Pilih Blogger atau Aplikasi?

Sumber gambar : jalantikus.com

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ...
Rasa hati ingin berpantun. Hanya saja tidak pandai dan tak berniat. 
Jadi yasudah kita lanjutin perbincangan kali ini. 
Oke, sebelum itu. Pastikan semua pekerjaan sudah selesai. Jangan sampai ada yang ditinggal. 
Jadi, ceritanya begini. Ketika ada terpikir sebuah pertanyaan apa yang harus saya pilih. Pasti harus pilih salah satu ya kan.
Tentang aplikasi jangan pada bingung ya. Aplikasi yang mana. Soalnya ada banyak aplikasi di dunia ini. Bahkan blogger pun juga ada aplikasinya lo di Android. Kalau enggak percaya cek aja gih di google play. Jadi, lah malah jadi ingin main permainan. Ya sudah, nanti kita download  ya.

Oke, kembali ke topik awal. Aplikasi yang saya maksud adalah aplikasi menulis untuk para penulis. Seperti halnya Wattpad, Sweek, Storial, Ketix, dan bahkan Tinlit. Pada sesi berikutnya akan dibahas secara terperinci dan pastinya asyik. Maka, saya memilih menulis cerita di aplikasi.

Kenapa Kak? Kok, enggak blogger saja? Bukannya Ngeblogger bisa menghasilkan uang. Sedangkan di aplikasi banyak saingannya.

Sebenarnya banyak artikel yang sering mengatakan ladangnya uang ya dengan beralih ke blogger. Tapi, untuk website yang memang benar terkenal. Apalagi banyak iklannya. Kalau website ini, duduh enggak kepikiran. Lagi pula masih baru berkembang. Awalnya hanya sekadar iseng-iseng. Sebagai wadah unek-unek yang tidak kesampaian. Lagian juga bersifat umum.

Tapi, kalau di Aplikasi menulis memang diperuntukkan untuk membuat buku. Keuntungan lainnya adalah hak cipta yang dimiliki setiap penulis. Kalau di blogger bisa di copy paste dengan mudah. Siapa sih  yang bakalan enggak marah kalau tulisannya dicuri orang lain. Ide itu mahal dan menulis juga enggak singkat. Pasti membutuhkan waktu dan tenaga. Apalagi kalau menulis enggak ada dukungannya. Pasti berat, biar saya saja.

Walaupun beberapa aplikasi ada juga yang berhasil diplagiat sama orang lain. Namanya juga kehidupan, kita tidak akan terlepas dari ujian. Hal yang terpenting adalah banyak berdoa dan jalin relasi dengan para penulis lainnya. Jadi, para pembaca bisa mengakui bahwa karya tersebut memang tulisan kita. Sebenarnya itu keuntungan pembaca. Bukan maksud untuk riya. Tapi, memang benar apa yang dibilang para penulis lainnya. Penulis tanpa pembaca rasanya tidak ada apa-apanya. Kita kan juga perlu tahu bagaimana kualitas tulisan kita.

Untuk saat ini saya sedang berusaha menjelajah ke berbagai tempat. Mungkin dengan cara seperti itu bisa mendapatkan bayaran berupa bahagia yang tak dapat didefinisikan atau bahkan bisa mengubah diri menjadi pribadi yang baik lagi. Semoga saja, aamiin ya rabbal alamiin. (Ups, jadi curhat deh. #plak)

Oke, sampai di sini dulu. Sampai jumpa di konten selanjutnya.

Salam Rindu
Harumpuspita

Pilih Cerpen atau Novel?


Sumber gambar : pinterest
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ...
Kali ini saya akan membahas tentang cerpen dan novel.
Cerpen adalah singkatan dari cerita pendek. Termasuk karya sastra yang biasanya sekali baca duduk. Nah, pasti pada bingung kan ini maksudnya apaan ya. Kali ini saya akan mengambil pengertiannya dari website pendidikan.id  ya, daripada mengambil pengertian sendiri. Hal yang ada malah sotoy  tapi enggak benar. Waduh, bisa ditimpuk masa deh  saya. Menurut website tersebut cerpen memiliki jumlah kata yang tidak lebih dari 10.000 kata. Kalau lebih bisa kita daftarin ke ajang Watty 2019 ya. Biasanya cerpen ini dituliskan hanya kejadian yang paling penting saja dan tidak mendetail seperti novel.

Kalau pengalaman saya dalam menulis cerpen ini. Biasanya kata yang saya tuliskan berjumlah 1.500 sampai 2.500 sudah mantap betul alias mantul. Ciri lain dari cerpen adalah kata-kata yang digunakan cukup sederhana dan mengandung pesan yang kuat dalam cerita. Jadi, kalau orangnya yang mudah bosanan. Ada baiknya menulis cerpen saja. Biar tidak kesal kok enggak kelar-kelar. Maklumlah setiap orang pasti memiliki mood yang berbeda pada waktu berbeda pula.

Nah, kalau novel adalah prosa panjang yang tulisannya berjumlah 40.000 atau lebih. Bisalah bagi yang suka sama drama, film, dan sinetron buat novel. Saya paling suka menulis novel karena rasanya ketika menulis seperti mendalami karakter penokohan. Selain itu bisa dibuat ajang curhat. Hehe, kesempatan ya kan. Pada novel sering dibuat sistem bab per bab. Kalau saya biasanya satu bab berisikan 1.200-2.000 kata. Kalau sudah bosan hanya menuliskan 1.200 kata saja. Sedangkan saat ide mengalir bisa 2.000 kata. Hal ini tergantung selera dan apa yang ingin disampaikan.

Ciri novel lainnya adalah dituliskan secara mendetail baik secara latar dan penokohan. Kalau ditulis oleh penulis yang oke. Rasanya seperti nonton drama langsung. Bedanya sang pembaca bebas mengilustrasikan seperti apa gambaran tokohnya. Tidak seperti nonton film. Pasti yang dilihat duluan siapa pemainnya. Kalau pemainnya tidak disukai atau pada enggak keren pasti membosankan.

Alasan lain tentang mengapa saya lebih memilih novel daripada cerpen karena saingannya. Untuk menulis 40.000 kata dalam waktu singkat tentulah tidak mudah. Pasti penulis akan mengalami rasanya kebosanan yang bikin greget. Ingin lanjut tapi bosan dan parahnya membuat hati sebal.

Selain itu dalam novel dibedakan lagi genre apa. Misanlnya bergenre chicklit atau kisah seorang wanita yang menjadi tokoh utama. Fantasi atau dunia hayalan. Masih banyak lagi deh. Kapan-kapan kita akan membahas ini ya. Semoga saja, Allah masih memberikan kesempatan untuk saya menulis.

Salam literasi
Harumpuspita

Empat Tahun Perjalanan Menulis

Sumber gambar : dokumentasi pribadi

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. 
Alhamdulillah, sudah empat tahun saya berkecimpung di dunia literasi. Tempat yang paling nyaman dalam mengeluarkan ide. Meskipun ide yang dimiliki kadang lurus, kadang pula berbelok-belok. Ini lebih baik daripada mengomel enggak jelas. Kalau orang Malaysia bilang 'membebel' entah apa-apa. Awalnya saya ingin membawa tulisan ini pada aplikasi yang menyediakan ruang untuk menulis. Tetapi, ada baiknya saya menceritakan secara singkat terlebih dahulu tentang perjalanan menulis ini yang tak pernah menyerah meski orang lain meremehkan. Katanya menulis tak menghasilkan apa-apa. Menulis hanya membuang waktu saja. Tetapi, menulis itu menurut saya adalah suatu bentuk keabadian. 

Mungkin memang saat ini kita bukanlah siapa-siapa. Hanya seseorang yang hobi menguraikan kata dalam tulisan. Apalagi semakin banyak saingan dengan kemunculan penulis baru dan tenar. Ini bukan tentang siapa yang menyukai dan tidak. Jika sang pembaca tidak menyukai apa yang kita tuliskan. Setidaknya diri sendiri adalah orang yang pertama dalam menyukai tulisan sendiri. 

Setiap orang memiliki jenis bacaan tersendiri. Jika hari ini belum ada yang bersedia singgah untuk membaca tulisan kita. Tidak masalah, mungkin suatu hari nanti akan ada orang yang datang dengan senang hati membaca apa yang kita tuliskan. 

Oke, kita kembali ke topik awal tentang perjalanan menulis. Jujur, sewaktu kecil tak terpikir sama sekali untuk menjadi penulis. Tapi setelah memasuki dunia perkuliahan malah suka menulis. Mungkin, ini efek kebanyakan nulis jurnal pada masa itu. Jadilah sebuah tulisan tentang perasaan yang tidak dapat diungkapkan secara lisan. (#Plak)

Awalnya, hanya sekadar iseng-iseng mengikuti kegiatan mahasiswa eksternal yaitu Komunitas Penulis Anak Kampus. Kemudian saya belajar menulis puisi terlebih dahulu. Ternyata menulis puisi pun harus ada ilmunya untuk mendapatkan tulisan terbaik seperti penyair lainnya. Setelah itu, takdir mempertemukan saya dengan sebuah aplikasi yang berwarna jingga. Kalau orang bilang Wattpad. Aplikasi ini adalah aplikasi yang tidak asing lagi bagi kalangan penulis. Nah, berawal dari situ membuat saya semakin semangat dalam dunia tulis-menulis. 


Tahun berikutnya saya mengikuti kegiatan mahasiswa eksternal juga yaitu tentang kepenulisan ilmiah. Hal ini saya lakukan karena jurusan yang saya miliki memang sebenarnya dari ilmu pasti, yaitu eksata. Jadi, saya mencoba untuk menyelami diri saya di sana. Sampai sekarang saya masih belajar untuk mencintai bidang pendidikan yang sedang saya tempuh.

Puncak dari kebahagian yang tak dapat terdefinisi adalah ketika berhasil menerbitkan sebuah buku yang berjudul Scrapbook 20. Kira-kira covernya seperti ini kalau kalian pada ingin membelinya. Bisa juga membeli langsung di https://bakbuk.id/search dengan mengetikkkan judul. 
Sumber gambar : dokumentasi penulis

Waduh, jadi sekalian promosi nih. Hihi ... Ini diterbitkan pada tahun 2018. Kalau tahun 2019 saat ini. Doakan saja ya semoga bisa ada yang terbit lagi. Soalnya penulis sendiri juga sedang berusaha menerbitkan Skripsi. Walaupun sekarang ini belum ada ditulis.  Tapi sedang diusahakan. Ini diterbitkan cetak. Kalau mau beli ke penulisnya langsung dan mendapatkan tanda tangan bisalah. Kebetulan masih punya stok dua buku lagi. Silahkan nanti hubungi saya saja. 

Sebenarnya pada tahun yang bersamaan pula. Karya saya yang pertama itu terbit di google book terlebih dahulu. Buku ini diterbitkan oleh Gee Publishing. Hanya tersedia dalam bentuk e-book. Jadi, lebih mudah dibawa ke mana-mana dalam bentuk dokumen di ponsel ataupun laptop.


Sumber gambar : dokumentasi penulis

Sebenarnya panjang juga kalau diceritakan ya kan. Mungkin terbesit sebuah pertanyaan tentang kenapa dan bagaimana. Kalau kepanjangan bisa bosan karatan. #plak. Tergantung sesuai selera ya kan. Hanya inilah momentum yang paling berharga yang bisa saya sampaikan. Tapi, jika kalian ada pertanyaan bisa langsung berkomentar di kolom yang sudah disediakan. 

Salam literasi
Harumpuspita

Membaca Vs Menulis

Sumber gambar : literasipribumi.wordpress.com

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. 
Rasanya tak akan lengkap bila tak diawali dengan sapaan dan salam. 
Hai sahabat pena di mana pun kalian berada. 
Alhamdulillah kali ini saya balik lagi untuk membicarakan sesuatu. Ehem, hati ingin berkata banyak melalui kata-kata di dalam tulisan ini. Namun, rasanya hanya basa-basi tak tentu arah. Maklumlah namanya juga penulis yang kadang kurang waras dengan tema lawas.

Oke, baiklah kita akan langsung mengarah pada pembicaraan kita kali ini, yaitu membaca VS menulis. 

Ada beberapa orang yang hobinya membaca saja, menulis saja, atau malah keduanya. Menurut kbbi.web.id, membaca adalah kegiatan melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau dalam hati). Kalau hanya sekadar melihat saja tapi tak memahami apa yang tertulis berarti tidak sedang membaca. Alias tengok-tengok atau lihat-lihat saja. Tapi, menurut saya sendiri sekadar melihat saja juga sudah termasuk kegiatan membaca. Sebab, terkadang ada juga tulisan berat yang belum sampai pengetahuan kita untuk membacanya. Kalau diilustrasikan seperti halnya kita mau mengambil buah tapi tangga tak cukup tinggi untuk menggapainya. Apalagi jika menggunakan bahasa asing yang terjemahannya sama sekali tidak tahu. Ya sudah deh, kirim salam saja sama tulisan yang tertulis.

Menulis adalah kegiatan menguraikan kata-kata dalam bentuk tulisan. Kalau menurut kbbi.web.id sendiri, menulis adalah membuat huruf angka dan sebagainya dengan pena, kapur, dan lain-lain. menulis juga diartikan sebagai melahirkan pikiran atau perasaan. Jadi, intinya menulis itu bebas. Terserah apa saja yang mau ditulis. Sebab kertas-kertas itu tidak akan pernah mengeluh seberapa banyak kata yang tertulis. Waduh, maaf ya jadi puitis begini. Tapi, kalau kegiatan menulis bagi seorang penulis adalah kegiatan yang paling menyenangkan. Apalagi kalau idenya sudah mengalir. Seperti air yang selalu berjalan mengikuti arah arus. 

Kegiatan membaca dan menulis adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Biasanya tulisan adalah bentuk implementasi dari apa yang pernah dibaca. Jadi, semakin banyak seseorang membaca. Maka semakin banyak pula kosakata yang ia miliki dalam menulis. Alias tidak kaku dalam menuliskannya. Tapi, ini tergantung apa yang penulis baca dan rasakan juga. Jika, tulisannya seperti monoton atau bergerak di situ-situ saja. Mungkin kurang beragam eksplorasinya dalam membaca. Apalagi kalau hanya membaca dari tulisan penulis favorit saja. Bisa jadi kerangka tulisan dan gaya bahasa mengikuti penulis favorit tersebut. Kalau orang bilang istilahnya ngikut-ngikut. Sebenarnya ini menguntungkan jika kualitas tulisan tersebut terbaik. Jadi, kita bisa mengikuti yang baiknya. 

Tapi, hal yang menarik lagi adalah penulis yang menjelajah ke beberapa penulis lainnya. Ia bisa melihat dan menilai gaya tulisan masing-masing. Sehingga penulis ini bisa menemukan gaya tulisannya sendiri dalam menulis. Senyaman dan semenyenangkan hati. Apalagi pengetahuannya semakin beragam seperti halnya menjelajah keliling dunia. Jadi, benar ya istilahnya keliling dunia melalui jendela kata. Tak perlu biaya yang mahal. Kita bisa tahu informasi tersebut. Apalagi internet sudah menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan. Maka, manfaatkan saja apa yang ada dengan sebaik-baiknya.

Perumpamaan menulis dan membaca bagi penulis itu seperti bernapas. Membaca adalah kegiatan menghirup udara. Sedangkan Menulis adalah kegiatan mengeluarkan udara. Hal tersebut pasti melalui sebuah proses yang panjang. Bagaimana aliran udara, yaitu oksigen bisa dialirkan ke seluruh tubuh. Membaca dan menulis adalah milik semua orang. Setiap orang bisa melakukan ini tanpa ada yang perlu mengusik. Maka orang yang bisa membaca dan menulis adalah orang-orang yang beruntung. 

Oke, mungkin sampai di sini dulu ya pembahasan kita kali ini. Selanjutnya saya akan menuliskan tentang pengalaman menulis. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. 

Rasa yang Bersemi Vs Pemantik Semangat


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kali ini saya akan berbincang sejenak tentang rasa yang bersemi vs pemantik semangat. Ada yang pada penasaran nggak itu tentang apa sih? Jangan-jangan tentang cinta lagi. Jika kalian berpikir seperti itu. Sudah pasti benar. Namun, ini adalah kondisi yang berbeda. Makanya ada kata vs alias rival. Itu menurut saya sih.

Ada banyak yang bisa dianalogikan dari hal ini. Pertama sekali saya akan membahas tentang rasa yang bersemi. Seperti musim semi dengan segala keindahan yang ada. Bunga yang bermekaran. Serta suasana yang begitu romantis saat terlibat di lingkungannya. Namun, setelah musim semi kita memang harus bersiap musing gugur. Pada daun yang tak membenci angin. Bunga yang layu menutup senyumnya mengembang. Kemudian akan tergantikan pada musim dingin yang berujung salju. Seperti itu pula perasaan manusia kadangkala dalam konfliknya.

Seperti pula perasaan bahagia yang akan menemukan titik kebosanan setelah merasakan simpati bahagia. Tapi rasa yang berguguran itu bukanlah tanpa sebab. Melainkan sebuah alasan yang akan menerpa tiba-tiba. Kita tidak pernah tahu kapan datangnya. Bagaimana pula bentuknya. Siap-atau tidak siap kita memang akan menghadapi situasi ini. Bahkan tak ketinggalan pula segala bentuk puisi untuk menguraikan perasaan ini. Kira-kira seperti itu tentang rasa yang bersemi.

Lalu bagaimana dengan pemantik semangat?

Kata pemantik bisa dianalogikan dengan api. Alat untuk mengeluarkan api adalah pemantik. Tentunya ini bisa digunakan untuk membakar sesuatu. Bisa saja menjadi sesuatu yang berguna seperti memasak atau memberi kehangatan saat membakar. Bisa juga sebagai alat penerang jika diberikan pada sesuatu yang membuat cahaya itu bertahan. Misalnya lilin. Dapat disimpulkan bahwa pemantik api ini dapat menjadi sesuatu yang berguna jika digunakan secara baik dan waktu yang tepat. Namun, bisa pula menjadi bahaya jika digunakan untuk niat yang salah.

Begitu pula pemantik semangat yang dianalogikan dalam kehidupan. Pemantik itu berisikan api penyemangat hidup yang memberikan penerangan bahkan kehangatan. Tergantung bagaimana kita bisa menyikapinya. Pemantik semangat ini tak butuh kata-kata untuk bisa menjadikannya ada. Melainkan sebuah sugesti bahwa ia ada menyemangati dalam diri. Pemantik semangat ini bentuknya tidak tampak tapi sebenarnya ada. Walaupun begitu tetap segala bentuk yang mengisyaratkan sebuah maksud ada baiknya melalui sebuah kata yang terangkai.

Jadi, dari kedua sisi yang kita bahas antara rasa yang bersemi dan pemantik semangat adalah sama. Sama-sama memberikan sebuah kebahagiaan dan memberikan dampak tersendiri. Hanya saja ranahnya berbeda. Bisa saja berhubungan dari rasa yang bersemi kemudian memberikan sebuah sugesti berupa pemantik semangat. Bisa juga dalam situasi yang berbeda.

Sepertinya cukup itu yang menjadi pembahasan kita kali ini. Jika kalian ada yang ingin diutarakan atau menanggapi hal ini bisa komentar pada tempat yang disediakan.



Tips Membangkitkan Semangat Diri-Part 1

Kamis, 8 Mei 2019



          Semua orang pasti pernah merasakan sangat malas pada suatu waktu. Jika dibiarkan seperti ini terus-terusan. Kualitas diri akan menurun. Pastinya orang yang produktif akan bersedih. Seperti halnya penulis sendiri. Ada banyak rancangan yang sudah dibuat. Misalnya menulis karya ilmiah atau membersihkan rumah.
         Jika membaca atau melihat tidak lagi membangkitkan gairah semangat dalam beraktivitas. Mungkin dengan cara menulis dan menguraikan sesuatu yang tersimpan adalah salah satu alternatif. Selain itu, tulisan yang dibuat pasti akan meninggalkan jejak.
        Dalam diary tentulah tidak ada sesuatu yang ditutupi baik itu dari luar maupun dari dalam. Sehingga penulis dengan senang hati membagikan pengalaman kepada pembaca diary. Ada niat tersendiri. Selain meninggalkan jejak, penulis ingin menginspirasi baik itu penulis sendiri maupun pembaca diary.
      Sebenarnya banyak yang ingin penulis bahas. Namun, rasa takut berupa ketidaksiapan kepada yang hadir di kemudian hari membuat penulis enggan untuk beranjak dan melakukan sesuatu. Apalagi hati sudah tidak takut dengan batas akhir maupun kesempatan yang hilang.

    Oke, baiklah kita kembali kepada tema hari ini tentang Tips Membangkitkan Semangat Diri
1. Memulai dari Hal yang Kecil
     Ada banyak yang bisa kita lakukan dari hal ini. Termasuk melibatkan suatu kata berupa 'paksaan'. Ya, mungkin ada gejolak tersendiri saat diri memaksakan sesuatu yang tidak disukai. Selagi ada hati yang mendukung untuk memaksakan diri. Kemungkinan keberhasilan jauh lebih besar daripada tidak ada perlakuan. Apalagi bagi orang yang dominan perasaan daripada logika,  Misalnya, memaksakan diri untuk mandi atau membersihkan rumah terlebih dahulu sebelum bekerja dan belajar. Sebenarnya bagi penulis sendiri hal ini adalah sepele karena tidak memprioritaskan keindahan dan kerapihan. Namun, penulis sadar bahwa hal ini adalah suatu kesalahan yang tidak boleh dibiarkan terus-terusan.
2. Memberi Jeda Sesaat
  Mungkin memberikan suatu kesempatan untuk tenang bagi diri adalah sesuatu yang wajar. Setelah melalui aktvitas atau ujian yang hadir dalam kehidupan yang membuat diri merasa lelah. Jika hal itu terjadi maka biarkanlah hati mencoba untuk tenang. Misalnya mendengarkan instrumen beberapa menit sebelum melaksanakan aktivitas. Istilahnya menghargai diri sendiri untuk tenang. Mungkin juga bisa merenungkan mimpi atau apa yang sudah dilakukan selama ini. Tips kedua ini sebenarnya lebih mengarah kepada merilekskan diri untuk mengumpulkan atau menggali lagi semangat yang ada. Tapi penulis sendiri tidak menyarankan untuk tidur. Sebab tidur jika membawa sebuah masalah yang belum selesai malah masalah juga tidak akan selesai.
3. Stalkingin Pemicu Semangat
    Kalau memang diri termasuk orang yang butuh semangat kalau dipanas-panasin. Mungkin menstalker orang yang bisa membuat termotivasi diperbolehkan. Bukan karena sebuah kekaguman melainkan pemicu untuk menjadi yang terbaik setidaknya seperti seseorang. Misalnya termotivasi dengan BJ Habibie dalam ilmu pengetahuan. Kita bisa membaca lagi jalan kehidupan seseorang tersebut. Masih banyak lagi yang bisa kita telusuri boleh jadi dari orang yang saat ini maupun orang terdahulu. Orang-orang terdahulu banyak yang bisa diteladani. Kalau dalam muslim sosok Rasulullah selalu menjadi idola. Kuncinya selalu mengambil hal yang positif kepada apa yang menjadi pemicu semangat.

Oke, mungkin ini saja dulu sebagai pemanasan untu memicu semangat diri. Masih ada banyak lagi yang bisa membangkitkan semangat diri. Jika ada pertanyaan atau masukan boleh komentar. Insyaa Allah kita akan membahasnya bersama.

Jangan Takut Untuk Memulai

Assalamualaykum sahabat blogger. Saya kembali lagi mengisi diary harumpuspita.
Oke sebelumnya tulisan ini ingin saya terbitkan menjadi sebuah artikel. Namun, sayang sudah ditolak. Daripada saya ajukan lagi setelah itu dioffline-kan. Lebih baik saya posting di sini.
Selamat membaca!
Jangan Takut Untuk Memulai
Sumber gambar : wanitawirausaha.com
Pernahkah kalian merasakan takut untuk memulai sesuatu? Misalnya memulai untuk mengerjakan hal yang tidak biasanya dilakukan. Bisa saja ketakutan itu datang karena diri belum siap untuk mengerjakannya atau ketakutan atas ketidakmungkinan yang belum terjadi.
Contohnya penulis sendiri. Sebelum menuliskan artikel. Penulis merasa sangat takut untuk mencoba. Takut akan akan salah, tidak pandai, dan melakukan kesalahan. Ketakutan itu sendiri yang membuat diri enggan bertindak dan hanya berdiam diri. Namun, jika ada niat dan tekad kuat. Semuanya akan berubah. Ketakutan itu sendiri akan bertransformasi menjadi keberanian.
Hal ini ibarat diri berada di depan sebuah pintu rahasia. Diri belum tahu apa yang akan terjadi di balik pintu tersebut. Sedangkan imajinasi kemungkinan terburuk sudah mempengaruhi diri. Jika hal itu terjadi maka cobalah untuk memulai memasuki pintu tersebut. Mungkin diri awalnya akan merasa sakit karena terkejut belum terbiasa. Namun, setelah memasukinya diri tidak akan tahu bahwa kenyamanan akan datang dengan sendirinya. Bahkan diri sudah terbiasa untuk melakukannya.
Setelah diri berhasil melewati pintu tersebut barulah hati terasa senang. Ya, kehidupan memang seperti itu. Ada banyak yang ingin diimpikan namun untuk beraksi terkadang enggan. Cobalah untuk melakukannya sekarang jika ingin menggapainya. Jangan menunggu dari tanggal sekian atau momentum tertentu. Kita tidak pernah tahu kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya. Bisa saja lebih lambat dari yang direncanakan atau malah sebaliknya. Kita juga tidak tahu atas apa yang terjadi pasti di masa depan. Kita memang perancang yang baik. Namun, sang Kuasa tetaplah penentu terbaik.
Apa pun itu, jangan takut untuk memulai khususnya pada hal kebaikan. Bukalah hati pada dunia agar diri bisa tahu rahasia apa yang tersembunyi di luar sana. Kemudian lapangkan hati untuk menerima apa yang akan terjadi di masa depan nanti. Karena sesuatu yang baik bagi diri belum tentu baik bagi sang Kuasa, begitu pula sebaliknya. Hal yang terpenting adalah diri selalu berprasangka baik. Agar nikmat kesyukuran menyatu dalam diri.
Itulah yang dapat penulis tulis kali ini. Bersemangatlah untuk memulai sesuatu yang baru.
Sumber : Pengalaman Pribadi