Siapa di sini yang sudah nonton flm Foufo? Yap, tak menyangka bahwasannya kisah ini bakalan membakas di hati saya. Kisah yang penuh sarat makna dari awal sampai akhir.
Rasanya ingin menontonnya berulang kali, tapi memang sayang demi sayang bila kebanjiran informasi membuat saya tuh kayak overload menyerap makna yang didapat.
Pertama Kali Lihat Cover Foufo
Kisah anak-anak ini pastinya dong. Mungkin karena saya itu sudah dewasa kali makanya lihat gambar Foufo di poster kayak enggak menarik aja gitu, tapi setelah lihat di awal ada si Bayu Skak yang merupakan Sutradara Sekawan Limo. Rasa-rasanya kok sayang ya nggak nonton ya. Padahal kondisi di awal saat itu masih demam dari pagi hingga sorelah ya.
Eh, sorenya sudah reda dan ternyata masih ada tawaran untuk untuk nobar malam. Setelah melalui keputusan yang singkat akhirnya saya memutuskan untuk membeli dua tiket nobar, berharap nanti malam ada temannya. Eh, nggak tahunya saya malah bawa orang bunian dong alias orangnya nggak ada. Sayang banget memang nggak ada teman nonton saya, tapi apa boleh buat adik saya yang suka nonton tuh sedang kerja waktu itu.
Pengenalan Film Foufo
Film ini merupakan film yang sangat unik karena mengandung unsur lokalitas Madura dan Jawa. Kalau mengingat kata Madura selain sate Madura saya teringat teman saya yang dari Madura dan kebetulan juga ada blogger Madura juga. Beliau juga sangat suka menuliskan perjalanan hidupnya melalui kategori Lifestyle Blogger Madura. Mana tahu kan ingin bekerjasama dengan beliau, bisa banget nih.
Walaupun menyoroti sedikit mirip modelan film Jadu dari India, ternyata idenya beda dan segar banget. Ada hal yang harus diuraikan dan sayang saja gitu kalau dilewatkan begitu saja. Kapan lagi coba bisa menikmati film dengan naskah bagus dan ramah untuk segala usia. Walaupun nih ya, saya menulis seperti ini sekalipun bahkan lebih asyik lagi jika ditonton secara langsung di bioskop.
Secara garis besarnya, film ini tuh sebenarnya sedang mengajarkan arti keikhlasan dan juga bagaimana mengupas tentang keuangan keluarga pada orang miskin. Meskipun bisa lebih dari itu dan dari sisi lain juga banyak yang bisa diambil ibrah atau pelajarannya. Baca aja artikel ini sampai akhir ya.
Sinopsis
Adegan dimulai saat agen BRI datang ke sebuah rumah yang mempunyai bengkel. Walaupun hanya agen BRI yang bakalan memberikan pinjaman kepada orang yang ingin mengajukan pinjaman. Adegan ini begitu kocak yang diperankan oleh Bayu Skak dan temannya yang bertubuh berisi.
Pada saat yang sama di warga setempat sedang mengadakan acara dan di sana kebetulan ramai juga untuk mengumumkan siapa yang bakalan naik Haji satu kampung. Tinggallah ibunya Muslim yang belum bisa naik Haji dikarenakan belum melunasi biaya haji.
Muslim pun akhirnya mengajukan pinjaman pada bank BRI atas dalih untuk memajukan usahanya sebagai usaha tukang besi. Pada saat momen-momen itulah yang menjadi momen lucu di mana Muslim harus memperkenalkan orang-orang yang berada di rumah. Mulai dari ibu, suadara, saudarinya, hingga ipar hingga keponakannya.
Dialog yang menarik yang saya hapal adalah, "ini rumah apa rest area?' ucap Benectus Siregar yang diperankan oleh Cokro Sutejo.
Nah, di sinilah letak menariknya. Sang tokoh utama, Muslim tidak langsung mendapatkan ACC untuk peminjaman uang yang rencananya untuk pelunasan haji. Tambah lagi pada suatu malam keluarganya juga mengeluh, tentang utang yang harus dibayar, adiknya yang belum pernah USG, obat iparnya yang sudah habis, serta keponakannya yang merengek ada sesuatu yang harus dibayar.
Muslim bingung harus apa. Kemudian Kacong yan masih menjadi bagian keluarganya menyarankan untuk menggunakan sarung di malam hari bersama dengan Ipul. Maka mereka bertiga malam itulah diajak Kacong.
Malam itu Muslim diajak oleh saudara lainnya menggunakan sarung untuk mencuri rel besi kereta api. Muslim yang mengetahui protes tidak setuju dan mereka pun bertengkar di sana. Tak lama kemudian datanglah 2 orang yang berjalan kaki melewati rel kereta api. Sempat terhenti, setelah itu dilanjutkan lagi. Saat Muslim meneriakkan kata ,'azab!' saat itu pula pesawat Ufo jatuh ke Bumi dekat dengan mereka berada.
Ipul yang merupakan seorang guru lantas menelpon polisi yang tengah tertidur bahwa mereka sedang dihadang alien. Kacong yang mengetahui segera mengganti pernyataan layaknya seorang penipu supaya panggilan diputus. Momen-momen ini termasuk jenaka, ketika yang menjawab telepon merupakan tawanan di dalam penjara.
Malam itu pula mereka mendekatinya dan membawa pulang Ufo tersebut. Polisi yang ditelpon pun datang ke bengkel Muslim pagi itu juga. Muslim membuat suara dengan kepala Kacong yang diantukkan supaya terdengar seperti orang yang sedang melakukan menempa besi.
Eh, baru saja sang polisi pergi datanglah sang penagih yang menginginkan untuk membayarkan keris supaya utang terlunasi. Pada saat momen itu pula sang penagih yang suaranya mirip dubbing Sopengebob menemukan sang alien, saat alien terbangun sang alien menembakkan sesuatu kepada sang penagih hingga membuatnya pingsan.
Saudara Muslim pada lari, kecuali Muslim. Ia mendekati sang alien dan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.
"Aku mengambil suaranya supaya berkomunikasi dengan kalian," ucap sang alien.
Mereka pun menamakan sang alien dengan sebutan Foufo. Foufo hanya ingin pulang ke rumah dengan menemukan kuncinya kembali. Nah, di sinilah Muslim berjanji akan membantu Foufo untuk menemukan kunci.
Keesokan harinya, Muslim mencari bahan yang diperlukan oleh Foufo. Betapa terkejudnya bahwa Foufo memilliki kemampuan untuk menghilangkan diri. Foufo dan Muslim pun mencari bahan yang dibutuhkan bersama-sama. Sayangnya mereka masih tidak menemukannya. Begitupula Saipul yang datang tiba-tiba mendekati mereka. Juga ikutan mencari dan Foufo menjelaskan bahwa ia butuh unsur Rhodium bukan Yodium alias garam. Menurut Saipul sendiri bahwa Rhodium ini harganya bisa 4 kali lebih mahal daripada emas.
Malamnya Muslim memberikan sate kepada Foufo sebelum memberikan sate lainnya kepada keluarganya yang tengah menunggu. Ternyata Foufo sangat suka dengan sate.
Muslim sudah membeli sate sesuai dengan jumlah orang yang berada di dalam rumah. Hanya ibunya, Saiqonah yang sedang tidak ingin sate. Satenya sisa satu dan Foufo yang merasa senang dengan sate segera mengambilnya. Tak segan-segan ia menunjukkan diri di hadapan seluruh keluarga Muslim.
Kehebohan terjadi hingga Foufo menunjukkan diri bahwa ia merupakan alien yang baik dengan membuat penglihatan Ibu Muslim kembali terang dan jelas. Saat itu pula keponakan Muslim pun menginginkan bahwa Muslim harus berjanji untuk membantu Foufo pulang.
Sementara pada saat yang bersamaan Muslim pun harus melunasi biaya haji ibunya. Tekanan silih berganti yang membuat Muslim mengambil keputusan untuk meminjam uang kepada bank. Bersama dengan iparnya laki-laki yang sedang sakit TBC pun harus bank juga supaya membujuk Cokro untuk meng-acc pinjaman. Momen ini pun juga menuai adegan jenaka pada saat prosesnya, di mana Cokro yang sebagai pegawai bank tidak mudah percaya dan malah menganggap saudara Muslim sedang akting sakit. Usaha mereka untuk melunasi biaya haji pun gagal. Muslim pulang tanpa membawa apa-apa dan segera mejemput keponakannya yang bersekolah.
Tak berhenti pada adegan menarik lainnya. Scene berpindah pada sang keponakan Muslim (Mustofa) yang berada di sekolah dengan percakapan teman-temannya berbahasa Jawa sementara ia tetap menggunakan bahasa Madura ataupun bahasa Indonesia. Temannya yang cantik, kelihatan seperti orang yang berada ingin bertanya rumahnya. Namun ia pun memberikan banyak alasan supaya tidak perlu datang ke rumahnya, semisal besoknya kebakaran gitu. Adegan pembullyan dengan kata-kata pun terjadi dari teman-teman yang lain baru datang. Hingga membuat Mustofa buru-buru pergi setelah dijemput oleh pamannya.
Sehabis pulang sekolah, Mustofa disuruh Muslim untuk membantunya mencari barang rongsokan. Bertemu toke pengepul juga dengan menceritakan sebuah kisah bahwa anaknya itu belajar yang baik dan sudah berkuliah di Australia. Setelah mengetahui kemampuan Mustofa yang amat jeli dalam menghitung angka.
Saat pulang, Muslim masih menyuruh Mustofa untuk membantunya. Namun Mustofa menolak sebab ia ingin belajar untuk mempersiapkan olimpiade di sekolahnya. Ia kesal dan membanting pintu, pada saat yang bersamaan Foufo ada di sana juga dan bingung dengan apa yang terjadi.
Malamnya, Mustofa ingin belajar dan lampu pun mati. Foufo sedang tidak bisa tidur. Ia pun menemui Mustofa dan mengajaknya berpetualang ke alam semesta. Momen ini merupakan momen yang seru, di mana kita akan ditampilkan visual galaxy. Hingga pada akhirnya, Mustofa tidak jadi ingin pergi dari rumahnya, karena situasi di keluarganya. Ia menyadari bahwa keluarga adalah harta yang paling berharga.
"Pada saat sendirian, aku tidak bisa apa-apa. Namun pada saat bersama yang lain, aku mengetahui bahwa diriku ini bisa berguna," ucap Foufo.
Momen-momen hangat inilah yang menarik untuk ditelusuri dan masih banyak lagi tentang pengajaran lainnya tentang kehidupan dari Muslim kepada Foufo tentang agamanya hingga Foufo bertanya layaknya anak kecil yang menyebalkan.
Momen Menuju Pelunasan Haji
Coba tebak? Apakah Muslim berhasil melunasi biaya Haji ibunya?
Pada saat berita itu datang, Muslim pun ditelpon oleh Cokro dalam kondisi sakit-sakitan. Muslim hanya meminjam 15 juta saja di mana ia sudah punya tabungan sebanyak 15 juta di rumah. Bahagia tak terkira ia pun segera mengabarkan ibunya.
Namun ternyata adiknya yang punya suami sakit-sakitan itu sedang ditagih debt collector dan tagihan lainnya. Hingga memaksanya untuk mengambil uang di rak pakaian yang terbungkus dengan plastik hitam. (Jangan ditiru dek ya)
Ia pun juga tahu bahwa ibunya akan bisa naik haji. Lantas segera syukuran dengan membeli bebek carok dan dibagikan kepada tetangganya. Ia berpakain dengan pakaian baru layaknya orang kaya. Malamnya ia juga membagikan bebek carok kepada seluruh anggota keluarga untuk dimakan bersama.
Permainan scene tenang yang tidak langsung menspill episode akhir pun dimainkan. Saya sangat suka bahwa film ini dibuat pergantian POV yang membuat saya bahkan tidak ingin melewatkan menonton adegan. Ketika Mustofa melawan teman-temannya yang membully. Meskipun ia bukanlah orang berada, setidaknya sekolah bangga padanya telah menjadi orang yang mewakili sekolah di dalam olimpiade. Hingga akhirnya ia pun membawanya ke rumah dan memperkenalkannya kepada keluarganya.
Saat di rumah, keluarganya lantas mengenali teman Mustofa yang jago olimpiade itu. Ibarat lelaki yang menyukai dalam diam, Mustofa selalu membersihkan foto kemenangan mereka berdua dan dipajang di dinding rumah dan itu disaksikan oleh ibunya sendiri.
Pada saat yang bersamaan Muslim ingin melunasi biaya haji ibunya dan saat dilihat kepalan uang betapa terkejudnya ia mengetahui bahwa uangnya telah berkurang banyak. Patah hatinya, mengamuk di dalam rumah. Mentang-mentang Saipul, istrinya sedang hamil besar. Ia yang pertama kali dituduh. Pada akhirnya, adiknya yang perempuan itu pun mengaku bahwa ia yang telah mengambil uang Muslim dikarenakan ia sendiri tidak tahu itu bakalan untuk ibunya.
Sang ibu pun memutuskan nggak apa-apa bila seandainya ia pun tak jadi ikutan berhaji karena haji itu hanya untuk orang yang mampu saja. Momen-momen inilah yang paling sedih, bagaimana kita memang harus mengikhlaskan, di mana keinginan itu dipanjatkan setiap malam, dan diusahaka. Ingin tahu bagaimana kisah akhirnya, jangan lupa nonton filmnya di bioskop kesayangan anda ya bila masih ditayangkan.
Namun yang pasti ending cerita ini sangat memuaskan sekali.
Hal yang Menarik untuk diulik
Pada cerita ini tuh sebenarnya mengangkat tema tentang kenapa ya ada keluarga miskin emang salahnya di mana? Apakah keluarga miskin itu dikarenakan mereka malas. Faktanya keluarga miskin itu bukan karena mereka malas, tapi karena profesi yang dijalankannya. Mereka lebih mementingkan isi perut dibandingkan bagaimana untuk belajar dan memajukan kehidupan. Begitulah, Muslim yang memiliki sifat pemberi, pemaaf, sering menolong keluarga, sampai lupa untuk mengurusi dirinya sendiri. Sikap dirinya sebagai anak sulung memang ada benarnya, bagaimana ia bisa memberi makan untuk keluarganya. Namun ya nggak semua tanggiung jawab akan dirinya, mentang-mentang ia yang dititipkan warisan keluarga berupa rumah dan bengkel rongsokan.
Mari spill pekerjaan masing-masing. Ipul bekerja sebagai seorang guru dan isterinya menjaga warungnya habib Ja'far. Adiknya Muslim yang suka self reward berdagang Jus. Jadi, kalau dipikir-pikir ya bukan karena mereka malas, tapi tidak tahu bagaimana caranya mengelolah keuangan sehingga menjadi keluarga yang serba kekurangan.
Begitupun Saiful yang bekerja sebagai guru honorer. Siap menjadi guru, walaupuns secara status dihormati, tetapi secara finansial gajinya bahkan tak mampu mencukupi kebutuhan.
Nah, ini yang sebenarnya patut dicontoh dari Muslim, orangnya jujur kian, pekerja kera, tapi sayang ia bahkan tidak lulus SMA. Jadi, ibaratnya nih pendidikannya rendah dan ia pun sebagai tulang punggung keluarga hanya membuat dirinya kelelahan dan lupa pada diri sendiri, tapi itulah realita kehidupan.
Film Foufo ini seakan memberikan gambaran. Beginilah keluarga yang kekurangan itu. Maka pesan yang diambil adalah Nak belajarlah yang baik supaya nanti dapat mengangkat derajat keluarga. Enggak apa-apa hari ini kita lelah belajar, semoga di kemudian hari masa depan yang cerah itu merupakan milik kita.
Nak, bila punya uang. Jangan pula difoya-foya. Simpan uangnya untuk kebutuhan hidup bukan untuk keinginan belaka atas dasar self reward. Pikirkan masa depan ini nantinya kita akan bagaimana. Daripada untuk kebutuhan sekunder, utamakanlah kebutuhan primer.
Sedikit tentang Rhodium
Rhodium merupakan logam mulia berwarna putih keperakan yang sangat langka, tahan karat, keras, dan kegunaannya sebagai konverter katalik kendaraan, pelapis perhiasan, serta katalis industri. Logam mulia ini memiliki sifat yang relatif stabil sehingga tidak mudah bereaksi dengan zat lain, tahan korosi, dan tidak berkarat.
Pada film ini tuh bukan hanya yang diperlukan Rhodium saja, tetapi juga diperlukan bahan besi lainnya juga.










