Laptop, Gawai, dan Canva: Perjalanan Kecil untuk Kembali Berkarya

Laptop, Gawai, dan Canva: Perjalanan Kecil untuk Kembali Berkarya
Gambar 1. Ilustrasi alat berkarya

 Sat, set, set. Siapa sih jadi orang yang nggak mau sat set set. Yes, saya sekarang sedang terobsesi ingin menjadi sat set set aja gitu. Walaupun saya ini terbilang tipenya lambat dan bahkan apa-apa serba menjadi bagian yang terakhir dalam mengumpulkan tugas.

Bukan perkara lambat belajar, tapi bingung aja gitu mulai dari mana. Yah, anggaplah tulisan kali ini tuh berupa perkenalan. Setelah sekian lama nggak ngetik dan curcol tentang apa saja yang dilalui. 

Kalau boleh dibilang ya, banyak banget hal terlewat yang belum sempat diceritakan. Melalui artikel ini, saya akan memulai kembali bagian-bagian terlewatkan atau yang sedang berantakan. 

Emang Selama Ini Kenapa ya?

Kalau ditanya kenapa? Saya bisa bilang tidak sedang baik-baik saja. Guncangan diri, terlebih lagi dalam mengendalikan emosi dengan pekerjaan itu membuat saya jumpalitan. Bagi saya ujian yang datang pada diri itu sangat memilukan. Bagi orang lain pasti itu tidaklah seberapa. Namun jejak-jejak kepedihan dalam hidup sesungguhnya membuat saya begitu rapuh bahkan untuk menulis dan berkarya saja saya tak bisa. Sampai pada titik akhirnya, saya berproses dan memiliki mindset yang berbeda dari diri saya 5 atau 10 tahun yang lalu. Maka begitu saya berani menuliskan artikel ini, saya seolah nostalgia bagaimana rutinitasi 5 tahun yang lalu. 

Karya adalah Bentuk dari Baik atau Tidaknya Diri

Berbagai perhitungan mulai saya pikirkan. Dulu saya rajin sekali untuk mendesain, tapi sayang. Keyboard saya tuh belum sampai 3 bulan sudah rusak duluan. Rasanya sebal saja gitu, bolak-balik ganti keyboard internal dan saya pun memutuskan untuk beli keyboard eksternal. 

Seperti biasa, saya kira itu merupakan awal yang baik. Ternyata tidak juga, dikarenakan keyboard internalnya yang lengket. Ketika saya mengetik, jendela layar sering kali terbuka ntah apa-apa dan membuat saya begitu malas untuk melakukan rutinitas pekerjaan desain melalui canva lagi. 

Saya membuat ultimatum pada diri untuk tidak bergantung pada performa laptop yang saya pikir kalau dari gawai toh bisa juga. Akhirnya saya memberanikan diri dengan gawai, walaupun performanya lambat. Hingga pada akhirnya, tuh aplikasi di canva tidak bisa login dengan menggunakan akun belajar abang saya. 

Pada saat yang bersamaan pula LCD gawai yang bisa login akun belajar tuh rusak. Jadi, lengkap aja gitu penderitaannya. LCD dan Keyboard rusak. Auto berpikirlah pula saya ratusan kali. Enggak juga menemukan titik terangnya. Sebab, ketika melihat bajet, saya memang harus memilih untuk mana lebih didahulukan antara keyboard atau LCD. 

Bagi saya tuh keduanya amat penting sekali. Laptop amat mendukung performa saya sebagai penulis dan desainer. Gawai pun mendukung performa saya sebagai konten kreator. Hingga akhirnya kebutuhan itu sendiri yang membuat saya tiba-tiba sat set set keluar biaya tanpa berpikir panjang dan kini keduanya sudah bisa digunakan seperti semula. 

Canva, Aplikasi yang Paling Menyenangkan untuk Diulik

Sebelum tenarnya Canva saat ini. Sejak tahun 2019, saya memang sudah mencobanya kian. Hanya saja kurang kreatif saja nih. Terbilang biasa mah desainnya yang penting asal jadi dan nggak berpikir untuk eksplore lebih lanjut terkait desain mendesainnya. Jadi, kalau hanya persoalan tentang saya sudah terbiasa dengan fiturnya. Harusnya iya. 

Perkembangan Canva pun ternyata melesat dari dugaan. Hingga sekarang masih bisa tetap eksis dan bahkan ada yang namanya Canvasador. Salah satu Canvasador yang saya tahu adalah mbak Tanti Amalia. Ia sangat menyukai perihal Ilustrasi Canva. Tak perlu diragukan lagi tentang desainnya, pasti pada cakep-cakep kalau bisa ditunjuk sebagai Canvasador semenjak tahun 2024. 

Hei, sekarang ini sudah tahun 2026 loh. Termasuk lama juga ya. Beliau juga aktif membagikan tulisannya perihal kesehatan mental di Blogger Lolita.

Karya Merupakan Bentuk Terapi Jiwa

Bagi saya karya itu merupakan representatif diri. Bagaimana keadaan diri, itulah apa adanya dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Bahkan tulisan sekalipun juga begitu, walaupun tulisan lebih kompleks dibandingkan ilustrasi kanvas. Kanvas bentuknya lebih tenang dan syahdu ke jiwa hingga memberikan rasa tenang. Sementara tulisan ya tergantung pikiran yang diutarakan. Walaupun bisa juga 'rasa' yang diungkapkan. Setidaknya ini merupakan cara yang lebih baik dibandingkan bercerita kepada orang yang salah. 

Latest
Previous
Next Post »