

Penerbit : Pro-U Media

ISBN : 978-602-782-94-4

“Apa sebabnja maka djadi begini? Mengapa telah tuan pilih djalan jang sepatutnja tidak tuan tempuh, djika dibandingkan dengan riwajat tuan selama ini? Mengapa tuan tiada tahan menderita?”

~Menunggu Beduk Berbunji (1949)~

Masa Kecil Seperti Anak-Anak  Pada Umumnya

Berbeda dari prasangka banyak orang. Orang baik, pasti kecilnya juga baik-baik. Ternyata Hamka adalah orang biasa. Masa kecil pada umumnya yang dekat dengan kata kenakalan. Salah satu kesalahan terbesar hingga ayahnya, Haji Rasul marah besar dan kali pertama sebuah tongkat akan mendarat di kakinya. Hamka berteriak memohon ampun dan orang terdekat melerainya. Kesalahannya adalah berpura-pura menjadi mantri cacar dan mencacar teman-temannya kemarin. Ia menggunakan duri limau sebagai alat cacar. Sehingga teman-temannya meringis kesakitan dan ada pula yang berdarah.

Namun yang namanya kesalahan, tak mungkin pula patut ditiru dan cukuplah menjadi sebuah pelajaran. Ada pula yang menarik hati. Ketika masa anak-anak, Hamka juga kesulitan membaca Al-Quran, terlebih lagi kakaknya, Fathimah yang mengajari. Jika Haji Rusli memberikan hadiah Hamka akan diarak naik kuda. Maka kakaknya akan menghadiahi cubitan jika tidak bisa. Rupanya bukan hadiah yang Hamka tuju. Melainkan karena cubitan dan gigitan yang tak terhitung membuat Hamka lebih takuti.

Hingga suatu hari murid perempuan kakaknya turut mengaji. Tidak diberikan ancaman berupa cubitan dan gigitan, walaupun datangnya dua bulan lebih lambat dari Malik. Alhasil mengaji lebih lebih cepat dan perkembangannya menyamai Malik. Malik yang tadinya hanya mengulang-ulang, menjadi lebih semangat dan berteman baik dengan temannya. Kawannya gembira dengan jawaban Malik yang ingin terus sama-sama dan tamatnya pun sama-sama. Hari-hari berikutnya kedua bocah itu saling tolong menolong saat belajar mengaji hingga akhirnya mereka bisa menuntaskan lembaran Al-Quran bersama.

Isi Buya Hamka Ulama UmatTeladan Rakyat
Cerita Buya Hamka yang belajar ngaji dengan Kakaknya, Fathimah

Kehidupan di usia Dewasa

Tulisan dalam buku ini tidaklah runut dipaparkan saat usia dewasa. Sepintasnya akan saya berikan contoh kehidupan setelahnya. Hamka yang kita tahu ia hanya memiliki satu istri saja di masa muda setelah pulang dari Makkah, yaitu Siti Raham. Rupanya ia karena kehidupannya  di masa kecil. Ibunya diceraikan oleh ayahnya. Sehingga ia tahu bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan yang ditinggalkan. Meskipun pernah disuruh ayahnya untuk menikah lagi. Hamka tetap pendirian hanya beristrikan Siti Raham saja. Sampai  istrinya meninggal. Barulah ia menikah lagi.

Hamka memiliki kepribadian yang cerdas dan tenang. Itulah mengapa banyak orang yang menyukainya. Meskipun berbeda agama sekalipun. Ia tetap berperilaku baik kepada mereka seperti saudara sendiri. Bahkan dalam cerita ada yang meninggal  pun mereka datang.

Pikatan Kata di Mimbar

Pada usia 17 tahun, Hamka menambah terus jam terbangnya sebagai juru siar Islam dan anti-komunis. Ia menjadi pengawal ayahnya berkeliling kampung. Ia pula yang membukukan pidato teman-temannya di surau Padang Panjang dan dicetak kemudian dinamai dengan Khathib Ul-Ummah. Inilah karya pertamanya dalam tulis menulis mengingat pula pidato teman-temannya itu sebenarnya dialah yang membuatkannya.

Hamka memang pandai berkata-kata. Menyadari kemampuan Hamka. Haji Rasul tidak  ingin anaknya besar kepala, berpuas diri. “Pidato-pidato, lezing-lezing saja percuma. Isi dada dahulu dengan pengetahuan, baru ada artinya pidato itu.” Dengan kata lain, Haji Rasul ingin anaknya belajar dan mengingatkan untuk tidak tergelincir dengan filsafat. Setelah berumur 26 tahunlah, saat ia sudah menikah. Ia mau belajar langsung pada ayahanda tercinta tanpa paksaan sebagaimana masa kecilnya.

“Bijak berkata-kata berarti tiga perkara; perasaan yang halus, kefasihan berkata, dan kekayaan bahasa. Lidah yang gagap dan gugup, tidak akan dapat menghasilkan apa-apa.”

Buya Hamka yang Tak Mendendam

Senin, bertepatan 27 Januari 1964, Hamka dibawa polisi yang kemudian diintrogasi dan dituduh masuk dalam gerakan makar pada pemerintah dan rencana pembunuhan Presiden dan Menteri Agama. Sejak saat itu ia mendekam dibuih selama 2 tahun 2 bulan. Sedih nian memang, Buya Hamka difitnah. Padahal Soekarno sendiri adalah sahabatnya. Hingga pada wasiat Soekarno pun, Buya Hamka menjalankannya yaitu menjadi imam dalam solat jenazah.

Walau dengan rasa sepi selama di penjara. Buya Hamka menghabiskan waktunya dengan buku setelah ia usai dari sakit disentri yang menyerang. Kemudian menyelesaikan tulisan yang paling fenomenal, yaitu Tafsir Al-Azhar.

Selama di penjara pun. Biasanya penjagaan ketat, tapi di bulan Ramadan penjagaan tidak begitu ketat lagi. Ternyata, setelah ia bertanya kepada para penjaga. Rupanya mereka pada ketakutan melihat sosok berjubah putih berada di depan penjara. Pengalamannya dituangkan dalam Tafsir Al-Azhar yang ia tulis bahwa setiap orang memiliki peneman.

Kesan Membaca Buku Buya Hamka Teladan Umat

Banyak hal yang belum tersampaikan. Setidaknya mewakili isi buku. Tentang kalimat indah yang tertuang dan kejadian yang menarik untuk diceritakan. Rasanya tak mungkin kalau menceritakannya secara tuntas di sesi Resensi kali ini. Penikmat sejarah akan mudah memahami isi buku. Namun bagi saya yang dulunya paling malas kalau dengan sejarah walaupun bolak-balik dihapal tetap saja tidak memahami. Pada bagian keislamanlah saya bisa menyambungkan pemahaman dari tulisan sebelumnya. Itu pun pada waktu itu sempat terucap ingin belajar sejarah islam.

Begitulah ilmu akan sampai ketika Allah swt mengizinkani. Kita sebagai mana manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Walaupun buku ini termasuk buku yang saya sukai, tapi buku ini juga termasuk buku yang paling lama dibaca. Hampir sebulan juga saya baru selesai membacanya.

Rating personal­čîč : 4,5/5

Tantangan Guru Muslim Abad 21

 

Tantangan Guru Muslim Abad 21

Judul Buku : Guru Muslim Abad 21

Penulis : Intan Irawati

Jumlah Halaman : 234

Penerbit : Elex Media Komputindo

ISBN : 978-602-04-4752-0

Seringkali kita mendengar bahwa jadilah pembelajar sepanjang hayat dan menuntut ilmu bagi seorang muslim hukumnya wajib. Lalu bagaimana dengan menjadi seorang pengajar khususnya di era abad 21?

Untuk mencapai fase tersebut tentu tidak dilakukan secara instan. Selain memliki kualifikasi sebagai guru, guru juga harus memiliki beragam kemampuan, yaitu kemampuan sosial, pedagogi, kepribadian, dan profesional. Maka tidak ada alasan sebagai guru tidak berkembang.

Permasalahan akhlak siswa sering menjadi buah bibir di kalangan para guru. Bagaimana cara mengatasinya dan hal-hal apa yang mendorong siswa untuk berbuat baik. Guru menjadi role model yang bisa ditiru oleh siswanya. Sehingga bukan hanya ilmu pengetahuan saja yang diberikan, tapi bagaima pendidik bisa membentuk karakter siswanya menjadi  lebih baik lagi dari masa ke masa. Sebelum menjadi pendidik untuk generasi berikutnya. Hal yang perlu dididik adalah diri sendiri supaya bisa selalu berperilaku akhlakkul karimah dan juga cerdas.

1.       Tingkatkan Kualitas Hidup dengan Membaca

Kegiatan membaca harusnya menjadi kebutuhan bagi seorang guru. Terlebih lagi ayat pertama Al-quran yang diturunkan tentang Iqra’ yang artinya membaca. Sehingga membaca buku bukanlah sekedar hobi, tetapi kebutuhan bisa ditularkan ke sesama guru juga siswa. Pilihan bacaan bukan hanya sekadar membaca, tetapi bagaimana bacaan itu bisa bermanfaat, bersifat membangun, dan membawa perubahan.

“Perumpamaan orang mukmin yang suka membaca Al-quran seperti buah utrujjah. Baunya harum dan rasanya lezat. Dan orang mukmin yang tidak suka membaca Alquran seperti buah kurma, baunya tidak ada dan rasanya manis. Dan perumpamaan orang munafik yang suka membaca Alquran seperti buah raihanah, baunya lumayan dan rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca Alquran seperti buah hanzholah, tidak memiliki bau dan rasanya pahit.” (HR Muttafaq alahi)

2.       Jadilah Idola Bagi Mereka

Sebelum menjadi guru, semua orang pasti pernah menjadi murid dan biasanya kehadirannya selalu menjadi dua kemungkinan. Kehadiran yang ditunggu dan tak ingin ditunggu. Kalau kehadirannya ditunggu oleh siswa, bisa jadi karena mengajarkan keren, asyik, tidak membosankan. Sedangkan alasan untuk kehadiran guru yang tidak ditunggu adalah bosan atau bahkan melihat wajahnya saja sudah membuat malas.

Menjadi idola juga bukan sembarang idola modal terkenal. Namun memang memberikan teladan yang baik. Seperti datang lebih awal, sudah melakukan ibadah harian, dan bertutur kata yang baik. Guru yang ramah, murah senyum selalu menjadi pusat perhatian banyak orang. Tidak hanya di kalangan para siswa, tapi juga di kalangan para guru. Sekilas, setelah melihat kompetensi guru begitu banyak. Ada kecemburuan yang menghampiri. Mampukan menjadi guru yang terbaik sesuai dengan versi terbaiknya diri atau bertahan dengan karakter yang seperti sekarang?

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang berutung.” (QS. Ali Imran : 104)

3.       Menyajikan Pembelajaran Bermutu

Bercerita tidak hanya disenangi oleh anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Pada sela-sela pelajaran, guru bisa menceritakan kisah perjalanan Rasul atau tentang sejarah islam. Sehingga kisah yang diingat anak-anak tidak hanya tentang dongeng dan cerita rakyat saja. Biasanya kisah selalu memiliki hikmah yang bisa dipetik dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ice Breaking di saat pembelajaran mulai bosan. Pada halaman 135 disebutkan bahwa ada banyak ice breaking yang bisa diterapkan di dalam kelas, seperti games, menyanyi, senam, kalimat pembangkit semangat, story telling, tepuk tangan, senam otak, humor, dan tebak-tebakan.

Praktik, belajar, dan bermain selalu memberikan kenangan lama yang membekas dibandingkan hanya sekedar membaca, menulis, dan mengerjakan soal di kelas. Bahkan dalam pemahaman, praktik selalu menjadi metode yang efektif. Hanya saja kelemahannya adalah membutuhkan waktu yang lebih lama.

Analogi dan perumpamaan. Bagi guru, kemampuan membuat analogi dan perumpamaan sangat diperlukan untuk mengukur pemahaman konsep dengan cara membentuk persamaan. Analogi mengakibatkan adanya hubugan kesamaan antara konsep sehingga menurut Chotib, 2011 bisa memecahkan masalah yang dihadapi berikutnya.

Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab. Penggunakan tiga bahasa tentulah akan menjadi bermanfaat untuk peserta didik. Mereka disiapkan untuk menghadapi tantangan di era abad ke 21. Penggunaan Bahasa Inggris karena Bahasa tersebut merupakan bahasa Internasional. Sementara bahasa Arab karena Al-quran sendiri merupakan bahasa Arab.

Internet, pisau bermata dua. Berpegang kepada Alquran sebagai pedoman hidup bagi setiap muslim maka aplikasi ICT (TIK) dalam dunia pendidikan ditujukan untuk meningkatkan kualitas pribadi muslim dan hasil pendidikan islam itu sendiri. Guru seyogyanya memberikan arahan bagaiaman memanfaatkannya dengan baik. 

Tantangan Guru Muslim Abad 21 Sesungguhnya

Penutup

Pada bagian ini, yang menjadi insight tersendiri adalah bagaimana Intan Irawati memberikan sebuah penekanan bahwa anak tidak boleh dilabelin. Misalnya mengucapkan bahwa anak tidak pintar atau tidak akan sukses di kemudian hari. Adanya ketidakbolehan melabeli siswa membuat guru memperlakukan siswa sama dengan siswa yang lainnya.

Pemaparan yang disajikan buku Guru Muslim Abad 21 menggunakan bahasa ringan sehingga lebih mudah menelusurinya hingga akhir. Walaupun tidak disajikan penulisan Bahasa Arab sebagaimana buku-buku yang lain. Makna dan kandungannya menjadi pokok utama dalam pembasan. Ada kisah dan motivasi untuk terus berkembang.

Selain itu, yang menjadi ketertarikannya adalah cover buku yang menarik serta jumlah halaman yang tidak terlalu banyak membuat buku ini ringan dibawa ke mana-mana. Liburan sembari membaca buku menikmati pemandangan teduh sangat menyenangkan.