Skip to main content

Pilih Blogger atau Aplikasi?

Sumber gambar : jalantikus.com

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ...
Rasa hati ingin berpantun. Hanya saja tidak pandai dan tak berniat. 
Jadi yasudah kita lanjutin perbincangan kali ini. 
Oke, sebelum itu. Pastikan semua pekerjaan sudah selesai. Jangan sampai ada yang ditinggal. 
Jadi, ceritanya begini. Ketika ada terpikir sebuah pertanyaan apa yang harus saya pilih. Pasti harus pilih salah satu ya kan.
Tentang aplikasi jangan pada bingung ya. Aplikasi yang mana. Soalnya ada banyak aplikasi di dunia ini. Bahkan blogger pun juga ada aplikasinya lo di Android. Kalau enggak percaya cek aja gih di google play. Jadi, lah malah jadi ingin main permainan. Ya sudah, nanti kita download  ya.

Oke, kembali ke topik awal. Aplikasi yang saya maksud adalah aplikasi menulis untuk para penulis. Seperti halnya Wattpad, Sweek, Storial, Ketix, dan bahkan Tinlit. Pada sesi berikutnya akan dibahas secara terperinci dan pastinya asyik. Maka, saya memilih menulis cerita di aplikasi.

Kenapa Kak? Kok, enggak blogger saja? Bukannya Ngeblogger bisa menghasilkan uang. Sedangkan di aplikasi banyak saingannya.

Sebenarnya banyak artikel yang sering mengatakan ladangnya uang ya dengan beralih ke blogger. Tapi, untuk website yang memang benar terkenal. Apalagi banyak iklannya. Kalau website ini, duduh enggak kepikiran. Lagi pula masih baru berkembang. Awalnya hanya sekadar iseng-iseng. Sebagai wadah unek-unek yang tidak kesampaian. Lagian juga bersifat umum.

Tapi, kalau di Aplikasi menulis memang diperuntukkan untuk membuat buku. Keuntungan lainnya adalah hak cipta yang dimiliki setiap penulis. Kalau di blogger bisa di copy paste dengan mudah. Siapa sih  yang bakalan enggak marah kalau tulisannya dicuri orang lain. Ide itu mahal dan menulis juga enggak singkat. Pasti membutuhkan waktu dan tenaga. Apalagi kalau menulis enggak ada dukungannya. Pasti berat, biar saya saja.

Walaupun beberapa aplikasi ada juga yang berhasil diplagiat sama orang lain. Namanya juga kehidupan, kita tidak akan terlepas dari ujian. Hal yang terpenting adalah banyak berdoa dan jalin relasi dengan para penulis lainnya. Jadi, para pembaca bisa mengakui bahwa karya tersebut memang tulisan kita. Sebenarnya itu keuntungan pembaca. Bukan maksud untuk riya. Tapi, memang benar apa yang dibilang para penulis lainnya. Penulis tanpa pembaca rasanya tidak ada apa-apanya. Kita kan juga perlu tahu bagaimana kualitas tulisan kita.

Untuk saat ini saya sedang berusaha menjelajah ke berbagai tempat. Mungkin dengan cara seperti itu bisa mendapatkan bayaran berupa bahagia yang tak dapat didefinisikan atau bahkan bisa mengubah diri menjadi pribadi yang baik lagi. Semoga saja, aamiin ya rabbal alamiin. (Ups, jadi curhat deh. #plak)

Oke, sampai di sini dulu. Sampai jumpa di konten selanjutnya.

Salam Rindu
Harumpuspita

Comments

Popular posts from this blog

Wattpad : Dunia Jingga

Sumber gambar : business.wattpad.com Assalamulaikum waramatullahi wabarakatuh ... Apa kabar sahabat blogger ? Semoga pada dalam keadaan sehat wal-afiat ya. Karena hal itu adalah suatu bentuk kenikmatan yang tak ada tandingannya di dunia ini. Hari ini kita akan membahas khusus tentang Wattpad, yaitu aplikasi yang tidak asing lagi bagi penulis. Kalau dahulu bentuknya berwarna jingga. Sekarang ini warnanya sangat jingga. Gambar di bawah ini adalah bentuk penampakan Wattpad dulu. Eng, ing, eng... tara Sumber gambar : Amazon.com Aplikasi ini adalah aplikasi yang membuat saya jatuh cinta hingga sekarang. Walaupun di dalamnya tidak menjanjikan royalti berupa uang. Tapi, mampu memberikan kenyamanan dan kemudahan akses bagi penggunanya. Dari beberapa aplikasi yang ada hanya Wattpad saat ini masih tetap bertahan di hati. Kali ini saya akan menjelaskan apa saja filtur yang disediakan di Wattpad. Keuntungan lainnya adalah bahasa yang digunakan bukan hanya Indonesia saja. Hal ini

Pengalaman Membuat Aplikasi Android Pemula (Part 1)

diaryharumpuspita.com Kalau kemarin saya masih mengatakan seru-serunya ngoding bersama dicoding. Kali ini saya ingin mengulas sedikit tentang apa yang saya rasakan ketika belajar pada kelas Menengahnya. Ternyata kejayaan senangnya berupa langkah awal dalam memahami bahasa Java itu hanya sebentar saja. Selebihnya, ya saya harus merasakan apa yang mereka katakan. Susah tidur karena dibayang-bayangi kode yang membuat saya penasaran. Bahkan kadang sampai lupa tidur dan mandi. #plak. Alhasil, mata panda dan menjadi sipit saking serunya. Hal yang lebih parahnya jika sudah demam datang namun saya tak ingin melewatkan waktu untuk tidak berpikir. Yah, jadi enggak sembuh-sembuh deh. Hoho... untungnya saya masih memiliki kesibukan lain yang membuat saya harus menjedanya dan menyegarkan otak kembali. Mungkin inilah makna sebenarnya dari ilmu. Mahal dan tidak mudah orang dapat menguasainya. Hanya orang-orang yang tekun dan berada pada garis pertahanan yang mampu melewatinya. Begitupun deng

Menulis Menjelang Deadline

  diaryharumpuspita.com Berbincang masalah deadline seolah tidak ada habisnya. Hal yang lebih membuat kesal adalah menuruti deadline- nya orang lain. Mau enggak mau harus siap dan dikumpul. Kita sudah dibiasakan sejak masa sekolah sebenarnya. Mulai dari SD, SMP, SMA, bahkan kuliah. Setiap mata pelajaran pun sudah ada timeline nya sendiri. Jika tidak mengumpul pasti akan dikenakan sanksi berupa tidak ada penilaian dan hukuman lainnya. Maka sudah seharusnya deadline ini memang harus diimbangi di setiap tatanan kehidupan. Mulai dari makan, tidur, dan bahkan beribadah tepat waktu. Menyelesaikan tugas sesuai dengan deadline ini merupakan sebuah cara seseorang untuk menempati janjinya dan membangun kualitas diri seseorang. Kepercayaan juga dibangun dengan deadline. Jika orang yang diberikan amanah mampu menyelesaikannya. Otomatis mereka akan berpikir kinerja kita itu baik dan bisa dipercaya. Terlebih lagi, tidak ada beban jika semua sudah diselesaikan. Ujung-ujungnya juga akan membawa