Hal yang Terlintas Diary Harumpuspita di Hari Pers Nasional


Hari Pers Nasional jatuh pada tanggal 9 Februari, bertepatan dengan hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia yang ditandatangani oleh Keputusan Presiden Soeharto No 5 tahun 1985 di masa Orde Baru.
Para jurnalis itu emang anti baper. Menulis dengan data, menganalisis dengan rasional, dan tidak memberikan pendapat pribadinya sendiri secara sekehendak hati.
Berbicara dengan kata jurnalis, ialah mereka yang menghabiskan waktu mencari informasi aktual dan terpercaya. Bahkan tak kenal waktu sekalipun. Bisa pagi, siang, atau malam sekalipun demi sebuah kebenaran berita. Jam terbang bisa dibilang sama seperti para penulis lainnya. Tidak menentu.
Meskipun saya bukanlah seorang jurnalis. Setidaknya saya pernah merasakan bagaimana berasapnya isi kepala para jurnalis atau wartawan pemula dalam mencari berita. Mereka harus benar-benar memastikan bahwa tulisan yang diterbitkan tidak mengandung SARA dan kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan.
Berikut ini ada beberapa hal yang terlintas di benak saya di hari Pers Nasional tahun 2022.

Pernah Menjadi Kontributor UC Media

Dulu, saya pernah menjadi kontributor dari UC Media. Ketika itu harus rajin sekali riset dengan membaca ragam artikel yang tersedia di mesin pencarian. Meskipun masuk ke dalam ranah lifestyle atau yang biasa disebut sebagai gaya hidup. Sesekali di dasbord saya terpampang sebuah misi yang harus diselesaikan tentang sebuah berita tertentu. Tujuannya ya satu, ada bonus dalam menulis topik tersebut. Tema yang pernah saya ambil di antaranya tentang berita longsor dan juga politik. Mau tidak mau, saya menghabiskan banyak data untuk menggali kebenaran dari data yang tersedia. Sehingga, saya sendiri pun kalang kabut ketika menghabiskan kuota yang bisa menguras kantong. Padahal waktu itu posisi saya masih merupakan mahasiswa. Lumayan bisa menghabiskan puluhan Gigabyte. Waw, sungguh perjuangan yang sangat membuat saya tersenyum saat ini. Padahal dulunya tema yang bernuansa politik adalah hal paling dihindari. :D

Walaupun begitu, saya hanya berhasil mendapatkan satu dolar saja dengan hasil pekerjaan saya dan sekitaran dua puluhan artikel sudah saya tulis. Namun tidaklah mengapa, sebab hal itu sebagai pembelajaran bagi saya dalam menulis sebuah artikel yang bisa diacc oleh editor UC Media. Kini, saya tidak lagi menjadi kontributor di sana disebabkan sudah tidak beroperasi lagi websitenya. Meskipun tidak sempat menarik penghasilan saya yang satu dolar itu. Entahlah, saya pun tidak tau itu disebabkan apa.

Pinocchio, Reporter yang Dekat dengan Jurnalis

Suka banget dengan drama yang satu ini. Ada seorang lelaki yang cerdas, tetapi tidak menunjukkan dirinya cerdas di hadapan banyak orang dan seorang cewek yang tidak bisa berbohong. Jika berbohong ia akan cegukkan dan ketahuan oleh orang lain. Mereka berdua berprofesi sebagai reporter. Drama ini merupakan drama rekomendasi banget di hari Pers ini. Seru dan menarik, apalagi keseruan mereka dalam mencari berita. Duh, jadi nostalgia deh ingin nonton lagi sayanya.

Pernah Review Novel The Jurnalist Karya Kak Mita

Saya baca karya ini pertama kali melalui aplikasi Storial. Sebuah kisah yang pastinya penuh dengan teka-teki di mana ada Nadine sendiri merupakan orang yang berbeda dari kebanyakan anak calon Gubernur. Tidak menggunakan kekuasaan. Ia memilih sebagai jurnalis yang mana keselamatannya sendiri dipertaruhkan. Jadi, emang para jurnalis itu menjadi perhatian orang-orang tertentu ya walaupun ia juga memperhatikan objek pekerjaannya.

Setelah membaca karya beliau. Alhamdulillah saya mendapatkan hadiah berupa koin emas yang bisa digunakan untuk membaca bab premium karya lainnya. Jadi, lumayanlah ya. Semakin semangat membaca karya lainnya.

Kebebasan Pers Pada Masa BJ Habibie

Walaupun hari Pers ini disahkan oleh Presiden Soeharto. Saya juga baru tahu setelah resensi buku Habibie menerangkan bahwa pada masa beliau, wartawan itu dilindungi dan bebas dalam mengungkapkan berita. Bahkan beliau ramah dalam menyambut para wartawan.

Mbak Nana, The Host Mata Najwa

Siapa yang tidak kenal dengan Najwa Sihab. Seorang jurnalis sekaligus pembawa acara di Mata Najwa. Cara penyampaiannya yang sampai ke hati, buat merinding. Itulah pandangan saya tentang Mbak Nana. Ia tidak takut dan apa yang disampaikannya sudah dipikirkan terlebih dahulu. Saya paling suka dengan beliau yang netral dalam mengulik kebenaran. Mbak Nana bisa memposisikannya menjadi orang yang profesional dalam menyampaikan kebenaran. Apalagi seorang wanita yang saya tau perasaannya jauh lebih peka. Namun Mbak Nana mampu memposisikan dirinya sebagai jurnalis yang profesional.

Inilah yang saya ingat di hari Pers kali ini. Sebuah momen yang sepertinya ada untuk disampaikan. Sebab kehadiran kalian sungguh bermanfaat bagi banyak orang dan orang-orang pun menjadi tau akan kebenaran yang terjadi.

Hei para Jurnalis, kalian sungguh hebat sudah sejauh ini. Bisa mengungkapkan kebenaran dengan membawa berita yang teraktual dan terpercaya.

 

Diary Harumpuspita

Reviewing anything that comes to mind, especially about book reviews, platforms, and culinary. Once in a while inspired about the lifestyle, baking, and another else. I like traveling and learning a lot of things. Can speak English and like to share everything that I learn in this world. I like share it in my blog and sometimes in tiktok or youtube channel. My destinastion journey start from near my parent's house. In the real life. I am the Physics beginner, teacher elementary school, and still a college student in University state of Medan.

8 Comments

  1. Anak sulung kami tertarik sekali jadi jurnalis terutama bisa meliput di area konflik (baca: daerah milisi).
    Setiap diajak ngobrol dengan tema jurnalis, dan lain-lain selalu menggebu rasa ingin tahunya

    ReplyDelete
  2. Jurnalis itu profesi yang penuh tantangan. Apalagi jika menulis tentang politik dan sosial. Banyak riset yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum menulis artikel. Jika tidak, nanti hanya akan jadi berita hoaks yang dianggap dapat merugikan pihak-pihak tertentu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Paling utama kalau mau menjadi jurnalis itu mentalitas. Jadi, selow aja ya kan kalau diuji bagaimana ketika di lapangan.

      Delete
  3. kegemara menulisku muncul dari paman ku yang seorang jurnalis majalah nasional. Beliau mengatakan kalau mau dikenal dunia, menulislah nak. Selamat hari pers buat para penulis yang selalu menyebarkan kebaikan lewat tulisannya.

    ReplyDelete
  4. Eh pernah jadi kontributor buat UC ya Hen.. btw emang kalo jurnalis, yang terlintas sering Najwa Shihab sama pilem journalist itu ya Hen..

    ReplyDelete
  5. Dulu mikirnya jadi jurnalis itu keren sekali. Masa sekolah dulu pernah tergabung di tim mading sekolah.

    Saat ini masih suka nulis dan mewartakan apa yang terjadi di sekitar saya, opini atau pun apa yang saya alami.

    Selamat Hari Pers ya..

    ReplyDelete
  6. Terima kasih, dek... Ayo jadi jurnalis lagi. Sejalan dengan hobi menulis di blog lho. Enak banget jadi jurnalis. Cobalah

    ReplyDelete
Previous Post Next Post