Skip to main content

Posts

Ketika Monna Mengejar Harapan

Sebagai Ceo-Mentor pada kelas resensi. Saya mulai berani meresensi suatu karya. Yeay, setelah sekian purnama hanya sekadar wacana dan angan-angan saja. Sebenarnya sudah banyak juga buku yang sudah dibaca. Belajar tanpa bimbingan terkadang membuat diri enggak pecaya diri. Hingga terkadang saya bingung dengan apa yang sudah dituliskan. Ini sebenarnya review atau resensi ya. Tuh kan, bingung sendiri. #plak Sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada kak Dewi Khairani yang sudah bersedia membimbing di kelas resensensi. Kepada teman-teman yang lain juga. Merekalah yang membuat saya semakin semangat. Asyik.  View this post on Instagram A post shared by Harum (@diaryharumpuspita) on May 2, 2020 at 11:08pm PDT Oke ... Jangan lupa silahkan  like , comment , dan  Follow.  Hehe ... Buku ini bisa kalian baca di aplikasi ipusnas. Nah, berhubung jumlah kata di Instagram itu terbatas. Kan sayang enggak ada yang baca. Jadi di

Enggak Bahagia, Mungkin Saya Bisa Melakukan Empat Hal Ini

Terkadang saya sering bermonolog dalam diri. Apakah saya bahagia? Kayaknya saya baperan deh orangnya. Sedikit-dikit ngerasa sakit hati dengan sendirinya. Bermacam-macam spekulasi mulai hadir di dalam diri saya dengan sendirinya. Parahnya sempat berpikir kalau saya nih sudah dilingkupi dengan Jin. Naudzubillah. Wallahu’alam. Sebenarnya otak saya masih bisa membedakan mana yang seharusnya dilakukan. Entah kenapa rasa malas itu lebih cepat tanggap untuk membujuk saya untuk tidak melakukan pekerjaan yang positif. Akhirnya hanya bisa rebahan dan rebahan hanya demi menenangkan suasana hati yang buruk. Seketika saya langsung tersadar dengan sendirinya. Waktu ini sudah berjalan begitu saja tanpa ada sesuatu yang membekas. Misalnya enggak produktif gitu. Namun setelah dipikir-pikir lagi kalaulah saya kerjanya hanya rebahan saja. Saya malah enggak merasa berguna kecuali menghabiskan waktu untuk menua. Ketika menginjakkan di usia yang 22 tahun ini. Terkadang saya malah merasa terlambat

Aktivitas di Rumah Aja Ala Harum

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ... Siapa bilang di rumah aja itu menyenangkan? Bagi penulis, pembelajar, editor amatir, mahasiswi tingkat akhir, dan pengangguran ini merupakan sebuah tantangan yang luar biasa. Tadinya mau bilang itu sebuah bencana sih?  Tapi enggak jadi deh. Entar terkesan tidak mensyukuri akan nikmat. Aktivitas di rumah aja bagi sejuta umat di dunia ini.Tampaknya merupakan hal yang membosankan. Beda dengan saya sendiri yang malah merasakan sebal, galau, plus suntuk. Raga memang di rumah sih. Tetapi jiwa malah entah ke mana-mana. Khususnya media sosial ini yang membuat saya salah tingkah antara keinginan, keegoisan, dan kewajiban. Belum lagi ribuan chattingan yang menawarkan diskusi online sana-sini dalam waktu bersamaan sukses membuat WhatsApp  saya kebanjiran pesan. Mau dilewatkan sayang, enggak dilewatkan malah gelisah ketinggalan informasi dan semangat lain. Mirisnya, saya selalu saja menyelesaikan tanggung jawab itu sudah kelewatan batas waktu. T

Curhatan di Hari Sabtu

Assasalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh ...  Kali ini saya mau curhat kalau hati saya sakit banget. Entah kenapa enggak tahu, seperti nyeri gitu. Terasa ada yang menikam atau menusuk-nusuk. Parah banget deh. Saya mengira bahwa intensitasnya hanya malam saja. Eh, ternyata pagi juga begitu. Kalau dipikir-pikir lagi sih, mungkin sejalan kali ya sama iman yang sedang turun dan permasalahan yang dihadapi. Hanya saja saya belajar tidak  memusingkan itu dan mengalokasikan pada ambisi dan logika. Ya, mau bagaimana lagi, ulu hati yang sakit ini sudah membuat saya muak asyik membujuknya untuk tidak sakit. Sedangkan kemungkinan yang lainnya adalah rencana yang lain terancam gagal. Kan jadi sebal sendiri. Kembali ke blog setelah bertarung di naskah novel. Hm, sepertinya enggak ada hubungannya sama sekali. Tapi bisalah disinggung sedikit. Sebenarnya menulis novel itu merupakan cara saya untuk curhat menjadi orang lain. Yap begitulah, ketika luapan hati ingin dikeluarkan namun tokoh yan

Sebuah Penguraian Hari yang Telah yang Berlalu

Entah berapa lama saya mencoba menutup diri dari khalayak publik. Saya yang dulunya memiliki ambisi kuat kini terlihat lemah tak berdaya. Hanya karena sebuah skripsi. Padahal hanya sebuah skripsi bukan? "Tidak, mungkin saja salah memprioritaskan orang lain," ungkap sahabat saya. Awalnya saya mengira apa yang telah berlaku pada diri saya pasti ada sebuah alasan. Saya akui memang, waktu yang telah berlalu tidak saya gunakan untuk rebahan dan rebahan. Hanya semata-mata mencari jati diri. Hingga saya menyadari bahwa seharusnya tidak seperti ini. Berpusat dan muter-muter di situ saja. Tidak ada perkembangan berupa pencapaian yang bisa dibanggakan. Bahkan orang tua saya malah kesal. Saya yang dulunya sempat ceria ketika menemukan fakta bahwa menulis adalah bagian dalam diri saya dan merupakan terapi psikologis terbaik saat kondisi murung. Kini terpaksa saya cekal atas dalih sebuah skripsi. Kenyatannya membuat saya jungkir balik dan berujung pada sesak napas. Belum lagi m

Kenangan

kenangan membawa sukmaku berlabuh terenyuh setiap untaian di bibir tipismu mengalun kerinduan bercengkerama tak ubahnya kepastian belaka bayanganmu menyemai wajah tersusut dalam sebuah ilusi harmonisasi menyendiri kuharap kita adalah pelebur nestapa rumah kita, 18 Maret _ Intro_ Puisi ini saya tuliskann untuk adik saya yang berada di sana semoga kalian dalam keadaan baik-baik saja dan selalu dilindungi Allah swt.

RDH-Episode 1-Pendatang Baru

Jika ingin mendengarkan backsound musicnya bisa mendengarkannya. Song by Al-Khadijah dengan judul Syaikhona.  Asyifa mengikuti barisan yang ada di depannya. Rela berdesak-desakan hanya ingin bersalaman secara langsung dengan tokoh idola. Orang-orang mulai sibuk dengan tujuan mereka sedangkan suasana tidak begitu sumringah. Angin yang berembus mesra menemani ruang lingkup tersebut. Ia sudah memastikan penampilannya cukup sopan kali ini dengan gamis kesukaannya. Beberapa menit kemudian ia benar-benar menemui wajah tampan itu. Lelaki yang mampu memporak-porandakan jantungnya dan membangkitkan hormon dopaminnya. Kini di mata Asyifa lelaki itu terlihat sangat menawan dengan kemeja cokelat kehijauan yang ia kenakan. Asyifa menangkupkan telapak tangannya seraya tersenyum dan dihadiahi pula senyuman yang sama. Ia salah tingkah dan menyentuh pucuk telapak tangan yang sama-sama menangkup itu. “Duh, dasar bodoh! Seharusnya aku bisa mencegah diriku tadi,” runtuknya. Ia merasa