Pantaskah Kita Duduk Bersama? (Episode 1)

Pantaskah Kita Duduk Bersama? (Episode 1)

Kupikir Dia Racun, Ternyata Amunisi

Bagaimana cerita ini bisa dimulai? Ah, sebenarnya itu sudah sangat lama. Aku berusaha mengorek penggalan masa silam yang paling samar tentang hadirnya lelaki menemukanku lebih dulu. Kupikir pun begitu, aku biasanya menemukan orang lebih dulu dikarenakan aku yang sering menyembunyikan identitas dari khalayak ramai.

Bagiku, aku adalah orang biasa. Segala pencapaian yang kupunya kalau bisa nggak usah orang tahu. Aku takut mereka akan minder dengan cara berpikirku yang tidak bisa diam, pantang jalan di tempat, dan bawaannya selalu ingin berkembang. Jika kedapatan aku terbengong enggak karuan, rasa stress itu menghampiriku dan malah membuatku menjadi sakit.

Namun ternyata, bukan kemampuan otak yang tidak berpikir membuatku sakit melainkan mengenali kecerdasan emosionalku yang paling buruk. Padahal aku adalah salah satu makhluk paling perasa. Saking perasanya, kupendam sendirian bersama ruang yang membisu. Hingga rasa sakit itu terkadang menjelma menjadi penyakit aneh. Bahkan tak mampu kutuliskan bentuk perasaanku yang tak terbentuk sekalipun. Bertahun-tahun kujalani, hingga akhirnya aku bertemu dengan ia. Si makhluk dengan segala pemikirannya yang acap kali tak jauh berbeda dengan lingkungan terdekatku.

Ternyata, kami sungguh berbeda. Dia dengan Pemikirannya dan aku dengan Perasaanku. Sama-sama sering berpikir dengan pikiran dan perasaan masing-masing. Aku yang tak ingin mengatakan bagaimana perasaannku, berharap dia akan mengenali perasaanku dan dia dengan keegoannya seolah tidak terjadi apa-apa. Emang bisa interaksi antara lawan jenis dalam waktu yang lama? Sungguh itu sangat sulit, manusia yang paling berdampak adalah si pemilik perasaan lebih dulu. Entah aku atau dia, aku pun enggak tahu. Katanya lelaki itu lebih gampang jatuh cinta, sementara perempuan perlu waktu untuk mencintai seseorang.

Racun itu bernama ketidakpedulian dengan perasaan

Kenapa orang bisa sakit? Hal yang paling pasti adalah tingkat imunnya yang paling rendah. Namun kebanyakan rasa sakit itu datang karena pemikiran dan pemikiran yang membuat cemas itu pula sering kali tidak disadari.

Flahsback

Pagi itu dokter itu memarahiku, melalui sorot matanya aku langsung mengeluarkan air mata sesenggukkan. Ia memang tidak bertanya padaku seperti perempuan pada umumnya karena ia merupakan dokter pria.

“Kamu enggak bisa bohong! Seharusnya kamu makan lebih congok dengan obat-obatan ini bukan malah sebaiknya. Sebanyak apapun obat yang kami beri, jika jiwamu sakit akan tetap sama saja. Enggak ada gunanya,” ucapnya lantang kemudian meninggalkanku di ruangan itu bersama perawat yang berusaha berbicara padaku.

Anehnya, aku tidak menyadari bahwa obat paling mujarab untukku yang sakit bukanlah Paracetamol atau Amoxillin, ternyata ruang bercerita dengan orang-orang tertentu. Tipe si manusia perasa itu ternyata hanya butuh ruang bercerita untuk mengobati jiwanya yang tengah terluka.

Ternyata selama ini aku melukai diriku sendiri atas dasar takut berdosa. Takut berdosa mengingat manusia yang mengitari mimpi panjangku. Kusiksa diriku sendiri dengan menolak perasaanku sendiri, menolak perasaan aku cenderung memikirkannya, serta menolak kebahagiaan yang datang padaku. Tak usah basa-basi, kutolak rasa cinta yang Allah beri padaku dan ternyata itu yang membuatku sakit hingga kurus kering.

Hatiku sungguh sangat buta, aku lebih memilih beranjak pada masa depan yang belum pasti. Kusampaikan pada diriku bahwa yang pertama ia jelas bukan mahramku dan kedua di hatinya bukan aku yang diinginkannya. Aku sungguh egois sekali bukan, sebagai perempuan siapa yang tidak ingin dijadikan sebagai ratu di hadapan seorang lelaki yang dicintainya? Sayangnya, aku terlalu buta hingga melupakan aku bukan siapa-siapa di hadapannya. Merasa kehilangan? Memiliki pun tidak. Segera kusimpulkan bahwa cinta itu sungguh sangat membutakan.

Beberapa pekan kemudian aku sudah tidak kembali lagi ke Puskesmas. Hingga pada suatu waktu aku harus kembali ke sana, tapi tidak bertujuan untuk mengobati diriku yang sakit, melainkan adikku yang paling bungsu. Perawat itu pun sungguh bingung melihatku, kenapa aku bisa sehat dan seceria itu? Ia bahkan berpikir kalau aku sudah taken dengannya seperti menikah dengannya atau malah sudah move on benaran.

Alis mataku terangkat seketika, “aku menerimanya Bu. Kuterima perasaanku apa adanya, kuterima bahwa aku memang mencintainya.” Sejak saat itu, racun yang membuatku menjadi sakit kini menjadi obat bagiku bahkan sesekali menjadi amunisi. Aku berusaha memahami emosional di masa lalu. Justru perasaan benci itu berangsur-angsur menjadi cinta dengan sendirinya secara sadar. Kalau enggak disadari mungkin aku sudah menjadi tengkorak. Kan berat badan turun sekilo dalam rentang satu minggu.

 Hadirnya sudah sangat lama

Namanya cinta, sudah jelas dong membutakan. Alasan paling signifikan kenapa aku menolak perasaanku dengannya adalah aku sudah memiliki perasaan mendalam dengan orang sebelumnya. Meskipun aku mengetahui bahwa aku ditolak mentah-mentah, dijauhi secara halus, diperlihatkan secara nyata ia dengan gebetannya. Toh aku bahagia saja karena kupikir syarat untuk mencintai adalah tidak menuntut apa-apa dan tidak menuntut pula balasan. Alasan paling klasiknya begini, bahagia ketika melihat orang dicintai bahagia.

Namun yang satu ini, aku tidak mengenalinya. Jika tidak mengumpulkan buku agendaku dan kubuka satu per satu. Mungkin aku tidak akan pernah tahu, bahwa dia adalah manusia yang kusebut dengan Jauzi di masa silam. Jauh sebelum aku berinteraksi secara nyata dengannya. Jauh sebelum aku menyatakan bahwa aku siap menikah. Ah, ahlinya kisah mengagumi dalam diam adalah aku. Singkatnya, dia itu sebenarnya pelengkap ide episode ceritaku yang lengkap dan penyelesaian masalahku dengan tenang. Kuperhatikan sekali lagi semua ide novelku. Rata-rata aku mengagumi orang, mengabadikan momentumnya, tapi tak kunjung selesai kutulis. Sedangkan dengannya, ideku berhamburan. Bahkan novel itu bisa kuselesaikan dalam sebulan. Aneh ya, tapi nyata. Bahkan dengan tidak berinteraksi sekalipun ia sudah seberdampak itu.

Bersambung

Keterangan :

Congok : banyak makan

Idul Fitri 1445 H Ala Diary Harumpuspita

Idul Fitri 1445 H Ala Diary Harumpuspita
Nguap sedikit udah ketinggalan zaman, untung enggak beda generasi. Mungkin kalau yang beda generasi ini nih ketika saya sudah menikah. Hahah, lucu ya. Entah kapan pun nikahnya. Besok sajalah, kalau enggak kesiangan.

Oke, lebaran pertama bertepatan 1 Syawal 1445 H. Tahu nggak apa yang terintas dalam benak? Banyak banget.

Hal-Hal yang terlintas di dalam benak ketika lebaran tiba ala Diary Harumpuspita tahun 1445 H.

1.       Dosa

Pertama kali wajib ingat dosa, sebelum diingatin sudah sadar duluan. Hmm, itu bertepatan tadi malamnya. Pas malam takbiran. Orang-orang bersuka cita meraih kemenangan sambil mengucap kalimat takbir banyak-banyak. Lah, saya malah teringat dosa yang masih bergelimpangan. Ingat dosa dan bawaannya minta ampun mulu. Emang dosa lu sebesar apa sih?

Ya, enggak tahu sih. Pokoknya kalau hati sakit enggak ketulungan, kan tandanya ada dosa tuh yang bermuara. Dosa radar budek kalau dipanggil emak bapak. Terus tentang waktu lagi, masih lalai. Enggak tepat waktu gitu kalau solat karena ketiduran. Itu rasanya sudah seperti orang kehilangan gaes. Masa iya, azan enggak dengar sama sekali. Bukannya itu pertanda kalau ada dosa yang menghampiri makanya budek atau jangan-jangan si setan yang lagi mendominasi. Ah, tuh kan. Ujung-ujungnya menyalahkan setan lagi, kan menjadi dosa karena berburuk sangka sama setan.

2.       Turunin standar kebahagiaan sampai paling rendah

Bagi saya, adik itu kayak bestie. Qadarullah, ia kecelakaan ketika malam minggu menjelang lebaran yang mengharuskan dirinya rehat di kamar. Bersamaan dengan itu kami menyusulnya dan ternyata sepeda motor mogok dikarenakan tali belting putus dan ayah saya jatuh dari kereta ketika perjalanan pulang. Alhasil, di rumah pada bersakitan. Tinggal saya dan adik saya yang paling bungsu terbilang paling waras.

Sebenarnya saya tuh masih belum siap saja dengan pertanyaan kapan dan kenapa. Takut-takut kejadian sebelumnya terulang lagi ketika bertemu dengan orang lain ketika lebaran. Kalau dulu senangnya bukan main bertemu dengan keluarga yang datang ke rumah. Tahun ini memang sebaiknya lebih sering ngendap di rumah saja deh biar lebih aman gitu. Kebetulan adik juga sedang sakit kan, kan jadi ada alasan nggak ke mena-mana. Walaupun kadang mikirnya gitu, kalau memang saya ditakdirkan untuk mengalami kejadian serupa seperti tahun-tahun yang lalu. Bukankah itu pasti terjadi? Ngapain repot, yang penting sekarang ini saya bahagia walaupun kelihatan random dan absurd sekalipun.

3.       Ngebayar hutang tugas yang belum terselesaikan

Setiap minggu, saya paling rajin untuk menulis catatan dosa yang harus saya selesaikan. Alhasil lumayan banyak jugalah kalau dihitung-hitung. Selama masanya kerja, saya tak punya banyak waktu untuk menyelesaikannya. Pagi, siang, hingga ke sore saya mendedikasikan diri ke sana. Sementara kalau malam waktunya berkhalwat kepada Allah. Jadi, liburan ini adalah cara yang paling tepat untuk menyelesaikan segala hutang tugas.

4.       Makna kesendirian yang terasa banget

Sebenarnya saya enggak sendirian, ada Allah beserta para malaikatnya. Cuma yang menjadi nyesnya ini bukan pekara kamu kapan? Tapi lebih kepada, “semoga Henny diberikan jodoh yang sholeh.” Seketika perasaan saya nyesnya engggak ketulungan, disambut lagi dengan abang yang ngegodain pasal romansa saya tidak normal dikarenakan belum pernah pacaran di umur yang setua ini. Tahu ekspresi wajah saya? Masam bukan main dong ya. Susah benar menjaga diri untuk tidak masuk ke zona perzinaan. Malah kena kompor, untung enggak meledak sih. Saya tahu dengan diri sendiri yang sebenarnya kalau urusan perasan itu ngebuat diri lemah tak berdaya. Bahkan menjadi shaleha sekalipun juga enggak menjamin diri aman dari zona mabuk asmara. Yah, daripada jatuh ke tangan yang salah mending menjaga diri sampai akhirnya dihalalin. Bunda Maryam saja bisa menjaga kehormatannya, masa kita sebagai wanita enggak bisa sih. Hmm, untungnya teman-teman yang lainnya pada shaleha, jadi radar kuat kalau digoyang dengan pernyataan abang saya bak angin tornado itu.

Mungkin selama ini saya sudah ketemu jodoh sebenarnya, cuma memang belum waktunya saja yang disatuin. Jadi, mohon banyak-banyak bersabar. Pada segmen lain bakalan saya buat deh kriteria calon pendamping Diary Harumpuspita.

5.       Apa kabar perkembangan diri?

Sebagai orang yang fleksibelitas, saya tuh suka berpikiran kalau karakter itu bisa diubah sesuai dengan maunya diri seperti apa. Walaupun butuh usaha yang luar biasa.  Enggak terpatok dengan karakteristik zodiak atau golongan darah. Ya, walaupun setelah diintip-intip juga enggak ada bedanya. Makanya saya kaget luar biasa ketika mengetahui kalau memang tingkat kepekaan perasaan itu lebih dominan dibandingkan logika. Beda sendiri soalnya sama saudara yang lain. Sampai mikirnya begini, ya Allah kenapa hamba berbeda? Cuma sebaper-baper saya kamu mengatakan nggak mood itu diusahakan jangan keluar. Ah, iya. Sikap enggak enakkan itu barangkali yang menjadi penyebabnya.

Yah, anggap sajalah punya perasaan yang lebih dominan itu sebagai kekuatan karena memang jarang banget ada, karena orang yang enggak peka dalam hidup. Paling dihidupkan saja tingkat kepekaannya pada hal-hal yang tepat, tapi yang namanya juga hidup. Capek benar, kalau hidup cuma mikirin perasaan. Ya enggak jalan-jalan. Makanya cara mengatasinya ketemu orang yang lingkarannya benar-benar positif. Mari didekati secara ugal-ugalan.

Jadi, mulai lagi dengan kebiasaan baru untuk membentuk sebuah karakter? Siapa takut.

6.       Enggak beli baju nggak buat galau kok

Sudah dewasa malah enggak beli baju. Hmm, enggak suka style ya? Kayaknya wanita yang kurang memperhatikan style dalam hidup adalah saya. Senang banget kayaknya kalau mengenakan pakaian ala sederhana. Bukanya gimana ya, enggak suka style. Saya suka style kok, bahkan kepikiran untuk menjadi designer pakaian syar’I ketika masih kecil. Masalahnya stok pakaian sudah banyak banget di rumah. Takut saja enggak bisa mempertanggung jawabkannya di akhirat gitu. Yah, walaupun pakaian yang ada di rumah kebanyakan merupakan hibah, tapi kan itu pakain layak pakai juga. Mending uangnya buat dibelikan buku atau kasih emak saya saja deh biar bisa makan enak. #plak.

7.       Waktunya berkarya ugal-ugalan

Tunggu nih, otak saya tengah berpikir pasal ini. Pada masa silam, saya punya target yang besar dalam menjalani hari. Kalau setiap hari minimal menghasilkan satu karyalah begitu. Bahkan sampai di titik puncaknya adalah estimasi satu jam satu artikel atau satu bab novel. Sampai segitu produktifnya ya kan. Sekarang ini, emang bisa melakukan hal yang serupa?

Yah, kalau dibilang serupa sih bisa. Cuma enggak instan saja, ibaratnya baru merangkak lagi, berjalan, baru bisa berlari. Hihi, kita lihat saja perkembangan nanti. Bakalan terdistrak lagi nggak ya? Bakalan goyah lagi nggak ya? Atau semangatnya sama nih seperti buntut tikus.

Oke, itu saja yang bisa saya sampaikan pada segmen kali ini. Semoga Allah Swt memberikan taufik hidayah dan bisa terus saya genggam dalam hidup. Semangat berproses. Mari bertumbuh sesuai dengan maunya Allah dan maunya hati kita, jangan maunya orang. Enggak tenang hidupnya ntar.

Muhasabah Pertama 2024

 

Cara Cepat Untuk Bertumbuh

 Cara Cepat Untuk Bertumbuh

Sejatinya kita tidak ada yang benar-benar siap.

Aku termangu dan tergugu tanpa merasa bersalah tentang kewajibanku sebagai penulis yang seharusnya memang menulis. Nyatanya­­ dalam beberapa bulan belakangan ini toh aku vakum dari dunia blog. Padahal untuk mendongkrak keuangan blog ini sungguh sangat signifikan. Minimal dua ratus ribu per bulan untuk ongkos minyak juga enggak ke mana kan.

Yang Terjadi di Bulan Januari

Bulan pertama aku mendedikasikan diri sebagai novelist. Novelku yang pertama di tahun 2024 ini selesai kutulis dan itu merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa. Pada masa itu, waktuku nyaris tersita untuk yang lain, bahkan kalau di bilang sungguh tidak memungkinkan. Hanya karena satu perkataan dari ayahku yang mendukungku, “Kamu mau menjadi penulis kan? Satu buku satu bulan.” Begitu jawaban itu keluar dari bibir ayah. Rasa hatiku girangnya bukan main dan Alhamdulillah selesai pada waktunya. Sungguh, karya itu adalah karya terbaik yang pernah kutulis. Sebab cara penulisannya pun penuh dengan penjagaan.

Milad Februari Kebahagiaan Berujung Kehanyutan

Sungguh, aku tidak tahu bagaimana caranya mengekspresikan rasa bahagia. Hal yang kutahu bagaimana mengekspresikan semua rasa sedih itu menjadi sebuah karya. Namun kebahagiaan sungguh membuatku bingung. Aku mulai mangkir dalam menulis. Jejak tulisan itu tak ada lagi. Aku sungguh sibuk menghadiahi diriku sendiri dengan kebahagiaan yang bersamaan. Satu karena karyaku selesai dan yang kedua karena Diary Harumpuspita sedang MILAD yang ke-4 tahun. Seharusnya ada sebuah tulisan yang kusajikan. Karya dibalas oleh karya. Lalu kenapa tidak ada?

Sayangnya pertanyaan itu tidaklah kulontarkan di bulan Februari yang penuh dengan musim semi. Kebahagiaan itu sungguh membutakan jalan untukku bertumbuh. Apakah kebahagiaan merupakan sebuah kesalahan? Seringkali ia melalaikan, seringkali ia begitu menipu mengajakku untuk melupakan tanggung jawab mana yang harus dipenuhi.

Terlebih lagi ada kehadiran yang tidak kusangka-sangka, yaitu Wifi di rumah. Seharusnya pertumbuhanku sungguh sangat pesat. Tidak perlu mengkhawatirkan lagi kenapa aku harus pulang lama di sekolah demi mengerjakan tugas. Bahkan ketika tiada satu pun yang tersisa di sana.

Dulu, ketika aku membayangkan memiliki banyak kuota. Hal yang kulakukan adalah bagaimana bisa menjadi seorang blogger professional dan juga konten kreator. Namun ketika saat ini fasilitas serba ada, lantas kenapa masih belum bertumbuh juga? Apa yang salah sebenarnya? Justru dalam kesempitan aku memiliki beragam cara untuk keluar dari lingkarannya, tapi kenapa dalam kelapangan justru malah melalaikan?

Bahkan target bacaan saja aku mulai mengalami kemunduran secara drastis. Tidak seperti dulu yang penuh dengan komitmen dan perjuangan. Apa yang salah? Kupandangi emosional diriku yang ternyata aku masih sungguh sangat terlarut yang namanya kebahagiaan semu. Kebahagiaan yang justru membuatku bingung, bukan kebahagiaan sesungguhnya.

Bingungnya Maret, Tercerahkan di akhir

Aku sudah menemui sebuah akhir dari segala permasalah yang ada. Kemarin, sungguh itu adalah momen paling berharga. Ketika itu bertemu dengan coach Manu yang merupakan Sutradara di kota Medan. Ia menyadarkanku seketika tentang apa yang kualami sebagai penulis. Mandeknya yang membuatku jungkir balik tidak bisa menulis juga. Ternyata jawabannya hanya satu, “jangan-jangan selama ini sedang bingung.”

Aku termangu mendengarkan coach di ruangan yang syahdu itu. Pada pemandangan paling tenang, ada nuansa tumbuhan dan suhu ruangan yang cenderung sejuk membuat kesadaranku kembali. Kata-kata bingung itu bukanlah yang pertama kali kujumpai dalam hidupku di bulan ini.

Sebelumnya sudah kudengar kalimat itu dari orang yang memiliki nama juga. Bedanya yang kemarin-kemarin itu disampaikan dengan nuansa berasa tegang urat sajanya. Bukannya membuatku tersadar akan ucapannya, malahan emosionalnya membuatku sakit tak ketulungan. Mengajakku untuk pergi bersisihan atas luka yang selama ini tidak kuobati. Jadi, wajar saja sensitifnya luar biasa. Ibarat luka yang belum kering, tersiram jeruk nipis hingga membuatku meringis.

Harapanku saat ini dan di bulan yang akan datang

Gimana, sudah baikan?

Aku berusaha bertanya pada diriku sendiri. Ada rasa ketidakyakinan yang melingkupi diri. Namun tak tahu itu apa, tapi itu lebih mendingan dibandingkan aku merasakan baik-baik saja nyatanya tidak. Sebab dewasa ini kita seringkali dihadapkan dengan sebuah kondisi berpura-pura baik saja, sampai kita lupa sedang tidak dalam baik-baik saja. Sehingga ketika terkena angin kencang justru malah ambruk seketika.

Menulis itu Self Healing

Coach Manu mengatakan bahwa ketika kita sudah menuliskan masalah kita, tandanya sudah menyelesaikan masalah sebanyak 70%. Coba perhatikan, kenapa aku enggak menulis? Apa mungkin hanya faktor Bahagia saja? Bukannya kalau orang bahagia ia justru lebih banyak bercerita dan menghasilkan karya? Jangan-jangan selama ini sedang bingung, sedang bingung tentang perasaan diri sendiri.


Obat yang paling mujarab di saat sudah jungkir balik tidak juga menemukan ide. Ya, kita memang harus keluar hidup-hidup dari lingkaran itu. Bertemu dengan orang baru dan menemukan inspirasi baru. Sebab ranah penulis itu bukanlah antara aku dan layar persegi di sebuah ruangan belaka. Namun bagaimana aku bisa merasakan rasa yang sesungguhnya dan menuliskannya di dalam tulisan itu supaya ada nuansa hidup yang sesungguhnya. Writing by experience adalah sebuah tulisan yang mampu dipertanggung jawabkan kebenarannya dibandingkan hanya menuliskan kisah Fantasi belaka. Kalau memang genrenya merupakan kisah Fantasi ya sah-sah saja dong berimajinasi sebebas mungkin. Namun tetap ada logika yang harus bisa diterima juga kan. 

Kututup dengan Lafazh Basmallah dan Doa

Bismillahirrahmanirrahiim…

Ya Rabb, mungkin selama ini aku mengandalkan diriku. Padahal di balik beratnya yang kulalui ada Engkau yang selalu bersedia mendengarkan segala keluh kesah. Ya Rabb, jangan tinggalkan hamba walau hanya sekejab. Jangan biarkan hamba merasa tinggi hati atas semua ilmu yang kau titipkan pada hamba. Iringilah langkah kaki hamba selalu menuju kebaikan dan selalu mengingat-Mu. Ya Rabb, lembutkanlah hati hamba agar hamba bisa mendeteksi kepekaan lebih dini terhadap lingkungan sekitar hamba. Ya Rabb, hamba kembalikan segala debaran, bahagia, sedih, dan luka ini pada-Mu.

Belajar dari Bintang Bersama Wirda Mansyur

Belajar dari Bintang Bersama Wirda Mansyur

Proses Kreatif Penulisan Genre Self Improvement di Usia Muda

Seseorang dulu menjapri saya tentang Kak Wirda. Saya memang tidak tahu beliau, tapi rasa penasaran terhadap beliau menjadi tidak antusias karena pesan teman saya, tentang dia yang tidak merekomendasi beliau dalam pembelajaran.

Ternyata, hal itu sungguh teramat disayangkan bagi saya. Hanya dengan menerima bulat-bulat informasi yang dia sampaikan pada saya, tanpa kroscek terlebih dulu kak Wirda itu orangnya yang bagaimana ya? Maka ketika ada flyer dari KBM App di hari Rabu, 6 Desember 2023 saya memandangnya dengan tatapan biasa sembari bertanya, emang kak Wirda Bagaimana?

Meski dalam kondisi meriang di tubuh, saya mengikuti zoom meeting seperti biasa. Ayah pun marah pada saya, bukannya istirahat malah belajar. Bagi saya, yang sakit hanya tubuh saya. Sementara pemikiran masih bisa diajak bekerja. Sayang saja bila terlewat, barangkali ada informasi yang nyangkut di diri.

Persiapan KLI dan SWC 5

Seperti biasa. Ayah Isa menyambut para penulis dengan pembicaraan rahasia orang dalam di mana yta (yang tahu-tahu sajalah) membahas tentang kondisi finansial para penulis KBM App yang namanya tidak terkenal di penjuru dunia, tapi menghasilkan uang banyak dari menulis.

Sistem bagi hasil KBM App perhitungannya berdasarkan akumulasi. Apabila hanya mencapai 100 ribu dalam penjualannya, maka yang diberikan adalah keseluruhannya. Maka ketika bulan depan lagi ada pemasukan yang kisarannya ratusan ribu juga, 90% untuk penulis dan 10% untuk KBM App.

KLI sendiri adalah singkatan dari Kompetisi Literasi Internasional. Selain pemenang utamanya akan mendapatkan uang tunai, juga mendapatkan tiket gratis bootcamp. Rencananya, daripada bootcampnya hanya di Jakarta doang, terus mendapatkan pelatihan seperti biasa. Mending mereka melakukan perjalanan Singapore, Thailand  dan di sana belajar bagaimana menulis cerita berlatar belakang tempat.

Juri KLI kali ini adalah Mbak Asma Nadia dan Kang Maman. Nah, yang menjadi permasalahannya ketika mereka memiliki pendapat yang berbeda dari karya-karya penulis juara. Sehingga dilakukan diskusi terlebih dahulu untuk melihat kembali mana yang layak menjadi seorang pemenang.

SWC 5 akan diadakan pekan depan. Bagi Ayah Isa, ketika ada naskah bagus dan mau mempromosikan dan mengembangkan diri, mending melakukan jasprom alias Jasa promosi dengan mengusahakan ceritanya itu sudah habis. Orang lain tidak mau menunggu update-an cerita. Makanya ketika mau dipromosikan, usahakan bahwa sudah mencapai 50-60 bab, mendekati ending, atau malah sudah ending. Jasprom ini ada Tiktok Award dan Facebook Award.

KBM App akan memberikan performa yang bagus :

1.       Buktiin diri kalau yang merekomendasikan bagus. Cukup 1 saja yang penting bagus. Misalnya ada penulis pemula mau buat jasprom BTP 80 juta (dalam waktu 8 hari). Promoin bab 1, bab 2, dan masukkan tulisan yang sudah viral. Contoh yang sudah viral-> 3 juta views.

2.       Akun aktif

3.       Followers banyak

4.       Nggak iklan

Cerita sedikit orang yang sudah menggunakan fitur iklan. Ketika sudah tidak beriklan lagi, pemasukannya turun. Makanya sebagai pengalaman ada tayangan sampai 8 juta, tapi penghasilannya hanya ratusan ribu. Sementara kalau dia organik. 1 juta views saja sudah bisa menghasilkan 50 juta. Nah, itu pilih mana?

Views pemula biasanya 5.000

Views bagus biasanya 100.000

Views bagus banget biasanya 500.000

Mbak Ratih meledaknya dari FB, sementara Mbak BTP dari tiktok dan dia mampu menghasilkan 80 juta sehari.

5.       Profesional

KBM App sendiri memang low profile, but high income.

Waktu jasprom pun jangan 20 post sehari hanya untuk membayar utang promosi yang belum terbayar. Maka tentukanlah berapa yang harus diposting setiap hari. Jangan asal copy paste saja tanpa memperhatikan tanda baca. Jasprom juga harus punya harga diri dengan performa penulisnya. Pinter-pinter ketika membuka jasprom karena itu ada skill-nya.

Kita sebenarnya enggak pamer atau sombong, justru itu yang membantu penghasilan para penulis.

(semangat berkarya, semoga mencapai penghasilan akumulasi 1 M dalam waktu dekat, aamiin ya rabbal alamiin)

Talks show bersama kak Wirda Mansyur

Apa bedanya kontennya kak Wirda dengan konten yang lain? Bagaimana pula yang generasi Milenial bisa menghasilkan karya untuk Generasi Z? Kak Wirda ini sekarang sudah menerbitkan 7 buku.

Jawaban Kak Wirda

Berawal dari social media di tahun 2013. Saat itu belum ada sosok orang yang bisa ditanya-tanya tentang suatu perkara. Waktu itu mainnya di twitter yang sebelum akhirnya menjadi logo X akhirnya jadi mampir ke Youtube. Inginnya itu saya ingin membagikan informasi yang sedikit, tapi bervalue. Jadilah nulis di twitter tentang tips-tips menghapal Al-Quran. Gara-gara dari situ malah melebar ke mana-mana.

Impian kak Wirda menjadi penulis itu memang dari sejak kecil. Gara-gara baca buku Mbak Asma dan nonton semua film produksinya. Berangkat dari gemar membaca buku. Punya orang tua yang sangat supportive. Akhirnya ayah kak Wirda mengarahkan kepada seorang pementor yang juga merupakan penulis buku dan jadilah penulis buku.

Kata Ayah Isa. Kak Wirda ini memang bervalue walaupun enggak pakai teks cara bicaranya.

Kak Wirda pernah kirim naskah, tapi Alhamdulillah nggak diterima dan sempat ngedown. Biasanya orang punya impian, tapi hanya di ucapan doang dan tidak terbawa raganya sampai dia mau mewujudkan mimpinya.

Ia jalan-jalan ke took buku dan membayangkan bagaimana kalau buku saya berada di barisan top ten. Waktu itu umurnya sudah 10 tahun. Ia mengirimkan 5 naskah, tapi ternyata enggak diterima. Dia memberikan tips menghapal Al-Quran dan ternyata kekuatannya adalah menulis. Makanya kalau mau menghapal itu, ditulis dulu bahasa Arabnya.  Sampai-sampai ia berdoa kepada Allah (asa ngomong, tapi ngebet) Ya Allah, jangan biarkan saya yang mengejar penerbit, tapi biarkan penerbit yang mengejar saya.

Dulu ia mengira tulisannya sudah bagus. Ternyata setelah melihat diri yang sekarang tuh ancur banget. Dia pernah mendapatkan beasiswa ke New York tidak karena prestasi, melainkan karena guru ngaji. Ingin sekali membuat orang tergerak melihat tulisan saya. Awalnya enggak punya semangat, jadi punya semangat. Ternyata, tulisan bisa sepowerfull itu.

Cerita sedikit, sekitar 3 bulan ia bertemu seseorang. Ada testimony penghapal Al-Quran karena bukunya kak Wirda. Kalau mencapai 5 juz, dia minta hadiah bukunya kak Wirda. Begitu seterusnya sampai di Juz yang ke-19. Sampai pada akhirnya anak itu memiliki beberapa koleksi bukunya kak Wirda.

Qadarullah, gara-gara ibunya meninggal. Ia pun patah semangat dan nggak ada yang membelikan bukunya kak Wirda. Akhirnya ada orang lain yang bertemu dengan  anak itu dan membelikan koleksi bukunya kak Wirda. Lalu kak Wirda segera meminta Video Call dan berjanji akan membelikan buku kepada anak itu sebagai hadiah, menggantikan peran ibunya yang sudah meninggal. Jadi, ini adalah hal yang tak disangka ketika dipertemukan lewat karya.

Walaupun begitu, kak Wirda ingin sekali bisa menulis novel.

Buku apa sih yang sangat sulit kamu selesaikan?

Ia menuliskan buku Be The New You, yaitu melahirkan buku itu dari eksperimen. Eh, sekalinya dikasih pengalaman malah cukup terguncang. Sekarang kalau menulis itu kapan pun dan di mana pun ia bisa. Selalu fleksibel untuk menulis.

Apakah punya target dalam menulis buku?

Dia punya target yang cukup unik. Terbitnya di hari special, yaitu bertepatan di hari ulang tahun. Bunda Asma menambahkan bahwa kalau belum selesai, belum bisa disebut sebagai karya.

Enggak ada yang malas, yang ada tidak termotivasi. Motivasi yang tepat akan menjadi bahan bakar sampai menutup mata. Targetnya Bunda Asma adalah : bahkan sampai meninggal masih bisa menjadi mesin pahala.

Sedikit cerita tentang Mbak Salsa, anaknya Bunda Asma.

Mbak Salsa suka sama buku. Orang tua boleh mengajari, tapi nggak boleh memaksa. Enggak boleh depresi pula kalau seandainya target tidak tercapai. Mbak Salsa kalau dibacakan dongeng itu suka interaktif. Ia mau menjadi penulis ketika anaknya Bunda Helvie Tiana Rosa, si Faiz menjadi penulis. Jadi, sepupunya itu baru saja meluncurkan buku. Namun bukannya mendukung, malahan bilang begini kek Caca. “Emang kak Caca bisa?”

“Bisa dong, kan Bang Faiz sama Caca. Sama-sama makan nasi.” Ketika ada keinginan Mbak Salsa untuk menulis, maka ia pun diajari. Bahkan bukunya yang pertama pun harus dipangku dulu kalau menulis. Anak Penangkap Hantu itu ide awalnya juga dari Caca, tentang seorang anak yang menangkap hantu kemudian di letakkan di dalam toples. Mbak Salsa itu punya 12 buku di usianya yang ke 13 tahun. Sekarang Mbak Salsa sudah berusia 27 tahun dan memiliki seorang baby. Bahkan kemampuan dalam menulis itu membuat mereka runut dalam berbicara. Mbak Salsa ini proposalnya adalah menulis. Bahkan liontin yang di beli saja itu hasil dari royalty.

Begitu juga dengan Adam. Adam ingin menjadi penulis gara-gara nggak nulis menjadi tidak kompak sekeluarga.

Kembali ke ucapan Kak Wirda

Kalau keluarga penulis. Setiap sudut rumah pasti ada buku, tapi di situ dia belajar. Karena kebanyakan baca, jadi kebanyakan nulis. Inspirasi menulis itu karena baca buku orang dan kebetulan juga berhubungan dengan kehidupan.

Ketika kita mendapatkan media menulis, kemudian mendapatkan bimbingan. Itu adalah rezeki yang sangat masyaa Allah. Kita boleh lahir dari keluarga yang enggak suka sama buku, tapi lingkupi diri dengan orang yang suka sama buku seperti komunitas dan para pecinta buku.

Bahkan kak Wirda, tidak menggunakan konektivitas ayahnya. Meskipun itu bisa dilakukan. Makanya kalau layak terbit yang diterbitkan. Kalau enggak yah sudah.

Rencananya kak Wirda mau nulis genre Fantasi nih nanti ke depannya. Keseringan tuh, lihat banyak ide. Namun enggak tahu bagaimana cara menuangkannya. Kak wirda ini menulis buku yang bergenre self development. Kalau seandainya melebar ke mana-mana mending di-cut  saja jadi judul buku baru.

Kalau banyak ide gimana?

Jawaban Bunda Asma

Saatnya berhenti menulis, pikirkan dulu, apakah akan menguatkan tulisan, atau justru nantinya tidak fokus? Kalau seandainya tidak fokus, maka kembalilah ke kerangka awalnya. Mending royaltinya gede. Pada penulis KBM App ini memang enggak terkenal, tapi duitnya banyak. Bahkan ada juga loh seorang Ibu Rumah Tangga yang kerjanya mengurus anak dan hanya bermodalkan HP doang.

Tirulah hal-hal yang baik. Apalagi kalau ada pengarang yang akhlaknya baik dan bisa hits terus. Nggak harus terbit di gramedia. Bahkan Republika saja saat ini sedang jemput bola ke Pesantren. i

Sekarang di KBM App selain menjadi penulis, juga ada profesi baru dengan menjadi penyedia Jasa Promosi. Menurut, para penulis yang hari ini terakumulasi 1 M, pembayarannya tetap tepat waktu.

Bagaimana mana pendapat kita tentang buku bajakan yang ada di pasaran?

Sekarang gini saja. Kalau ada penulis, jangan berpikir aku mau minta bukunya. Namun aku mau membeli (ini adalah cara kita menghargai buku). Ketika kita membeli buku yang bajakan, maka mudaharatnya banyak. Kalau di Indonesia usahakan beli deh.

Ada seorang penanya yang bercerita tidak jadi menerbitkan buku dikarenakan qadarullah, gawainya dicuri orang. Padahal itu adalah satu-satunya tempat ia menulis.

Solusinya sekarang begini, tulisan itu segera di selamatkan saja di e-mail. Karena kalau pakai harddisk bisa rusak, begitu pula kalau di mana-mana bisa hilang.

Penutup

Karakter orang berbeda-beda. Cara menghadapinya juga berbeda. Semakin viral, semakin ada-ada saja masalahnya. Dulu mentalnya kak Wirda seperti Yuppy. Sampai enggak berani melihat Instagram. Ia kehilangan respect orang, cinta orang lain, bahkan bukannya dihargai malah dihujat.

Enggak ada orang lahir tanpa ujian. Kalau kita kabur dari ujian. Hal yang ada ujiannya semakin bertambah. Bahkan ada kegelapan sekalipun, ada Allah Swt di situ.

Kalau berhenti, siapa yang akan berbagi di medsos?

Makin ke sini, semakin ganas. Mungkin ini cara Allah Swt melatih mentalnya kak Winda.

Motivasi

Thanks to be writer. Jangan menyerah buat ngasih semangat orang lain membaca. Tumbuhkan giat membaca buku. Buku adalah sumber dari pengetahuan. Semoga barokah dan menghasilkan karya-karya lainnya.

Lima Belas Strategi Membaca Produktif

Lima Belas Strategi Membaca Produktif

Belajar Membaca Bersama Kak Dipi Sang Educator Dipidiff

Malam itu 1 Desember 2023 adalah kesempatan yang emas seharusnya saya belajar tentang Affiliate website. Qadarullah, saya bolak-balik masuk, tapi nggak bisa juga. Ternyata kak Mizuoto sedang memberitahukan di grub bahwa ia sedang mengadakan Iive IG bersama Kak Dipi. Saya ingin melihat sebentar pembahasan mereka selagi menunggu link zoom meeting untuk masuk.

Setelah dua puluh menit berlalu, akhirnya saya memutuskan untuk mengikutinya sampai akhir dibandingkan belajar Affiliate. Hingga saya menyadari bahwa membahas sesuatu yang sudah biasa dikerjakan, ternyata asyik juga ya, banyak juga pula yang enggak tahunya.

Share Pengalaman Kak Dipi

Akun Kak Dipi yang sekarang itu dibentuk dari 6-7 tahun yang lalu. Jadi banyak pengalaman tentunya. Lah saya, baru beranjak satu semester saja sudah gaya kali mau mendapatkan fasilitas dan pengalaman yang serupa. :D Mimpinya keindahan sekali dinda.

Jadi, Kak Dipi ini suka membaca memang dari kecil ia membaca buku sekolah dan majalah Bobo. Baginya, buku adalah sesuatu yang membuat paham dan tidak me-ngejudge pembaca. Meskipun usianya kini 43 tahun, itu tidak menyurutkan semangat belajar dan membaca. Hal yang terpenting dari membaca adalah jembatan ilmu. “Dari buku saya bisa dapatkan yang belum tentu bisa saya dapatkan dari orang lain.” Orang sukses itu adalah orang yang belajar dari buku.

Tips Membaca

·         Kalau sakit, maka tunggu sampai sehat dulu

·         Setiap hari membaca 15 menit sudah mendukung si otak.

·         Hal yang terpenting adalah membaca secara rutin

·         Minimumnya durasi membaca 15-30 menit

Perlu diperhatikan bahwa pembahasan ini ketika habbitsnya sudah terbangun.

Kak Dipi mempunya prinsip resiliensi, yaitu membaca buku sampai selesai. Walau sampai kapan pun. Namun jika value  tidak sejalan segera tinggalkan, betapa pun best seller-nya buku itu. Ia sendiri suka menyimak buku dengan perspektif open mind. Meskipun sebenarnya enggak setuju dengan isi buku.

Apakah membaca bagian dari produktivitas?

Jawabannya adalah bisa iya dan tidak. Tergantung dengan apa yang diperoleh.

Produktif ini berarti dilakukan secara efektif, efisien dan hasilnya juga besar. Maka ketika kita membaca buku justru hal itu malahan menghabiskan waktu. Namun ia produktif dari segi pemikiran (tapi tergantung dari genre buku yang dibaca). Jika kita ingin membaca untuk kebutuhan produktivitas, maka banyak bertanya lebih dulu tentang apa saja yang ingin dijawab dari buku. Saat membaca, berarti sedang melatih otak, kesehatan pikiran, dan juga menambah vocabulary (kosa kata).

·         Membaca produktif bukanlah hal yang mustahil.

·         TBR Kak Dipi masih banyak

·         Mindful book buying karena budgeting. Kak Dipi beli buku bukan kalap, tapi memang sudah dipersiapkan pendanaannya.

·         Tentukan goals, yang realistis, timely, spesifik, dan measurable.

Cara Menentukan Goals Membaca

Sesuatu yang kita capai belum tentu realistis. Maka buatlah dua level tujuan. Pertama short term dan kedua log term. Idealnya orang membaca 25 buku dalam sebulan. Maka ketika telah mencapai 20 buku itu adalah achievemen (pencapaian).

Jenis kecepatan membaca per bulan

Low = 10 buku

Medium = 15 buku

High = 20 buku

Tentukan tujuannya 1, misalnya kecepatan membaca itu tadi. Kemudian ciptakan solusianya dan variasikan. Bisa itu digandengkan dengan Biografi, buku tipis, dan lain-lain. Hal yang terpenting adalah mengetahui kapasitas diri.

Cara memperbesar kapasitas :

1.       Buku yang dibaca semakin banyak dan juga berkualitas

2.       Ada skill (kemampuan) teknik membaca dan mencatat cepat

3.       Menjaga kesehatan penting sekali seperti olahraga, tidur yang cukup, dan makan-makanan yang sehat.

4.       Bisa nulis review, bikin konten, dan pandai-pandai bikin motivasi. Termasuk motivasinya dengan bergabung di club buku dan berkomunikasi. Harus bisa berjaga-jaga kalau seandainya jadinya begini atau begitu.

5.       Harus siap terhadap perubahan, siap kepada ketidaknyamanan

Teknik Membaca

1. Membuat to do list/schedule task

Buatlah daftar buku apa saja yang akan dibaca. Coba ikuti list dan plan action.

2. Durasi Kosentrasi terbatas maksimal 25 menit

Buat variasinya, 25 menit membaca, 10 menit kemudian ntah melakukan apa gitu. Entah menyapu, mengepel, membenahi tanaman, dan lain-lain. Kemudian baca lagi selama 25 menit dan ulangi lagi polanya.

3. Utamakan yang penting dan urgent (genting)

Prioritaskan berdasarkan kebutuhan. Misalnya ada janji dengan penerbit, itu yang ditepati lebih dulu. Kalau berat membacanya, pilih malam, dan butuh renungan di pagi hari.

4. Bisa mulai dari hal yang sulit

Ketika kita sudah terbiasa dengan membaca genre bacaan yang sulit. Maka saat membaca yang ringan akan mudah dipahami dan diselesaikan.

5. Tahu kekuatannya yang mana

1.       Tipe yang fokus meskipun suasananya seriuh apa pun.

2.       Pakai music ketika membaca

3.       Pakai teknologi misalnya kindle/ebook, bookmory, dan lain-lain.

4.       Pakai audiobook. Kalau bukunya tebal bisa pakai break down.

Temukan pertanyaan-pertanyaan pada bukunya. Buatlah aturan 80:20 yang berarti 20 % apa dari membaca yang akan memberikan 80 % untuk kehidupan.

Aktivitas membuat summary ketika membaca buku jauh lebih efektif.

Perhatikan juga deadline postingan.

6. Bolehkah Multitasking?

Boleh iya dan tidak. Tidak boleh ketika kita membutuhkan fokus yang sama. Misalnya jemur membaca sembari menyetir. (Jelas ini tidak boleh)

Contoh multitasking yang diperbolehkan misalnya mendengarkan audiobook sembari membersihkan rumah.

7. Block the time (tentukan waktunya kapan) dan tentukan pula apa yang mau dicapai.

8. Ritual juga bisa. Misalnya sebelum membaca menyediakan dulu secangkir creamir kopi, ngeteh, ada cemilan, dan lain-lain.

9. Monitoring progress membaca kita. Lakukan itu setiap hari untuk menentukan sejauh mana perkembangan dalam membaca. Apakah semakin meningkat atau malah semakin menurun?

Indikator apa saja yang bisa kita berikan achieve (pencapaian).

10. Ciptakan style kita sendiri. Jadikan proses membaca itu menjadi hal yang sangat fun atau menyenangkan.

11. Pakai lilin aroma terapi. Kegiatan membaca adalah me time yang luar biasa. Jangan over ketika membaca (Sesuatu yang berlebihan tidaklah baik)

12. Tahu kapan harusnya switch off

13. Say no to activitas lain yang tidak bermanfaat.

14. Mengurangi distruksi ada visual ada suara

Kalau sudah punya to do list jangan ditunda.

15. Kurangi friksi (beresin dulu kerjaan)

Its okay to do imperfect, enggak tercapai enggak apa-apa, yang penting effort-nya sudah benar. Buah dari sekarang adalah latihan dari sebelumnya.  

Penyakit Bookstagram/Takarir

Suka bacanya, tapi malas bikin videonya. Reviewnya malas/enggak suka.

Bikin konten fotonya, harus tahu masalahnya apa dan identifikasi.

Apa pun progressnya hari ini harus bersyukur dan dirayakan. Puncaknya jadi expert, pilih domain, ajarkan, dan bagikan.

Teknik Sumary

·         Planning/jadwalkan minimal sebulan sebelumnya. Kamu ingin membaca buku apa saja di bulan depan dan konten apa saja yang akan diunggah?

·         Kombinasikan untuk menghindari rasa jenuh.

·         Bisa baca buku dalam waktu bersamaan. Maksudnya lagi membaca buku fiksi dan baca buku nonfiksi. Jadinya bisa berpindah.


Review Buku Rich Dad Poor Dad

Belajar dari Ayah Kaya dan Ayah Miskin

Review Buku Rich Dad Poor Dad

Tak pernah terpikirkan bahwa saya akan membaca buku ini secara fisik. Setelah beberapa bulan yang lalu saya melihat dan menyaksikan bahwa pembahasan buku ini sangat menarik oleh sobat pustaka yang ada di Kemenkeu.

Apakah memang sebagus itu, atau itu hanya perasaan mereka saja?

Maka ketika saya menemukan lebih dulu covernya di kantor sekolah sebelum melihat review bukunya. Hati saya tidaklah tergerak sama sekali. Barangkali isi bukunya biasa saja pada waktu itu.

Kini saya memahami bahwa Allah Swt memberikan jalan lain padaku untuk bertumbuh. Padahal waktu itu saya mendatangi sang pemilik buku hanya untuk pengalihan isu saking bingungnya ingin mengatakan apa.

Identitas

Judul Buku           : Rich Dad Poor Dad

Penulis                  : Robert T. Kiyosaki

Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit          : Cetakan ke 61 : Juni 2021

Jumlah Halaman   : 241

ISBN                     : 978-602-03-3317-5

 

Kenapa saya baru membaca buku ini sekarang? Setelah melalui perjalanan gelap meniti yang namanya keuangan.

Belajar dari buku ini menanamkan mindset pada diri bahwa, "apa yang bisa saya lakukan untuk mendapatkannya?" bukannya menyerah karena gaji yang diterima setiap bulannya. Seperti yang diparodikan di media sosial bahwa kalau ingin menginginkan sesuatu makannya pakai krupuk saja sebulan. Big No, itu adalah pemikiran yang sangat ekstrim.

Padahal bagian awalnya saja itu digambarkan dengan pembahasan dua orang anak kecil yang diajarkan oleh Ayah Kaya tentang keuangan. Mereka disuruh untuk menciptakan uang. Maka dengan polosnya mereka melakukan eksperimen dengan membuat replika uang dengan tembaga perak. Saat Ayah Kaya mengetahui hal itu, ia malah tertawa dan mengatakan bahwa cara mereka memang benar. Namun itu illegal. Sehingga ia menyuruh mereka untuk mendatanginya ketika akhir pekan tiba di kantornya.

Belajar banyak hal, tentu itu harapan semua orang bukan ketika belajar. Sayangnya kedua anak itu justru sangat stress ketika harus menunggu lama Ayah Kaya menghampiri mereka dan mereka hanya menunggu saja di kantor tanpa ada penjelasan. Ternyata hal itu merupakan sebuah bentuk pelajaran dari Ayah Kaya supaya mereka menghargai dan mengetahui nilai waktu. Hingga pada akhirnya mereka setiap akhir pekan bekerja di sebuah perpustakaan, membaca semua buku yang ada, dan memiliki asset untuk kehidupan.

Apa yang membedakan antara Ayah Kaya dan Ayah Miskin?

Pada pelajaran 6 : Bekerja untuk Belajar-Jangan Bekerja untuk Uang adalah pekerjaan yang terjamin adalah segalanya bagi ayah saya yang terdidik. Belajar adalah segalanya bagi Ayah Kaya.

Itulah mengapa Ayah Kaya selalu menyukai belajar, meskipun status pendidikan mereka tidak tinggi.

Judul buku yang artinya Ayah Kaya Ayah Miskin mendeskripsikan sebuah pola asuh di antara kedua. Walaupun begitu, keduanya merupakan Ayah yang sukses.

Kenapa?

Sebab Ayah Kaya memiliki banyak finansial dengan membangun banyak aset.

Sementara Ayah Miskin memiliki banyak ilmu pengetahuan yang bisa dibagikan kepada orang banyak.

Setelah membaca buku ini, rasanya saya memang harus memilikinya suatu hari nanti supaya menyadarkan saya untuk tetap berjuang mencari solusi, alternatif lain untuk mencapai yang namanya freedom finansial.

Meskipun sejujurnya pembahasan buku ini terasa berat di saya, tapi buku ini memanglah terbaik daripada apa yang pernah saya baca. Motivasinya sungguh powerfull yang memberikan sebuah pengajaran bahwa dalam mendidik dalam diam sekalipun itu adalah sebuah pelajaran.

Kita semua adalah karyawan. Hal yang membedakan adalah tingkatannya saja. Penyebab utama kemiskinan atau masalah keuangan adalah ketakutan dan ketidaktahuan, bukan perekonomian, pemerintah, atau orang kaya. (Halaman 39) Itulah mengapa kita menemukan fakta di lapangan ada orang yang memenangkan lotre justru tak berapa lama setelahnya ia masih dalam keadaan miskin. Sekali lagi, ini bukan tentang berapa banyak yang datang di kita, tapi bagaimana kita menyikapi keuangan itu. Sehingga kita mampu mengendalikan uang tersebut, bukan uang yang mengendalikan kita.


What Should I do?

1. Berhentilah melakukan apa yang tidak berhasil dan carilah hal yang baru.

2. Carilah gagasan baru

3. Temukan seseorang yang sudah melakukan apa yang ingin Anda lakukan.

4. Ikut kursus, baca, dan hadiri seminar.

5. Buatlah banyak penawaran

6. Menemukan tawaran yang bagus

7. Joging, berjalan, atau berkendaralah di wilayah tertentu sebulan sekali selama sepuluh menit (Ini untuk riset bisnis properti.

8. Carilah harga murah di semua pasar. Konsumen akan selalu miskin.

9. Carilah di tempat yang tepat

10. Carilah orang yang ingin membeli lebih dulu.

11. Berpikir besar

12. Belajar dari sejarah

13. Tindakan selalu mengalahkan ketiadaan tindakan

 

Untuk berkembang menjadi manusia seutuhnya, kita memerlukan pendidikan mental, fisik, emosional, dan spiritual. (Halaman 221)

 

 

 

Menjadi Writerpreneur Bersama KBM APP (Part 1)

Menjadi Writerpreneur Bersama KBM APP (Part 1)

Ada yang tahu nggak KBM App itu apa? Tahu nggak bentuknya seperti apa?

Salah satu start up teknologi di bidang kepenulisan ini justru saat ini mengalami Fase Masyaa Allah, Tabarakallah, alhamdulillahirrabbil alamiin. Istilah bekennya adalah naik daun.

Begitulah rasa yang terhinggap dalam diri saya menyaksikan kisah sukses banyak orang sebagai penulis KBM App. Meskipun pagi ini sebelum saya menulis ini, Ibu saya masih terus berkata kepada saya.

“Ngapain sih Ni kamu nulis?” Bahkan setelah tadi malam ia memberikan sebuah informasi dalam diri saya kalau orang yang selalu duduk saja akan mendapatkan batu ginjal. Lantas secara tak menyadari bahwa saya sedang membela diri, saya justru memberi tahu kalau obatnya adalah banyakin air putih, setelah itu sering membersihkan rumah. Kan jalan-jalan juga.

Saya mengikuti KBM App jauh sebelum namanya melintang di dunia kepenulisan. Waktu itu masih ada nama Al-Fatihnya (kalau tidak salah) di mana mereka memberikan koin emas gratis untuk akun pengguna baru. Kalau sekarang sudah tidak lagi. Walaupun sudah mengganti nama sebagai KBM App, alhamdulillahnya saya masih bisa menggunakan koin emas tersebut untuk membuka kunci bab berbayar. Kalau tidak salah jumlah koin emas gratis yang saya miliki waktu itu berkisar 100.

Kejab, maksudnya gimana nih. Saya masih belum paham apa itu KBM App. Kenapa namanya enggak seperti yang lainnya?

KBM App sendiri adalah singkatan dari KBM (Komunitas Bisa Menulis) yang berlogo pena dengan perpaduan warna hijau putih. Saat ini saya menyadari kalau KBM App sangat sensitif dengan konten pornoliterasi dan sangat memegang teguh kalau menulis itu memberikan pencerahan. Sama seperti dengan motonya FLP.

Walaupun judul novel yang sangat laris di sana bertema Drama Rumah Tangga. Saya mencoba menahan diri untuk tetap stay bersama KBM App sampai sekarang ini. Meskipun tidak memberikan janji manis seperti platform lainnya.

Loh kenapa?

Karena sampai sejauh ini reputasi KBM App dalam finansial itu sangat transparan dan amanah. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Kalau tulisannya laku ya laku, kalau enggak ya enggak. Itu datanya selalu saya terima setiap kapan mereka sempat mengirimkannya. Biasanya Pak Isa pagi dini hari menjapri saya dengan pesan broadcasting lengkap dengan data finansial bagi hasil para penulis hingga hari ini.

Maka begitu saya melihat angka yang tertulis pada peringkat teratas penulis yang bernama Bunga BTP mencapai kurang lebih sekitar dua ratus juta pada tanggal 1 Desember 2023. Masyaa Allah, tabarakallahu Fiik. Saya merasa sangat bahagia. Padahal saya tidak kecipratan apa-apa loh. Namun saya merasa sangat bahagia seolah-olah seperti apa yang dirasakan Mbak Bunga saat ini. Mungkin begitu kali ya, perasaan seorang mukmin selalu seperti mukmin lainnya. Apabila yang lainnya bahagia, kita juga turut merasakan kebahagiaan serupa. Begitu pula sebaliknya.

Perjalanan Penghasilan Para Penulis KBM App

Tepat tanggal 16 Januari 2021. Waktu masih jamannya Covid 19 pertama kali membludak di Indonesia. Saya sudah memiliki nomor pribadinya Pak Isa Alamsyah, yang merupakan CEO KBM App saat ini. Sebelumnya tidak metode japri, tapi secara via grup WhatsApp saja. Bahkan mereka waktu itu concern di Facebook. Sementara saya sudah tidak suka main di Facebook lagi. Jadi, kalau ada pun jarang sekali saya buka.

Meskipun begitu, saya sangat bersyukur kalau Pak Isa selalu mengirimkan pesan broadcasting kepada saya dengan tujuan memotivasi para penulis. Masyaa Allah, saya begitu tersentuh ketika pesan pertamanya berjudul Konsisten Membawa Momentum. Alhamdulillahnya, pesan pertama itu tidak saya hapus. Jadi, bisa saya baca ulang. Jadi saya bisa membangkitkan semangat saya untuk tetap menjadi novelis.

Barulah di tanggal 17 Juli 2021 saya mendapatkan Update rangking top 500 para penulis yang ada di KBM App. Waktu itu Mbak Majarani mendapatkan penghasilan berkisar Rp32 juta lebih. Saya spill angkanya ya. (Rp32.752.593) dan disusul pula kak Dwiindra0330 di nominal yang tidak jauh beda.

Begitulah angka-angka yang saya baca dari pesan Pak Isa secara rutin dipadukan dengan motivasi berkarya dan informasi lainnya terkait lomba menulis hingga Belajar dari Bintang secara gratis. Saya ingat sekali perjalanan kisaran angka para penulis dari mulai 30+, 50+, 80+, dan yang lebih wah hingga 200+ juta dalam sebulan. Padahal kemarin rasanya masih ngobrolin akumulasi penghasilan 200+ juta loh dalam beberapa tahun. Eh, ini sudah sebulan saja.

Kalau saya yang mendapatkannya auto ikutan naik Haji Furoda bersama Ayah saya tahun ini juga. Masyaa Allah, tabarakallah. Semoga Allah meridhoi.

Kenapa konsepnya Writerpreneur kok enggak sistem royalty saja?

Nah, inilah yang membedakan KBM App dibandingkan dengan platform lainnya. Penjualan bab berbayar di sana diibaratkan kami sedang menjual buku juga loh. Makanya sistemnya bagi hasil. Berarti angka yang tertulis itu adalah bagi hasil penjualan para penulis. Sehingga kami disuruh untuk melaporkannya ke ditjenpajak ketika sudah mendapatkan penghasilan yang dikenakan pajak. Istilahnya pajak penghasilan untuk para UMKM. Ingat, produknya adalah karya digital.

Wih, mantap dong ya. Emang kamu sudah dapat berapa dari sana?

Dulu, awal-awal saya mempromosikan KBM App kepada teman saya. Mereka mengira kalau saya sudah menghasilkan banyak digit dari sana ketika melihat karya saya yang mejeng ada beberapa. Bahkan sampai jumlah buku 17 sekalipun. Saya hanya menghasilkan pendapatan Rp0 yang artinya tidak menghasilkan apa-apa.

Lantas kenapa masih bertahan?

Nah, itu nanti saya bahas di part selanjutnya. Namun satu hal yang pasti adalah saya merasa nyaman di sana bukan lagi karena banyak pertimbangan, tapi ya memang mengikrarkan. Justru penghasilan menulis saya saat ini masih didominasi oleh blog dan pernah juga di platform lainnya. Walaupun sifatnya recehan.

Bagi saya, bayaran menulis itu enggak ada yang bisa menandingi dengan rasa kebahagiaan. Sehingga kalau ada yang menanyakan saya menulis dibayar berapa? Saya dengan semangat menjawabnya dengan kebahagiaan. Bagi saya naskah selesai, artikel selesai, apalagi berhasil diunggah itu adalah kebahagiaan dari seorang penulis.