Persoalan tentang tertinggalnya ranah digital sebenarnya tidak begitu menakutkan. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya konsepnya serupa hanya tergantung terbiasa atau tidaknya kita berkecimpung di ranah digital tersebut.
DELAPAN TAHUN DI RANAH DIGITAL
Banyak orang yang terutama berusia lanjut selalu mengeluh bila berlama-lama dalam menatap layar. Bahkan tak jarang juga yang masih kanak-kanak ketika ia menatap layar matanya sudah menyipit untuk mendapatkan fokus dalam melihat layar.
"Masih nampak kah?" ucap Pakde yang berusia menuju setengah abad saat berkunjung ke rumah.
"Nampak dong," jawab saya seketika sembari sesekali melihat layar yang jaraknya kurang lebih 80 cm dari mata.
Meskipun layar jauh sekalipun tulisan kecil masih tetap kelihatan. Pakde mendekati dan melihat aktivitasku. Seketika aku menyesaikan ukuran layar dengan cara memperbesarnya melalui keyboard.
"Kayak gitu Nak, kerjanya di rumah, perempuan nggak perlu harus ke mana-mana. Bapak pun nggak khawatir. Kerjanya selalu di rumah." Begitulah Pakde yang menyampaikannya pada putrinya masih Sekolah Menengah Pertama kelas 3.
Momen ini sesungguhnya membuat saya terharu. Ternyata ada orang tua yang mendukung pekerjaan seperti ini. Meski dari rumah bukan berarti tidak bekerja. Kalimat pengakuan seperti itu, bila suatu hari sang anak memilih pekerjaan yang seperti ini. Insyaa Allah karirnya pasti akan lebih cepat melesat.
Delapan tahun berkecimpung di dunia digital memang tidaklah mudah. Apalagi tidak ada dukungan orang-orang sekitar. Meskipun jalannya lama, sedikit demi sedikit orang sekitar akan paham. Hanya perlu membuktikan bahwa di jalan ini diri bisa berjalan sebagaimana layak seperti orang lain. Meskipun penghasilan tidak konsisten seperti orang lain. Suatu masa pasti akan mencapai titik puncak penghasilan dan pada saat itu semoga yang sudah terbiasa mengolah keuangan bisa mengantisipasi kemungkinan di masa depan.
Saat Ide Berkembang Mata Menjadi Target Gejala Mata Kering
Produktivitas di dunia Freelancer memang tidak mudah untuk dilalui. Jatuh bangun pasti ada, tapi yang jelas pada di masa ide-ide berkeliaran. Pada saat itu pula kadang diri suka banget lupa bahwa ada tubuh yang harus diberikan porsi istirahat. Termasuk halnya mata, area yang paling penting dalam melakukan aktivitas pekerjaan. Seperti menulis, mendesai, ataupun mengedit.
Saking semangatnya kadang waktu yang dibutuhkan dalam satu hari rasanya sangat kurang untuk mengerjakan proyek yang sedang dikerjakan. Tanpa sadar mata kering dan bahkan bila tidak atasi menjadi perih.
Sebenarnya di awal-awal tuh sebelum mata perih karena kering memang sudah terasa gejalanya. Tak nyaman. Padahal ini adalah tanda #MataSePeLeJanganSepelein menjadi alarm buat diri bahwa ini harus segera diatasi. Kan sayang tuh nanti waktu ke depannya kalau dipaksa, tadinya bisa cepat kelar malah terbengkalai pekerjaan yang mengharuskan diri untuk istirahat total.
Sebelum itu terjadi, sebenarnya kita tuh bisa mengantisipasi sejak dini. Bahwa sebenarnya enggak harus nunggu mata sepet dan kering dulu barulah kita menyadari bahwa tubuh ini butuh istirahat.
Tips Tetap Produktif Anti Mata Sepet
1. Terapkan Aturan 20-20-20
Dulu pada saat ide bertebaran, saya pernah memaksakan diri untuk menulis tanpa jeda satu bab novel dalam waktu 1 jam. Namun setelahnya, saya menyadari otak begitu dipress sehingga setelahnya tak jarang pula saya akan terkapar dalam rentang lama. Karena pada saat menulis di keyboard kedua bola mata memang jarang menatap layar monitor, tapi ketika mengerjakan tugas dengan Hp mau nggak mau memang harus melihat layar dikarenakan belum terbiasa.
Selain rasa lelah karena otak harus berpikir. Masalahnya tambah di bagian area mata. Rasanya sepet dan enggak nyaman. Auto pejamkan mata. Eh, malah seringnya kebablasan tidur.
Salah satu aturan populer untuk menghindari mata sepet adalah atra 20-20-20 di mana setiap 20 detik sekali kita disarankan untuk melihat pandangan sejauh 20 kaki yang setara dengan 6 meter.
Peraturan ini diperkenalkan oleh seorang optometris yang bernama Dr. Jeff Anshell pada tahun 1990-an. Hingga kini peraturan ini banyak digunakan oleh banyak orang.
Tanpa saya sadari sebenarnya cara ini juga pernah saya terapkan dan tingkat produktivitas lebih banyak dibandingkan bila saya memaksakan diri untuk menulis. Ibarat orang habis lari maraton, istirahat sejenak untuk mengambil tenaga. Ketika menerapkan per 20 menit sekali maka akan terasa ringan. Tidak hanya di kinerja otak, tapi juga area mata dan punggung.
2. Pengaturan Layar Optimal
Awal-awal sih dulunya sebelum tahu tips lainnya supaya tetap produktif adalah dengan pengaturan layar, terutama di malam hari dengan mode menonaktifkan blue ray. Meskipun layar tampak kurang menarik tapi ternyata bisa membuat mata tidak cepat lelah.
Selain itu, pemilihan layar dengan mengaktifkan dark mode juga membuat mata ringan untuk melihat. Cocok untuk para programmer yang sedang membuat koding. Warna hitam pada dasarnya menyerap cahaya, sehingga membuat mata tidak cepat lelah. Sementara warna putih merupakan jenis warna polikromatik yang memantulkan banyak warna.
3. Posisi Kerja Nyaman
Bagi para pekerja kreatif digital. Posisi bekerja adalah hal paling utama. Selain situasinya kondusif. Sangat penting supaya membuat tubuh tetap sehat dan tidak cepat lelah. Khususnya pada area punggung belakang. Begitupun pemilihan kursi yang empuk, menyerap keringat, dan fleksibel bisa dinaik turunkan merupakan kursi paling saya sukai.
4. Istirahat Berkala & Peregangan
Nah, ini yang paling penting. Ketika sudah menghabiskan waktu 1-2 jam. Jangan lupa untuk mengambil jeda dengan peregangan supaya tubuh tidak kaku. Bila rasanya lelah, kita bisa memandangi tanaman hijau atau berjalan sebentar. Hijau selalu dikaitkan membuat rasa damai.
5. Sengaja Berkedip dan Tetes Mata
Sering berkedip bisa mencegah mata kering. Selain itu, bila terasa kering tetesin #InstodryEyes bisa menjadi solusi. Sehingga bekerja pun #Bebas Mata Kering. Produk ini bisa didapatkan di Indomaret, Alfamart, ataupun Alfamidi.
6. Berikan Nutrisi dan Jaga Hidrasi
Meskipun bekerjanya hanya duduk saja. Jangan salah, malahan bisa sakit ginjal karena kebanyakan duduk dan lupa minum air putih. Duduk saja, kok malah sakit pinggang ya? Begitulah yang saya rasakan sehingga mau tak mau harus selalu dekat dengan air putih. Supaya tidak lupa minum.
Itulah tips produktif yang saya jalani selama 8 tahun ini. Awal-awal hanya berani bekerja di layar laptop doang, tapi lama kelamaan muncullah masalah-masalah yang harus dihadapi.

